Hai.
Saya update bab ini sambil nunda tugas yang kebangetan banyak sama nungguin tukang bakso cuankie keliling. Kalau kalian lagi apa?
Btw, makasih untuk dukungan kalian yang.. cepet banget 👁👄👁 Makasih juga untuk pesan-pesan baiknya. I feel slightly better. Ya walaupun minggu ini masih berat banget rasanya. Pengen banget saya lompat ke minggu depan :(
Seperti biasa. Jangan lupa tekan bintang dan tinggalkan pesan baik. (pretty please, jangan tinggalkan pujian apa pun. Untuk seseorang yang jarang dipuji, saya ngerasa aneh dan bingung balesnya gimana 😳 Padahal kegiatan favorit saya belakangan ini balesin komentar kalian. Haha)
Selamat menikmati :)
****
"Ngomong-ngomong, kamu kerja di rumah sakit?"
Gerakan sendok Zelina terhenti. Aduh, Si Kirana ini bisa diam tidak? Zelina hanya ingin menyantap sarapan dengan tenang. Sudah cukup Zelina dibuat minder oleh fisiknya, ketenangan Zelina jangan sampai diusik!
"Gak, gue ngikut Papa," balas Zelina, memasang poker face andalannya. "Kenapa tanya gitu?"
Kali ini, mereka semua telah duduk bersama di meja makan berbentuk bundar dengan delapan kursi yang mengelilinginya. Sialnya, karena mengambilkan kopi tadi, ia harus terjebak bersama Kirana yang selalu menempel dengan Damian. Zelina jadi terpisah dengan keluarganya yang lain.
Dan parahnya, setelah mengambilkan sop ayam untuk Zelina tadi, si Damian undur diri ke toilet. Belum juga kembali hingga sekarang. Bisa-bisanya pria itu buang air saat ada dua singa betina yang siap bertarung di sini!
Kirana pun tertawa pelan. "Oh, gak. Aneh aja. Damian terlihat sangat dekat sama kamu."
"Aneh kenapa? Damian, kan, bebas mau deket sama siapa aja."
"Eh, jangan salah paham. Aku hanya pernah dengar, biasanya dokter dekat dengan dokter lagi karena kami jarang bisa gaul di luar rumah sakit."
"Stigma kalangan dokter?" Zelina berpura-pura dungu.
Bodohnya, Kirana malah mengangguk dengan semangat. "Iya. Kamu tahu, Zel? Dokter banyaknya berjodoh dengan dokter lagi."
"Oh, ya? Emangnya, kenapa?"
"Karena biasanya orang di luar dunia medis tidak paham apa yang kami bicarakan." Wanita itu menyeringai. "Contohnya saja; kasus pasien, penyakit, teknik medis terbaru."
"Hmm...." Zelina mengangguk asal. "Gak bosen?"
"Hah?"
"Emangnya gak bosen?"
"Maksud kamu?" Kirana mengerutkan dahi, entah dia tidak mengerti betulan atau pura-pura.
"Gini, deh." Zelina menghela napas lalu menoleh pada Erika dan Erlangga yang sedari tadi asyik menonton drama calon kakak ipar di hadapan mereka. "Erika, Erlangga, emangnya papa kalian kalau di rumah suka bahas pekerjaan? Pasien-pasiennya? Teknologi kedokteran terbaru?"
Sepasang anak kembar itu pun menggelengkan kepala pelan. "Kami gak ngerti, Kak Zel. Mungkin kalau sama Bang Dami, Papa pernah," ujar Erlangga.
Mendengar jawaban itu, wajah Kirana pun sumringah. "Betul kan apa yang aku bilang? Dokter nyambungnya sama dokter lagi. Pantas banyak yang berjodoh!"
"Eits, belum tentu, Kirana." Zelina menggelengkan kepala tanda tak setuju. "Menurut jawaban Erlangga tadi, gue tarik kesimpulan kalau orang tua mereka gak pernah bahas pekerjaan bareng. Pasti Buna--maksud gue, mamanya mereka gak ngerti juga tentang dunia medis."
KAMU SEDANG MEMBACA
Zelian
Chick-Lit[ Daftar Pendek dan Pemenang Penghargaan Watty Awards 2021 Kategori Chicklit] "Oke, kalau Anda tidak ingin saya obati sekarang tidak apa-apa. Tapi, izinkan saya menjadi teman Anda. Boleh?" **** Zelina Oliv Elmira adalah seorang akuntan berusia 28 ta...
