Jangan lupa klik bintang di pojok kiri bawah. Sekalian, ramein cerita ini sama komennya, ya.
Selamat membaca✨
____________________________
"Sha, lo pokoknya harus ikut main, lawan kita anak kelas sebelah. Gue jamin bakal seru!" Pekik Yuri sembari berjalan menuju lapangan dengan angkuh.
Shana mengikat rambut pendeknya sambil meregangkan leher sebelum bermain dodgeball melawan anak kelas sebelah. Jarang-jarang kelas mereka mendapat kesempatan emas ini saat jam olahraga karena biasanya akan selalu ada tes pengambilan nilai setiap minggu. Terimakasih kepada Pak Yoga selaku guru olahraga yang tidak dapat hadir pada hari ini. Shana dan teman-teman tentu akan menikmati waktu ini dengan sangat baik.
"Pokoknya kita harus menang!" Teriak Bella dengan suara melengkingnya sambil mengarahkan tinjunya ke langit.
"Semangat sayang!"
Kaisar saat ini sudah berdiri di depan Shana dengan senyuman yang cerahnya seakan mengalahkan cerahnya mentari pagi ini. Ia berjalan mundur dan tetap tersenyum lebar pada Shana yang mencoba mengabaikan keberadaannya.
Menyerah? Apa itu menyerah? Jangan kira Kaisar akan menyerah begitu saja setelah ditolak Shana kemarin. Kaisar tidak akan berhenti jika apa yang ia mau belum ia dapatkan. Masa bodoh dengan Shana yang sudah memiliki pacar. Pokoknya Kaisar mau Shana.
"Sayangggg."
"Ehem."
"Tenggorokan gue mendadak sakit."
"Gue jadi pusing, tolong! Ada virus bucin!"
Kaisar tersenyum sambil menanggapi ejekan teman-temannya. "Eh, atau lo nggak usah ikut main aja? Lo kan mungil, nanti bolanya malah kena muka lo," ucap Kaisar dengan ekspresi yang lucu.
"Kan udh gue bilang kalau gue nggak suka dibilang pendek!" Tak bisa mengabaikan Kaisar lagi, Shana saat ini sudah melompat dan menerjang rambut Kaisar. Shana tidak bisa diam begitu saja, Kaisar sudah menjatuhkan harga dirinya.
Seolah tak merasakan sakit, Kaisar hanya tertawa saat Shana menjambak rambutnya dengan keras. Ya, walaupun Kaisar harus mengorbankan rambutnya untuk membuat Shana berbicara padanya, tapi setidaknya Kaisar berhasil.
Sementara itu, teman-teman Shana dan Kaisar hanya menonton tanpa memiliki niat untuk melerai mereka. Ini bukan kali pertama Shana menyiksa Kaisar. Semua orang di sekolah ini pun sepertinya sudah tau kalau love lenguage Shana itu physical attack. Mereka juga tidak mengerti kenapa Kaisar fine-fine saja dengan physical attack yang kerap dilakukan Shana. Memang ya, orang akan menjadi kebal dan nggak pernah rasain sakit kalau lagi jatuh cinta.
"Gue nggak bilang pendek, cuma mungil aja sayang," ucap Kaisar membela diri.
"Sayang-sayang! Pala lo nih, peyang!" Shana melepas rambut Kaisar dan pergi meninggalkan Kaisar sebelum tangannya terlalu nyaman menggenggam rambut Kaisar.
Permainan dodgeball dimulai, baru dimulai saja permainan sudah sangat sengit. Permainan ini lebih seperti persaingan sekaligus balas dendam yang melibatkan Kaisar dan Leo. Shana dan Yuri bahkan sangat kewalahan karena selalu mereka yang dijadikan target untuk dilempar.
Rata-rata dari mereka pernah didekati oleh Kaisar dan Leo, maknya sekarang mereka terlihat seperti balas dendam karena berpikir bahwa Shana sudah merebut Kaisar dan Yuri yang merebut Leo. Padahal dua cowok buaya itu yang mengejar-ngejar Shana dan Yuri.
"Sha, hati-hati. Kayaknya gara-gara dua reptil itu, malah kita yang diserang."
Untuk sesaat Kaisar terpesona saat melihat Shana yang bergerak kesana-kemari. Di mata Kaisar seolah melihat seberkas cahaya yang menyorot Shana yang terlihat cantik dengan rambut yang dikucir kuda, ditambah lagi anak rambut di sekitar telinga Shana yang tidak terikat. Ntah untuk keberapa kalinya Kaisar lagi-lagi dibuat jatuh cinta pada Shana.
