Jangan lupa klik bintang di pojok kiri bawah. Sekalian, ramein cerita ini sama komennya, ya.
Selamat membaca✨
__________________________
Shana membuka matanya yang terasa berat saat merasakan tangan seseorang mencolek tangannya. Kepalanya terasa berat, Shana hanya membuka matanya tanpa menggerakkan kepalanya. Selain karena mengantuk, beban yang menimpa kepalanya saat ini juga menjadi alasannya.
"Disuruh jagain, malah tidur," omel Raka setengah berbisik.
Tak peduli, Shana kembali menutup mata dan melanjutkan tidur. Masa bodo dengan Raka, Shana hanya mementingkan rasa kantuknya saat ini.
"Sha," panggil Raka dengan berbisik sambil menggoyang-goyangkan tangan Shana yang hanya merespon dengan gumaman malas tanpa membuka mata.
Raka menggeser tangan besar Kaisar yang menghimpit kepala Shana. Kemudian Raka mencubit pipi Shana agar gadis itu bangun. Bisa-bisanya dia tidur dalam keadaan seperti ini.
"Sha, gue ceburin ke kolam kalau lo nggak bangun," ancam Raka yang sudah jengah pada Shana yang tak kunjung bangun.
"Ck." Shana menepis tangan Raka dan segera berdiri.
Tanpa pamit, Shana berjalan dengan sempoyongan keluar dari kamar Kaisar. Shana butuh kamarnya saat ini untuk melanjutkan tidurnya. Sedangkan Raka hanya bisa menggeleng melihat Shana yang jalan sempoyongan sambil menggaruk-garuk kepala. Heran, jadi cewek kok nggak ada anggun-anggunnya. Yang lebih membuat Raka heran lagi, kenapa adiknya bisa menambatkan hati pada Shana. Padahal banyak gadis yang lebih dari Shana dalam segi apapun yang menyukai Kaisar.
Awalnya, Raka maklum dengan hubungan Kaisar dan Shana. Mereka sudah sama-sama sedari kecil, jadi wajar kalau Kaisar menyukai Shana di masa pubertas. Tapi, makin kesini, Raka menyadari satu hal. Kaisar terlalu menggantungkan harapan pada Shana. Dan itu sudah kelewat batas.
Menghela napas kasar melihat adiknya yang sakit karena terlalu galau, Raka menyingkirkan kain kompres yang sudah kering dan menempelkan tangannya di dahi Kaisar. Dengan telaten, Raka mengompres Kaisar dengan air yang terletak di atas nakas.
"Bang," panggil Kaisar tanpa membuka matanya dengan napas memburu kencang. Air mata juga mengalir dari sudut matanya.
"Apa? Mana yang sakit?"
Raka langsung menghapus air mata Kaisar dan menyentuh kedua pipi Kaisar bergantian. Ia sudah bisa merawat Kaisar yang sakit seperti ini. Begitu juga sebaliknya. Terbiasa ditinggalkan berdua oleh orang tua mereka, baik Raka ataupun Kaisar saling bisa melengkapi satu sama lain.
Tanpa menaruh benci pada mami dan papi yang sibuk bekerja, Raka dan Kaisar tumbuh bersama dengan baik. Mereka paham dengan situasi orang tua mereka. Terimakasih pada almarhumah Mama Shana yang sudah menasihati Raka dan Kaisar yang hampir membenci orang tua mereka. Dengan halus, Mama Shana berhasil menjelaskan situasi mami dan papinya. Membuat hati Raka dan Kaisar tersentuh sampai akhirnya bisa menerima keadaan dan mengerti.
"Jangan bilang ke mami sama papi," ucap Kaisar lemah.
"Iya, tenang aja."
Kaisar tidak bersuara lagi. Ia meletakkan lengannya untuk menutupi mata. Awalnya hanya ada keheningan, hingga sebuah isakan yang tidak bisa Kaisar tahan lolos begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHANA (SELESAI)
Ficção AdolescenteShana tidak tahu jika hidup jadi manusia akan membuatnya selelah ini. Kalau dipikir, jadi bunga matahari joget-joget di dashboard mobil itu lebih seru, kayaknya nggak punya beban. Itu kata Shana dulu, saat hidupnya masih monoton, masih stuck di mas...
