27. K o n s o l i d a s i

31.1K 3.7K 45
                                        

Saya mau tanya sesuatu jika kalian berkenan menjawab.

Apa jadwal updatenya ingin dirubah dari kamis dan minggu? Atau tetap saja?Sebenarnya, saya sendiri inginnya jadi tiga kali seminggu. Hanya saja, draftnya belum rampung sama sekali, masih jauh malah. Haha.

Saya belom sanggup sekarang. Gatau kalau nanti. Selamat menikmati :)

****

Setelah memarkirkan mobil Arin, Zelina mengambil tas Arin dan mengurus semua administrasi rumah sakit beserta asuransi yang Arin butuhkan. Ia juga sudah menyerahkan buku jurnal kehamilan Arin beserta sebuah file rekam medis yang ia temukan di dashboard mobil ke dokter.

Semoga saja hal itu dapat membantu menyelamatkan Arin.

Zelina tidak pernah tahu mengenai masalah kehamilan Arin karena wanita itu tidak pernah bercerita.

Sejak 10 menit lalu, Zelina masih terdiam di ruang tunggu di depan pintu gawat darurat bersama Damian yang tidak pernah pergi dari sisinya, sesuai permintaannya. Ia tidak peduli dengan tampangnya yang seperti orang gila. Ia hanya mau tahu kalau Arin dan bayinya selamat. Si Sialan Rafa tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.

"Damian.... Gue--"

"Kamu aman sekarang. Arin aman. Dia sudah ditangani."

"D-darahnya Arin ada di tubuh gue...."

Melihat betapa rapuhnya wanita tersebut, Damian pun memegang tangan Zelina dengan lembut. "Ayo. Kamu perlu membersihkan diri."

"Tapi, Arin--"

"Kamu sudah cukup membantu. Arin sedang ditangani. Nanti kita kembali lagi."

Zelina menoleh, menatap pintu ruang gawat darurat yang tertutup dengan sendu. Rasanya tidak rela jika meninggalkan Arin untuk berjuang sendirian. Namun, Zelina tahu bahwa Arin tidak akan suka melihatnya seperti ini dan Zelina tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk membantunya.

"Zelina? Kamu mendengar saya?"

Zelina pun mendongak, pikirannya sedang berkeliaran ke mana-mana. "Iya?"

"Ayo, kamu harus membersihkan diri."

Dengan ragu, Zelina pun mengangguk dan mengikuti Damian entah kemana. Ia membiarkan Damian menggenggam tangannya yang ditutupi darah kering tanpa banyak protes. Tenaganya sudah habis dan sejujurnya Zelina lelah sekali.

Sepanjang perjalanan melewati lorong demi lorong, taman, dan lift, Zelina hanya menatapi punggung Damian yang kokoh. Diam-diam, hatinya bersyukur atas kehadiran pria ini. Jika Damian tidak di sini, mungkin Zelina sudah hancur di lantai seperti orang gila.

"Tunggu sebentar." Damian mengusap puncak kepala Zelina sebelum ia memasuki sebuah ruangan bertuliskan 'male staff only'. Tak lama, Damian keluar dengan sebuah shower kit, handuk, dan sebuah kantung kresek kecil di tangannya. "Kamu bisa membersihkan diri di ruang staf perempuan. Bilang saja kamu teman saya."

"Gue ... gak bawa baju ganti."

"Di kresek ini ada pakaian saya. Kamu bisa memakainya."

"Lo serius minjemin gue semua ini?" Zelina menatap Damian tak enak.

"Kalau kamu tidak keberatan memakai barang milik pria?" Damian menaikkan bahunya gugup, takut Zelina merasa tidak nyaman. "Jangan khawatir. Saya tidak jorok! Handuk dan pakaiannya bersih, baru saja datang dari laundry pagi ini. Sepertinya akan terlalu besar untuk kamu. Tapi--"

"Makasih." Zelina memotong perkataan Damian dan memeluknya. "Makasih karena lo ada buat gue di saat seperti ini."

Secara natural, Damian pun mendekap tubuh rapuh Zelina kembali. "Anytime," bisik Damian sambil menempatkan dagunya di puncak kepala Zelina. Oh, ingin sekali Damian mengecup puncak kepala itu. Jaraknya benar-benar sangat dekat dan sedikit saja Damian menunduk, maka ia bisa mendaratkan bibirnya di sana.

ZelianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang