Jangan lupa klik bintang di pojok kiri bawah. Sekalian, ramein cerita ini sama komennya, ya.
Selamat membaca✨
______________________________________________
Shana turun dari motor Arion sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena angin. Ia menatap Arion kesal karena tega-teganya tidak meminjamkan helm padanya. Padahal Shana sudah meminjamnya dengan terang-terangan tadi, tapi Arion tetap tidak mau memberikannya. Ini yang katanya gentleman, cuih! Shana benar-benar ingin menghujani Arion dengan berbagai kata umpatan yang sangat bervariasi.
"Makasih, iya sama-sama," sindir Arion pada Shana yang masih sibuk dengan rambutnya.
"Iya, silakan pulang." Shana menggerakkan tangannya ke depan sambil tersenyum mengusir Arion. "Tau jalannya, kan? Kalau nggak tau, lo tinggal lurus aja, lurus terus sampai nabrak. Nah, yang barusan gue sebut itu jalan ke neraka."
"Wah-wah, nggak bener banget ini cewek." Arion menggelengkan kepalanya seolah sedang frustasi.
Shana yang julid langsung menaikkan sebelah bibirnya. "Suka-suka gue, dong. Mau bener, mau nggak. Jangan sok asik lo ngomen in-"
Tak mau mendengarkan Shana lagi, Arion langsung tancap gas menjauhi Shana. Mau ia tunggu sampai kapan pun, Shana tidak akan mengucapkan terimakasih. Emang dasar nggak tahu diri. Kalau Arion tetap menunggu, hanya akan membuang-buang waktunya yang sangat berharga. Anggap saja mereka impas karena tidak ada yang mau mengucapkan kata 'maaf' dan 'terimakasih'.
"Wah-wah, nggak bener banget itu cowok." Shana menggelengkan kepalanya sambil memutar kedua bola matanya.
Shana berbalik hendak masuk ke rumah. Tapi ia malah berdiri dan mendongak menatap rumahnya dengan tatapan kosong. Tidak ada kenangan yang terlalu berharga di sini. Rumah ini memang memiliki penghuni, tapi tidak memiliki kenangan. Dan sekarang, papa akan menambah penghuni rumah ini. Shana tidak tahu, penghuni baru ini akan menciptakan kenangan buruk atau kenangan berharga.
"Heh-heh!"
Shana menoleh ke arah kanannya dan mendapati Kaisar yang berjalan santai mendekatinya. Memakai baju kaus warna hitam dan celana pendek sebatas lutut, ditambah lagi sinar matahari sore yang menyorotnya, membuat kadar ketampanan Kaisar jadi meningkat. Tapi, percuma juga ganteng kalau terus-terusan ditolak gebetan, Shana adalah contoh manusia yang selalu menolaknya.
Shana mengangkat sebelah alisnya, penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Kaisar. Di mata Shana, penampilan Kaisar saat ini benar-benar minta ditabok, pakai cinta tapi. Eh, bukan cinta dari Shana pastinya. Ya kali, Shana buang-buang perasaan cintanya untuk kadal sejenis Kaisar, mubazir banget. Lebih baik Shana ngumpulin rasa cintanya banyak-banyak untuk seseorang yang tepat di masa depan.
"Apa lo?!"
"Eits, jangan ngegas dulu cinta," ucap Kaisar sambil mengusap-usap dadanya. Ia berusaha bersabar menghadapi Shana, untung cinta, kalau enggak, udah Kaisar lempar ke Palung Mariana. Biar tenggelam sekalian kayak atlantis.
"Iya Rangga, ada apa, ya?" ucap Shana mengubah nada suaranya menjadi lembut dengan tangan yang memain-mainkan rambutnya.
Kaisar langsung kesenengan di panggil Rangga. Ia menampilkan senyum khasnya pada Shana yang masih megang-megang rambutnya dengan centil. Gimana Kaisar nggak bucin coba? Ini Shana nggak sadar diri banget kalau dia itu cantik. Malah senyum-senyum cantik ke Kaisar lagi, giliran ditembak Kaisar aja nolak. Tapi kerjanya bikin Kaisar tambah jatuh cinta. Akan Kaisar pastikan Shana akan menikah dengannya di masa depan. Shana nggak boleh nolak, harus mau.
KAMU SEDANG MEMBACA
SHANA (SELESAI)
Teen FictionShana tidak tahu jika hidup jadi manusia akan membuatnya selelah ini. Kalau dipikir, jadi bunga matahari joget-joget di dashboard mobil itu lebih seru, kayaknya nggak punya beban. Itu kata Shana dulu, saat hidupnya masih monoton, masih stuck di mas...
