22. The owner of the sweetest smile

370 39 245
                                    

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat membaca dan jangan lupa votement ya terimakasih 😊

🐵

"Huh.........."Rinjani menghembuskan nafas pelan. "Emang ya semua laki-laki itu ngga punya hati!" Gerutu Rinjani tidak jelas.

"Udah tahu hati wanita itu lemah, masih aja disakitin," gerutu Rinjani lagi. Ia sudah memasang muka manyun di sepanjang perjalanan. Hingga mampu membuat semua orang yang menatapnya terheran dengan sikap gadis yang menurutnya aneh itu.

"Kenapa sih harus ketemu cowok model Darren. Udah ngga punya hati.......... mukanya datar kek tembok.......... galaknya minta ampun..........udah gitu pemaksa lagi. Mamanya dulu ngidam beton kali ya," Sebal Rinjani masih asik memonolog diri. Rinjani saat ini berada di toko buku sendirian. Catat sendirian. Karena, dia sedang marahan dengan teman sebangkunya itu. Ya siapa lagi teman sebangkunya kalau bukan Darren Andreas.

Flashback on

"Hallo. Assalamualaikum. Ini siapa ya?" salam Rinjani sekaligus bertanya, jujur saat ini ia tengah bingung. Karena, mendadak ia mendapat panggilan telepon dari nomor asing.

Waalaikumussalam, Hi dear, do you miss me?

Deg

"Yeah, i miss you too" balas Rinjani dengan air mata yang entah sejak kapan jatuh membasahi pipinya.

Mendengar Rinjani berucap manis membuat Darren langsung menutup bukunya. Padahal semula dia sangat asik membaca buku. Kemudian ia langsung mendongak menatap Rinjani yang sudah menitihkan air mata.

Aneh, batin Darren bingung. Pasalnya dia baru saja mendengar Rinjani berkata sangat manis. Namun, saat mendongak menatap mata Rinjani justru ia malah mendapati Rinjani sedang menanggis. Lalu ia melihat Rinjani berjalan ke luar kelas sembari menyeka air matanya. Tolol! Seharusnya ditanyain dong sayang, hem gemes deh.

Beberapa menit kemudian Rinjani kembali dengan raut muka sumringah. Aneh, fikir Darren di dalam hati lagi. Ya Darren memang tidak salah. Karena, sebelumnya Rinjani terlihat menanggis, dan tiba-tiba saja saat sudah kembali dari menerima telepon ia justru terlihat ceria. Ok, mungkin dia mengidap bipolar.

"Kenapa lo senyam senyum? Gila!" ucap Darren tanpa dosa. Pasalnya ia melihat Rinjani senyam-senyum tidak jelas. Lalu berjalan santai ke arahnya dan duduk di bangku sampingnya.

"Crewet deh! Emangnya senyum ngga boleh?" balas Rinjani santai, dan Darren hanya membalas dengan memutar bola matanya malas. Rinjani benar juga. Memang senyum salah? Tidak 'kan? Lalu apa masalahnya?

"Siapa?" tanya Darren datar.

"Apanya?" ucap Rinjani malah balik bertanya. Mendengar balasan Rinjani membuat Darren menghembuskan nafas kasar.

"Yang nelfon lo!" ketus Darren. Ia sudah malas berbicara sebenarnya. Tapi, ia terlanjur ingin tahu siapa yang menelepon Rinjani.

"Oh....orang spesial," balas Rinjani datar. Kemudia ia memainkan smartphone miliknya.

"Bara?" tanya Darren memasang raut tidak senang.

CRIME LEADER [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang