49. Happy Birthday

168 48 151
                                        

Kaisar mondar-mandir sedari tadi di kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tapi matanya belum mau dibawa tidur dan otaknya terus berpikir. Memikirkan keputusan apa yang harus Kaisar ambil.

"Pergi aja, deh." Kaisar berjalan hendak membuka pintu kamarnya.

"Nggak jadi." Kaisar kembali mondar-mondir di kamarnya.

"Pergi."

"Enggak."

"Pergi."

"Enggak."

"Pergi."

"Enggak."

Kaisar terus mondar-mandir di kamarnya. Mencoba memutuskan untuk pergi atau tidak. Ia sudah seperti anak perawan yang hendak dijodohkan.

Kaisar masih terus mondar-mandir seperti setrika di kamarnya. Sesekali ia juga melirik jam yang terus bergerak dan melirik kotak yang ada di atas meja belajarnya.

Kaisar semakin bimbang saat melihat jam di kamarnya akan menunjuk pukul dua belas tepat. Kaisar menggertakkan giginya sambil mencoba menimang-nimang keputusannya.

"Fix, harus pergi." Kaisar menyambar kotak yang ada di atas meja belajarnya dan bergegas berjalan keluar dari rumahnya.

Kaisar mencoba membuka pagar rumahnya dengan sangat pelan. Jangan sampai orang rumah terbangun karena ulahnya.

Sesampainya di luar rumah, Kaisar membuka pagar rumah Shana dengan sangat pelan, kemudian menutupnya kembali. Ia berjalan melalui samping rumah Shana menuju halaman belakang rumah Shana.

Kaisar dapat melihat Shana yang duduk di pinggir kolam renang sambil merendam kakinya. Tanpa menunggu lagi, Kaisar segera mendekati Shana.

"Happy birthday, Sha. Wish you all the best." Kaisar duduk di samping Shana kemudian memeluk Shana dari samping. "Lo sahabat terbaik gue. Jangan berubah, tetap jadi Shana yang gue kenal dari kecil. Jangan sakit, jangan jauh-jauh dari gue, jangan merasa nggak berguna lagi, jangan sok-sokan mau mandiri lagi, karena faktanya lo masih butuh gue. Gue sayang lo, Sha."

Shana membalas pelukan Kaisar dengan erat. Ini yang ia tunggu sedari tadi. Kedatangan Kaisar untuk menjafi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Mata Shana berkaca-jaca, ia sangat emosional sekarang.

"Makasih, Kai. Maaf tadi udah mikir negatif kalau lo nggak bakal datang. Gue juga sayang lo, Kai," ucap Shana dengan suara yang bergetar dan air mata yang mulai mengalir.

Hati Kaisar tertohok saat Shana mengatakan menyayanginya. Perasaan sayang Shana berbeda dengan perasaan sayang yang Kaisar rasakan.

"Kenapa malah nangis? Gue udah di sini Sha, sama kayak tahun-tahun sebelumnya." Kaisar mengusap rambut Shana di bagian belakang.

"Nggak tau, gue lagi emosional banget. Gue udah dewasa ternyata, udah bisa bikin KTP," jelas Shana dengan suara yang masih bergetar.

"Ya udah, bilang ke gue apa yang ada di pikiran lo sekarang."

Kaisar sudah sangat peka dengan keadaan. Ritual merayakan ulang tahun Shana di tengah malam seperti ini, sudah mereka laksanakan bertahun-tahun. Kaisar selalu menyuruh Shana untuk menceritakan apa yang sedang ia pikirkan. Agar Kaisar tahu apa yang sedang dikhawatirkan Shana.

"Gue rindu mama."

"Gue belum siap jadi dewasa."

"Gue nggak mau jadi dewasa."

"Walaupun keliatannya gue ini suka jadiin lo babu, percaya deh, gue sayang lo, Kai. Banget."

Sambil menangis, Shana menyebutkan apa yang sedang mengganggu pikirannya pada Kaisar. Masih dalam posisi berpelukan, Shana terus berkeluh kesah pada Kaisar.

SHANA (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang