Kejutan di Tempat dan Hari Bersejarah

118 13 6
                                        

Aku mengajak Venus ke Bukit Bintang malam itu, siapa tahu dia bisa merasakan keajaiban dari tempat itu dan menjadikannya sebagai tempat yang istimewa untuknya.

Bukit Bintang merupakan salah satu tempat bersejarah buatku. Bermula dari iseng-iseng, pertama kali aku ke tempat ini bersama Gavin dan Fadlan. Waktu itu, Gavin sedang patah hati, baru diputuskan oleh pacarnya, Sarah, teman seangkatan di sekolah kami dari jurusan IPA. Padahal, belum ada dua bulan mereka bersama. Di hari itu juga, Fadlan ditolak oleh gebetannya yang merupakan anak sekolah lain. Fase pendekatannya sekitar tujuh bulan, bayangkan! Dia hancur babak-belur malam itu, merasa dipermainankan dalam friendzone. Sedangkan aku, saat itu, baru saja bertengkar hebat dengan Ghea, posisinya dulu waktu kami awal-awal berpacaran. Malam itu, kami bertiga adalah kumpulan laki-laki yang sangat kusut. Tiga Sekawan yang sedang ambyar-ambyarnya. Kami putuskan bahwa yang kami butuhkan adalah hiburan.

Jadilah kami jalan-jalan malam, melepas penat dan kemumetan yang melanda, berkendara naik mobil Fadlan, berkeliling ke tengah kota sampai ke pinggiran kota, hanya untuk mencari distraksi, hingga sampailah kami ke tempat surgawi bernama Bukit Bintang.

Fadlan yang pertama kali menemukannya. Waktu itu, kami hanya duduk di mobil yang diparkirkan di atas bukit, merokok sambil meneguk kopi dan memesan mi instan dalam cup dari kedai kopi tak jauh dari sana, dan cerita ngawur-kidul seputar kekusutan yang kami derita seharian itu. Entah ada keajaiban apa, mengobrol di atas Bukit Bintang malam-malam yang dinginnya nggak karu-karuan justru membuat kita-tiga lelaki yang sedang patah hati-berani bercerita macam-macam. Aneh, sangat aneh. Tidak ada satupun di antara kami yang sedang dipengaruhi minuman beralkohol apapun. Tapi, Bukit Bintang seperti menyihir dan membujuk kami untuk mentumpah-ruahkan semua emosi yang terpendam, mengobrol bergantian dan mendengarkan satu sama lain. Seram, kan? Tidak biasanya kami berbuat begitu, curhat adalah kegiatan yang sangat sulit dan menakutkan untuk dilakukan. Tapi, di Bukit Bintang, itu semua tidak berlaku. Kami semua seperti kena sihir.

Sejak hari itu, Bukit Bintang menjadi tempat bersejarah untukku-untuk kami. Sisi baik sekaligus buruknya, Bukit Bintang adalah tempat ternyaman untuk mengobrol tentang apa saja, untuk jadi jujur. Itu sebabnya, menurutku, mengajak Venus ke Bukit Bintang adalah ide yang cemerlang. Dia perlu dikenalkan ke tempat bersejarah di hari bersejarahnya juga. Dia perlu merasakan keajaibannya, entah dalam bentuk apapun.

Kami memasuki Cafe Taman dan Venus memilih untuk duduk di bagian outdoor. Waktu pertama kali datang ke sini, kami tidak mengunjungi Cafe Taman. Dua bulan setelahnya, baru kutemukan cafe ini saat sedang ngumpul bersama Ghea, Cindy, dan Adon. Sekarang, kuperhatikan Cafe Taman sedikit berubah, bagian outdoor-nya lebih tertata rapi dibandingkan terakhir kali aku ke sini.

Ulang tahun Venus hanya beda satu hari dengan Stefina. Kenyataan itu masih sangat menohok, membuat kerongkonganku serasa seperti tersedak batu bata, bingung harus berbuat apa. Lagi-lagi, kenyataan memilih pergi bersamanya sebelum menghadiri kejutan ulang tahun Stefina masih terasa janggal dan sepertinya agak salah.

Lebih anehnya lagi, aku tetap melakukannya.

Aku berharap Venus merasakan hal menyenangkan di hari bersejarahnya, di hari ulang tahun ketujuh belasnya. Dia pantas mendapatkan itu; merasa senang. Di saat semua orang-terutama, anak-anak perempuan-di sekolah kami merayakan ulang tahun ketujuh belasnya dengan mengadakan pesta besar-besaran dan mengundang banyak teman, Venus hanya mendapatkan ucapan selamat dari tiga orang, termasuk aku. Bagi beberapa orang, ulang tahun ketujuh belas tahun perlu menjadi sedikit berbeda dan lebih istimewa. Jadi, kupikir mengajak dia ke Cafe Taman adalah pilihan yang tepat. Semacam kejutan kecil untuknya.

Dia tampak senang selama kami di sana. Berkali-kali matanya mengerling takjub saat memandangi cahaya lampu yang berkedip dari gedung-gedung di penjuru kota. Kaki kami diluruskan dan punggung kami bersandar pada bean bag yang empuk. Kuperhatikan rambutnya beterbangan pelan ditiup angin, lengkung senyumnya lebih lebar dari biasanya, hampir selalu berhasil memperlihatkan giginya yang berbaris rapi. Tidak biasanya dia tersenyum selebar itu. Kami juga mengobrol dan bercerita tentang banyak hal. Pada awalnya, semua terasa menyenangkan, percakapan kami menarik, dan semuanya berjalan dengan sangat mudah.

AtlasCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang