33. Happy Birthday

250 22 43
                                        

"Hallo epribadihhhh..." sapa Duta setelah memasuki markas dengan Rinjani mengekor dibelakangnya.

"Ini nih ciri-ciri makhluk akhir zaman.... Ngga pernah salam...Islam-nya cuma islam ktp. Eh lupa, lo kan ga punya ktp ya, punyanya kartu utang.. ..cih pantes," sindir Kenzie membuat Duta naik pitam. Jika bukan temannya sudah ia tenggelamkan ke dasar laut mungkin.

"Salam yang benar!" perintah Bara membenarkan. Laki-laki itu tengah duduk cuek di sofa.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh para penghuni neraka..." salam Duta setengah sebal.

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatauh ya ahli kubur," jawab semuanya antusias terkecuali Tomy.

"Eh, ada Rinjani..eh bukan ding, yang bener mbak marjan" bukannya menjawab salam Tomy malah asik menyapa Rinjani. Sang empu hanya tersenyum tipis.

"Marjan? Penunggunya merapi dong?" beo Duta.

"Itu Marijan bodoh."Tomy malah ikut sebal.

"Yang bodoh itu anda... Menjawab salam saya saja tidak mampu. Cih.. Dasar stupid " sebal Duta sok formal.

"Iya.....Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh anak pungut." Ciri khas Tomy memang tak pernah diragukan. Mulutnya always laknat, biadab dan terlalu sopan.

"Sorry ya gue anak ori," sinis Duta.

"Hilih.. Palingan juga lo ditemuin sama Om Dika di gorong-gorong kali Ciliwung." Tomy memang kelewat jujur.

"Ha-ha-ha," semuanya tertawa terkecuali Bara yang hanya menggelengkan kepala karena tingkah teman-temannya itu. Dan juga Darren yang hanya diam menyimak.

"Jan ngadi-ngadi lo!" sambar Duta.

"Udah-udah," lerai Rinjani lalu berjalan hendak duduk dan meletakkan belanjaannya tadi di meja tanggung depan sofa.

"Aduh, lain kali ga usah repot-repot Rin... Kan gue jadi seneng," cletuk Tomy.

Plak

Plak

Pukulan itu berasal dari Kenzie dan Duta yang entah terlalu gemas mungkin terhadap Tomy.

"Punya teman kok gini banget," keluh Kenzie berguman.

"Eh Rin lo bawa apa?" Lah ngga ada bedanya Kenzie ini. Sama-sama laknat. Rinjani langsung mengeluarkan kue tart dan lilin yang ia beli tadi dari Indoapril.

"Ih Rinjini li biwi ipi," cletuk Tomy menye-menye meniru ucapan Kenzie. Tomy hanya memutar bola mata malas.

"Siapa yang ultah Rin?" tanya Bara bingung. Sedangkan Rinjani masih diam tak menjawab. Ia sibuk membuka satu per satu ke tart dan menancapkan lilin.

"Pinjem korek dong," pinta Rinjani membuat semuanya diam.

" Kok malah pada diam sih?" lanjut Rinjani menatap heran semuanya yang hanya diam.

"Kita kan ngga ngerokok Rin," jawab Bara.

"Halah.. Lo kalau lagi banyak masalah juga nyebat," sambar Kenzie sinis.

"Ngaca... Apa bedanya lo sama gue," Bara ikutan sebal.

"Udah-udah....hm kok hobi banget sih berantem," lerai Rinjani cemberut.

"Nih," Darren menyodorkan korek api itu kepada Rinjani dengan malas.

"Lo tadi nyebat bos?" tanya Tomy.

"Bukan urusan lo!" sinis Darren.

"Ampun bang jago..." ucap Tomy meniru lagu toktik yang sempat trending, sembari menekuk tangan menyembah bermakaud meminta maaf.

CRIME LEADER [HIATUS]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang