47. Pacar Pertama Shana

198 51 86
                                        

Jangan lupa klik bintang di pojok kiri bawah. Sekalian, ramein cerita ini sama komennya, ya.

Selamat membaca✨

__________________________

"Kai." Shana menahan tangan Kaisar yang hendak berdiri dari tempat duduknya agar bisa segera pulang.

Kaisar menatap tangan Shana yang menahannya, kemudian menatap si pemilik tangan dengan lama. Hatinya berkecamuk, niat untuk move on pun langsung hilang begitu saja. Lagi pula, siapa yang bisa move on jika mereka tetap dekat seperti ini. Untuk menjauhi Shana pun, Kaisar rasanya juga tidak sanggup. Memang, skenario terbaik yang Kaisar inginkan hanya memiliki Shana, sebagai pasangan, bukan sahabat.

"Kenapa? Habis ini lo ada ekskul lagi?" ucap Kaisar sedikit menyindir alasan-alasan klise Shana beberapa hari yang lalu.

Merasa tersindir, Shana memukul lengan Kaisar. "Bukan! Gue belum ngomong!"

Kaisar meringis sambil mengusap bekas pukulan Shana di tangannya. "Iya, apa?!"

"Sabar bestie, ini udah resiko punya pacar petarung." Oci yang melewati mereka menepuk pundak Kaisar dengan pelan. Seolah dengan tepukan di pundak itu dapat menambah kekuatan Kaisar untuk menghadapi Shana.

"Iya, hati-hati lo pulangnya," jawab Kaisar.

"Duh, hati gue meleleh pas lo suruh hati-hati," gurau Oci sambil memegang dadanya lebay.

"Hati-hati, kena hepatitis lo!" teriak Shana.

Dada Shana memburu, entah kenapa, Shana tidak mau tahu. Pokoknya, masih berat rasanya melihat Kaisar berkata manis pada perempuan lain. Jika itu di belakang Shana, tanpa sepengetahuan Shana, itu tidak apa-apa. Asal jangan di depan Shana, sumpah itu membuatnya kesal setengah mampus. Gini-gini, walaupun sudah menolak Kaisar, perasaannya untuk Kaisar itu masih ada.
Jadi, tunggu Shana move on dulu. Terserah deh Kaisar mau ngapain aja kalau Shana sudah move on. Mau langsung nikah, juga bakal Shana dukung.

"Apa hubungannya, cabe?!"

"Suka-suka gue, lah!"

"Udah, lo pulang aja, Ci. Kalau dilanjut kapan selesainya?" Kaisar berusaha menengahi keributan kecil di depannya tanpa menyudutkan Shana sedikitpun.

Shana menaikkan kedua alisnya dan mengibas rambutnya sambil berbangga diri pada Oci. Tentu saja Shana pemenangnya di sini, sudah jelas, kan? Oci bukan tandingan Shana jika sedang di depan Kaisar. Jelas saja Shana lebih unggul dari segi apapun bagi Kaisar.

"Lo mau ngomong apa?" tanya Kaisar setelah Oci pergi.

"Oh iya, lo pulangnya sama si mulut jahanam aja. Gue ada janji sama Kun Ge," jelas Shana.

"Iya."

"Oke."

Setelah itu, Shana berjalan sambil melompat-lompat keluar dari kelas. Shana bingung, sebenarnya ia bahagia karena dinomorsatukan Kaisar atau karena akan melanjutkan acara pdktnya dengan Kun. Tapi, bodo amatlah, ini Shana loh, dia nggak bakal mau mikirin yang berat-berat. Yang jelas, hidupnya akan terus mengalir seperti aliran sungai, jadi tinggal ikuti arus. Toh, akhirnya semuanya akan terungkap di akhir bak sungai yang bermuara di laut. Semuanya akan menemukan akhir dan berakhir begitu saja.

Mood yang baik, otomatis orangnya juga akan baik. Shana berjalan girang dengan wajah yang masih memar menuju parkiran. Shana tersenyum pada setiap orang yang ia kenal berselisih dengannya.

"Tumben sendirian, Kaisar mana?"

Setidaknya, Shana masih memiliki mood yang bagus sebelum suara jelek seorang siswa menghancurkan semuanya. Shana berhenti melangkah dan menatap dengan tidak santai pada si pemilik suara.

SHANA (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang