🍉 New Baby

25.5K 636 98
                                        


64 || NEW BABY

Amsterdam, Belanda. 6 bulan setelahnya.

"Mmhh Bar kamu ngapain?" Perempuan yang masih setengah sadar setelah bangun dari alam mimpinya itu menggeliat tak nyaman ketika merasakan sesuatu yang terasa basah terus mengecup lehernya hingga ia merasakan sensasi geli yang menggelitik perut.

Bukannya berhenti setelah ditegur, laki-laki itu justru semakin banyak bergerak. Tak hanya lidah, tangannya pun ikut beraksi, meraba-raba tubuh perempuan yang berada dalam dekapannya.

"Mau sekali lagi, nggak?" Suara serak Barra datang menyapa gendang telinga, dan kalimat itulah yang pertama kali Alea dengar.

"Mau ya?" bujuk Barra, mendongak untuk menatap Alea dengan tatapan memohon. "Pwiss, sekali," gumam Barra tidak jelas lantaran masih menciumi leher jenjangnya.

"Semalam kan udah," balas Alea disertai lenguhan panjang. "Capek Barra," imbuhnya, meremas kencang rambut Barra seraya berusaha mengangkatnya agar menjauh dari lehernya.

"Capek ngapain sih?" heran Barra, mendongak dengan ekspresi bingung. "Kamu kan cukup diem aja aku yang gerak," sangkal Barra, masih terus berusaha membujuk, memperjuangkan keinginannya. "Ya Sayang?"

Cup.

"Sekali aja. Abis itu kita mandi."

"Tadi malam kamu juga bilang sekali sekali terus," gerutu Alea, menolehkan wajahnya untuk menghindari tatapan Barra. Juga malu jika Barra melihat ekspresinya yang mulai terbuai dengan sentuhan-sentuhan yang laki-laki itu berikan.

"Kan itu tadi malam, ini serius kok."

Tubuh Alea semakin menggeliat resah. Jari-jari kakinya menekuk, mencengkeram seprai saat merasakan kecupan bibir Barra tak lagi beraksi di lehernya, melainkan mulai turun menuju dadanya.

"Anggap aja hadiah wisuda kamu hari ini. Kamu tinggal diem kok Sayang, biar aku yang gerak."

Mengerti jika Alea masih belum percaya dengan janji-janjinya, maka Barra pun harus semakin berusaha membuat istrinya yakin. Kecupan demi kecupan terus ia berikan di seluruh wajah Alea.

"Sekali ya? A-ahh janji?" Sekuat tenaga Alea berusaha berbicara dengan normal tanpa meloloskan desahan karena mulai tak kuat menahan serangan-serangan kecil dari Barra. Sayangnya, ia tetap kalah seperti sebelum-sebelumnya. Dalam urusan ranjang, ia memang sedikit kesulitan mengimbangi laki-laki itu.

"Bar," panggil Alea, mengigit bibir bawahnya. Tangannya mencengkram erat ke-dua lengan Barra saat laki-laki itu mulai melakukan pemanasan.

"Urusan beginian, kayaknya aku ng-nggak cocok di samping kamu deh."

"Nggak sebanding," lanjutnya.

Barra hanya terkekeh tanpa suara mendengar keluhan Alea. Ke-dua tangannya lalu menopang punggung Alea, menariknya untuk duduk di atasnya.

"Ya udah kalau nggak cocok di sampingku, sini pangku aja," ucapnya begitu enteng dengan suara seraknya begitu berhasil mendudukkan Alea tepat di atasnya.

Alea hanya pasrah, bersandar lemas di bahu lebar suaminya, membiarkan laki-laki itu berbuat semaunya dengan tubuhnya.

Dor dor dor!

"Mamaa! Buka pintunya maa!"

"Shit. Ngapain sih itu tuyul, gangguin aja." Barra lah yang memprotes paling pertama begitu mendengar suara pintu digedor begitu keras, disusul suara teriakan anak kecil yang terdengar melengking.

Alea melotot tajam, tidak terima Juna dikatai tuyul oleh ayahnya sendiri. "Bar!" protesnya, memukul pelan punggung Barra.

"Ahh nanggung Sayangg, selesaiin dulu," rengeknya ingin mencegah saat Alea mulai mengambil ancang-ancang hendak berdiri meninggalkannya yang padahal sedang sangat membutuhkannya.

ALEA'S Journey Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang