17. CINTA ITU ADALAH

89 5 0
                                        

Hi kalian yang udah mau baca cerita aku sampai disini, makasih ya. Aku bener bener apresiasi bgt kalian yang baik mau baca cerita aku, semoga kalian suka. Maaf kalo masih kurang bagus dan typo yang bertebaran.

Permintaanku gak banyak sobat, tolong jangan sider ya, tolong di vote yaww. Thank you

Happy reading✨
.
.
.
.
.
.
.

🌟🌟🌟

Melihat Abby keluar dari lapangan indoor dengan wajah datar dan kedua tangan masuk kedalam saku celananya, sepertinya tidak terjadi masalah yang harus Dhika khawatirkan. Dhika menghempuskan nafas lega, baru saja kaki jenjangnya akan beranjak pergi tiba-tiba telinganya mendengar teriakan lirih dari Felicia. Cowok berambut lurus ditata rapi dengan perlahan melangkahkan sepatu vans hitamnya masuk kedalan lapangan.

"AARRGGHHH, Bangsat Abby!"

Tubuh Dhika seolah membeku ditempat. Didepan matanya dia melihat kesedihan dari Felicia. Pelupuk mata penuh air, hidung memerah, matanya pun memerah. Pasti rasanya sangat sakit. Tangan kanan Dhika mengepal keras, rasanya jari-jarinya menusuk telapak tangan Dhika.

Perlahan langkah dari kaki jenjangnya menaiki tangga dan duduk dideret bawah Felicia duduk. Perempuan dengan rambut di curly ujungnya itu masih belum menyadari kehadiran Dhika. Sampai beberapa menit Felicia membuka mata dan terkejut karena keberadaan Dhika.

"Dhi-ka?" Tanya Felicia yang masih sesunggukan sisa tangisnya masih ada.

Yang ditanya hanya memperlihatkan senyum. Senyum terteduh yang pernah dipamerkan pada kaum hawa. Tanpa aba-aba, gerakan refleks tangan Dhika menyentuh kelopak mata Felicia dengan ibu jari yang bergerak menghampus sisa air mata Felicia.

Felicia yang mendapat gerakan tanpa aba-aba dari Dhika serasa terhipnotis. Tubuhnya menegang tapi hatinya yang luka menghangat. Baru kali ini rasanya desir hangat tubuh seseorang membuat Felicia terpaku.

"Jangan nangis lagi, jelek." Ujar Dhika.

Felicia mengangguk tanpa bersuara. Rasanya masih mimpi, seorang laki-laki yang menjadi salah satu idola Nusantara itu ada didepannya. Dhika yang menjadi atlet bela diri silat sangat mempesona saat menendang samsak sewaktu latihan kini ada didepan Felicia. Perlakuan Dhika yang sederhana membuat Felicia merasa nyaman.

"Makasih Dhika." Ujar Felicia.

Dhika hanya mengangguk dan tersenyum menjawabnya. Belum siap menegakan tubuhnya tiba-tiba saja Felicia langsung memeluk Dhika dengan melingkarkan lengannya di leher laki-laki itu.

"Dhika, gue nangis sekali lagi boleh ya. Yang terakhir. Aaggghhh."

Tanpa menunggu jawaban Dhika, Felicia menelenggamkan wajahnya dibawah lengannya. Tepatnya dibahu Dhika. Suara sesunggukan Felicia terdengar lirih ditelinga Dhika. Saking lamanya Feli menangis, rasanya bahu Dhika masah karena air mata cewek itu.

Entah sudah berapa kali Dhika si kaku menghangat kepada seorang perempuan jutek, cuek, dan suka memberikan harapan palsu itu. Tangan kanan Dhika secara perlahan menyentuh puncak kepala Felicia dan mengelus rambutnya penuh kasih. Tangan kirinya menepuk halus punggu Felicia berusaha menenangkan perempuan itu yang menangis dengan nafas nampak tersendat-sendat.

🌟🌟🌟

Warung mbah di jam istirahat kali ini terlihat dipadati siswa SMA Nusantara yang bertubuh tegap dan besar. Pemandangan anehnya adalah cowok-cowok bertubuh besar itu malah menyetop pedagang mainan keliling. Siapa lagi kalau bukan trio gendeng S.O.S angkatan 12, Satria, Rama dan Rehan.

Dari Abby [THE END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang