8. Pink Towels

707 98 33
                                    

Happy Reading😊

Hari Senin. Hari yang paling di enggani oleh semua siswa siswi di bangku sekolah. Sebab pada hari ini semua murid dituntut untuk berangkat pagi guna mengikuti upacara bendera. Siapa saja yang terlambat akan dikenakan sanksi. Sanksi berupa berdiri di dekat tiang sang saka dengan menghadap lurus ke depan sembari meunjukkan sikap sempurna. Bagi siswa normal peristiwa ini sungguh sangat memalukan. Sebab siapa pun yang terlambat pasti akan di cap sebagai siswa yang tidak baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa citra seorang murid tentu akan hilang apabila dirinya tak menaati peraturan. Hukuman ini jelas disaksikan ratusan bahkan ribuan siswa maupun ratusan guru yang mengikuti rentetan kegiatan upacara bendera.

06.30 WIB

Rinjani telah siap untuk berangkat sekolah, dengan dandanan sederhana seperti biasanya. Rinjani bergegas melangkah menuju jalan raya, lebih tepatnya menunggu angkot untuk dinaiki menuju sekolah. Perjalanan dari kost menuju sekolahnya hanya ditempuh selama 10 menit. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Darren dan mengatakan kepada Darren kalau ia telah diterima kerja di cafe dekat sekolahnya.

Selang beberapa menit angkot berwarna biru berhenti tepat di depannya. Tanpa pikir panjang Rinjani langsung menaiki angkot itu dengan perasaan bahagia.

06.40 WIB

Rinjani melangkahkan kakinya melewati koridor sekolah. Setelah sampai di pintu yang diatasnya tertera kelas XI MIPA 1 ia pun memasukinya. Namun, saat ia mendongak ke dalam kelas ia sedikit kecewa. Karena laki-laki yang ia tunggu ternyata belum juga sampai.

Tumben Darren belum berangkat, biasanya juga udah tidur di kelas, batin Rinjani dalam hati. Ia mihat di dalam kelas, sudah ada tiga puluh temannya yang sampai. Rinjanipun langsung melangkah ke arah bangkunya dan memilih duduk terdiam di sana.

Apa dia belum bangun ya, batin Rinjani menopang dagu sembari memandang ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 07.00 WIB.

Tengggg!!

Tengggggg!!!

Tenggggggg!!!

Yah udah bel lagi, tapi kok Darren belum berangkat, apa dia sakit, batinnya sembari celingukan berharap Darren akan segera sampai.

"Woyy lo mau duduk disana terus! Udah sana kelapangan, yang lain udah pada disana malah diem dikelas" teriak Gara ketua kelas XI MIPA 1.

"Iya iya" balas Rinjani sembari mengambil topi upacara dari dalam tas kesayangannya. Lalu ia beranjak menuju lapangan upacara.

Gara memang benar. Setelah Rinjani sampai di lapangan ternyata di sana sudah ada banyak siswa siswi yang berbaris rapi. Sayup-sayup suara protokol upacara pun telah terdengar di seluruh penjuru lapangan. Namun, lagi-lagi Rinjani tak mengetahui keberadaan Darren. Ia masih setia menunggu laki-laki itu. Ia juga berharap laki-laki itu akan segera datang. Di sisi lain dia juga khawatir dengan laki-laki itu. Sekarang saja pikirannya sudah melayang ke arah yang tidak-tidak.

Beberapa kali Rinjani menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi, sayangnya laki-laki itu tidak juga datang dan berdiri di sampingnya. Rinjani berdiri di barisan ke dua dari depan sehingga ia bisa melihat dengan jelas beberapa siswa yang berdiri di depan karena dihukum. Tapi sayangnya ia tak melihat Darren di barisan siswa terlambat itu. Rinjani mulai lelah dan beralih menghadap ke depan untuk memfokuskan diri pada upacara bendera.

Satu jam telah usai. Matahari pagi semakin terik membuat kulit merasakan panas yang menyengat. Setelah pempimpin barisan membubarkan barisan, para siswa berbondong-bondong menuju kelas mereka masing-masing. Rinjani pun juga melakukan hal yang sama. Ia juga inggin cepat sampai di kelas untuk menemui Darren.

CRIME LEADER [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang