48. Scary Night

215 16 10
                                        

JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, AND SHARE:)

================================================================

Srettt

Pisau lipat itu menyayat-nyayat tangan Darren membuat kulitnya mengeluarkan banyak darah. Siapa yang melakukan? Jawabannya adalah Darren sendiri.

Di kamar mandi apartemennya laki-laki itu terlihat sangat kacau. Banyak luka lebam disekujur tubuhnya dan juga tersapat beberapa ruam kebiruan di wajah tampannya.

Tiba-tiba Darren merasa tercekik. Ia mencoba melepaskan tangan itu namun tidak bisa. Mendadak air matanya keluar karena paskokan udara yang terus menipis.

"Bodoh!" ucap seseorang yang bisa Darren lihat dari kaca besar di depannya. Darren yang melihat sosok itu membuatnya marah.

"Ba****t!! Pergi lo!!!" Darren lalu meninju kaca di depannya hingga pecah. Karena tindakan bodohnya itu tangannya pun terluka.

Badannya kemudian merosot ke bawah. Ia menangis lemah. Jujur ia merasa sangat lelah sekarang. Rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya saat ini juga.

Saat Darren hendak menusukkan pecahan kaca yang cukup tajam ke urat nadinya, tiba-tiba saja gawainya bedering membuat Darren mengumpat kasar. Tertera nomor asing di layar handphone-nya.

"Siapa?" tanya Darren dingin.

"Assalamualaikum Darren," salam perempuan di seberang sana. Mendengar itu Darren mengernyit bingung.

"Siapa?"ulang Darren lagi masih dengan nada dingin khasnya.

"Jawab salam dulu!" perintah perempuan itu lagi. Mendengar itu Darren berdecak sebal.

"Walaikumsalam. Siapa?!" jawab Darren dengan terpaksa.

"Rinjani, Darren."

"Ngapain?" Darren to the point.

"Ngga papa sih, gabut aja. Biasa, banyak pulsa, hehe." Rinjani berucap tanpa rasa bersalah. Darren yang mendengar itu hanya memasang raut murka. Ia terpejam sebentar, mencoba meredakan amarahnya.

"Kok diam sih?" tanya Rinjani lagi.

"Kalau ngga penting ngga usah nel--"

"Penting kok penting banget. Yuk ketemuan," potong Rinjani dengan cerewetnya. Darren mengusap wajah gusar.

"Males!"

"Males kenapa emangnya?" tanya polos Rinjani membuat Darren lagi-lagi mengumpat.

"Ajak aja yang lain. Gue sibuk!"

"Hm, Darren mah ngga asik!" protes Rinjani diseberang sana. Buru-buru Darren mematikan teleponnya.

Ditempat lain seorang laki-laki tengah duduk di kusi kebesarannya dengan tangannya memagang kaleng soda. Laki-laki itu medeguk soda hingga tandas tak bersisa. Malam ini mood-nya sedang bagus.

"Ngga sabar buat besok," gumam laki-laki itu lalu tersenyum sinis dan melempar badannya ke kasur kingsize untuk terpejam agar ia cepat-cepat bertemu hari eaok.

***

"Hm, waktu tuh cepat banget ya Ren .Tau-tau udah kelas dua belas. Padahal kek baru kemarin UAS, classmetting, terima rapor terus libur dua minggu. Eh, sekarang udah masuk sekolah aja." cloteh Rinjani kepada Darren. Saat ini mereka menuju ke kelas barunya, kelas 12 MIPA 1 di lantai tiga. Mereka sebelumnya tak sengaja bertemu di gerbang sekolah. Dan berakhir dengan Rinjani menyusul Darren ke parkiran agar bisa pergi bersama ke dalam kelas.

CRIME LEADER [HIATUS]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang