35 || TERROR (2)
"Gimana bisa?"
Menatap pintu ruang ICU yang tertutup, perempuan berkuncir kuda itu menghela napas panjang. Saudaranya tengah terbaring melawan maut di dalam sana. Tiba-tiba dia merasa miris ketika ingat bagaimana kondisi terkini Alvino. Sekujur tubuhnya luka parah. Berbagai alat medis menempel di tubuhnya untuk menunjangnya agar tetap hidup.
"Dia dipukuli orang. Nggak tahu siapa. Pelakunya kabur setelah ngelakuin itu. Tapi polisi udah selidiki."
Di seberangnya, ibunya tengah menangis tersedu sembari ditenangkan oleh Dean---kakaknya yang kedua. Seharusnya ayahnya ada di sini. Sayangnya, pria itu tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan belum tiba sampai sekarang.
"Gimana kondisi perusahaan?" Alea tiba-tiba teringat akan ayahnya yang terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini.
Ketika melihat Alvian bungkam karena mungkin enggan memberitahunya, Alea menyentuh lengan pria itu.
"Aku mau tau, Kak. Aku mau tau kondisi tempat sumber keuangan keluarga kita."
Pria berkemeja navy itu menyandarkan tubuhnya di kepala kursi panjang yang tengah didudukinya. "Kata Dean, udah bener-bener anjlok ke bawah. Kemarin ratusan karyawan terpaksa diistirahatkan dulu. Gaji karyawan ada yang belum dikeluarkan sampai-sampai kemarin mereka demo langsung ke pabrik."
"Lalu, apa properti lain yang kita punya nggak bisa mengcover masalah ini? Butik Mama? Anak perusahaan yang dikelola Kak Dean? Kakak juga, kan, advokat. Klien nggak mungkin bayar murah kan? Apalagi kakak sering menangin kasus."
"Nggak seremeh itu, Alea. Itu semua masih belum cukup. Pendapatan kita itu cukup besar di perusahaan pusat, jadi waktu ada kerugian, sebanding besarnya sama pemasukannya. Bahkan kayaknya, saat ini, lebih besar kerugiannya. Karyawan juga nggak digaji kecil, dan jumlah mereka ada banyak."
"Terus gimana? Aku kasian sama Papa, tapi nggak bisa bantu apa-apa. Malah sering nambahin beban," gumamnya lirih, menunduk seraya meremas ujung roknya.
"Bantu doa aja. Kita pasti bisa atasin semua ini," ujarnya menepuk pelan punggung adiknya.
"Awalnya kenapa bisa gini, Kak? Kayaknya baru sekarang perusahaan dapat masalah seserius ini. Rekan bisnis Papa banyak. Setiap ada masalah, mereka pasti bisa bantu perbaiki. Kenapa sekarang nggak?"
"Sebenernya Papa larang kakak buat cerita sama kamu. Tapi kakak bakal tetap cerita, karena menurut kakak, kamu berhak tau."
Alea mendongak pada pria di sampingnya. Laki-laki itu memberinya kode untuk mencari tempat lain agar percakapan mereka tidak didengar oleh ibu juga saudara kembarnya. Bagaimanapun, dia sudah setuju pada semua anggota keluarganya untuk merahasiakan masalah tersebut pada Alea. Tapi malam ini, dia malah ingkar.
Begitu menemukan kursi kosong di kantin, ke-duanya langsung duduk setelah sebelumnya sudah memesan teh hangat untuk menemani mengobrol.
"Jadi?" tagih Alea begitu mereka sudah duduk berhadapan.
Terlihat, pria itu mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Ada keraguan yang hinggap di benaknya. Menepis segala keraguannya, Alvian akhirnya mantap bercerita.
"Beberapa bulan yang lalu, perusahaan mertua kamu ngajakin Papa buat kerja sama."
"Papa Barra? Beliau ajak Papa kerjasama?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALEA'S Journey
JugendliteraturUntuk sesaat, gadis yang saat ini tengah berdiri di balik jendela kamar seraya memegang cangkir seduhan coklat hangatnya itu memilih bersikap jahat dengan membenci Tuhan. Alea namanya. Ia telah salah mengambil keputusan untuk menemani sang sahabat...