"Go Yuri, go Yuri, Go!" teriak Leo dari pinggir lapangan. Walaupun kelasnya tidak di jam pelajaran, sangat mudah bagi Leo untuk berada di sini dan bolos di jam ekonomi.
Kaisar menoleh pada Leo yang berteriak sambil memegang kemoceng warna-warni di tangannya. Tak mau kalah, Kaisar jugan ikut berteriak mengikuti Leo. Saat ini, Kaisar dan Leo sudah seperti tim pemandu sorak untuk Yuri dan Shana.
"Semangat kesayangan!"
Shana dan teman-temannya saling pandang satu sama lain. Begitu juga Leo yang menatap Kaisar dengan horor. Sejak kapan pula Kaisar jadi alay seperti ini? Kalau Leo yang berteriak, orang-orang akan menganggapnya biasa karena Leo memang seperti itu, alay dan penuh drama. Tapi, Kaisar?
"Alay lo!" teriak Ochi memprotes Kaisar.
"Bilang aja lo iri nggak punya supporter! Dasar jompo! Eh, jomblo!" balas Kaisar.
Tak kuasa melawan lagi, Ochi hanya bisa mengacungkan jari tengahnya pada Kaisar yang berada di pinggir lapangan. Tidak akan ada habisnya jika Ochi melawan Kaisar. Soalnya, kalau musuhan sama Kaisar, pasti Ochi juga dimusuhi oleh fans Kaisar yang populasinya sangat banyak. Ochi masih mau bersekolah dengan tenang di sini.
Shana dan teman-temannyakembali melanjutkan permainan. Suara Leo dan Kaisar di pinggir lapangan yang menyoraki nama Shana dan Yuri membuat pertandingan semakin sengit. Shana dan Yuri hampir terkena lemparan bola yang dilempar cukup keras berkali-kali.
"Woi! Main santai, dong! Ayang gue hampir kena bola!" teriak Leo sambil menunjuk seorang siswi dengan kemoceng yang ia pegang.
Yuri yang sudah muak dengan suara Leo berhenti melempar bola dan memutar badannya menghadap ke tempat dimana Leo berada. "Lo bersuara sekali lagi, awas ya! Gue lempar pakai bola basket ntar!"
"Jangan pakai bola basket Yang, pakai cinta, dong!"protes Leo.
Tak peduli dengan perdebatan Leo dan Yuri, Kaisar juga mencoba meluncurkan aksinya. "Shana! Gue ada sesuatu buat lo!"
Jengah, Shana menoleh pada Kaisar sambil memegang dahinya tak habis pikir dengan sikap alay Kaisar hari ini. Shana pusing setengah malu dengan sorakan Kaisar yang terdengar seperti penonton alay.
Shana masih memperhaatikan Kaisar yang merogoh sakunya agak lama. Shana sempat berpikir Kaisar akan mengeluarkan kalung atau cincin dari saku celananya. Tapi, untungnya bukan itu, bisa jadi trending topik Shana di sekolah ini jika Kaisar memberinya kalung atau cincin di sini. Shana bersyukur Kaisar hanya mengeluarkan jarinya yang sudah dibentuk hati.
Bruk!
Semua siswi yang bermain dodgeball seketika terpekik. Kepala belakang Shana terkena lemparan bola hingga membuatnya terhuyung sampai jatuh dengan posisi berlutut. Tapi sayangnya, itu buka bola karet dodgeball. Kepala Shana terkena lemparan bola basket yang meleset dari lapangan sebelah.
"Pusing."
Para siswi mulai mengerubungi Shana. Tidak terkecuali Kaisar yang sedari tadi berdiri dipinggir lapangan. Kaisar segera mengejar Shana dan berlutut di hadapan gadis yang mulai oleh itu.
"Sha." Kaisar memukul pipi Shana pelan dengan jantung yang berdebar sangat cepat saking paniknya.
"Pusing, Kai." Tak lama setelah itu, Shana terhuyung ke dada Kaisar dan pingsan.
Kaisar segera menggendong Shana dan membawanya ke UKS dengan langkah lebar. Sekarang, tidak ada lagi Kaisar yang alay, raut wajah Kaisar terlihat sangat panik sekarang.
_____________________________
Jangan lupa vote dan komennya. Aku maksa😂 Tolong hargai tulisan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHANA (SELESAI)
Teen FictionShana tidak tahu jika hidup jadi manusia akan membuatnya selelah ini. Kalau dipikir, jadi bunga matahari joget-joget di dashboard mobil itu lebih seru, kayaknya nggak punya beban. Itu kata Shana dulu, saat hidupnya masih monoton, masih stuck di mas...
