Never in Dreams

407 27 3
                                        

"Bagus," aku memencet tombol putih pada layar ponsel Karinta, menjepretnya beberapa kali. Di depanku, mungkin hanya berjarak enam langkah kaki, berdiri Karinta, Ghea, dan Cindy, yang sedang berpose dengan gaya masing-masing. "Oke, satu, dua, tiga..."

Taman Kota di setiap Sabtu pagi beralih fungsi jadi jogging track seribu umat-yang memang sebenarnya-betulan ada jogging track yang melingkari taman ini. Bergabung di tengah-tengah lautan manusia dan penjual-penjual minuman dingin yang menjual dengan harga digandakan berkali lipat tentu sama sekali bukan ideku. Biasanya, aku, Gavin, dan Adon lari pagi di stadion dekat sekolah. Alasannya jelas, stadion itu jauh lebih sepi, bersih dari pedagang kaki lima, dan orang-orang yang pergi ke sana biasanya sungguhan mau olahraga. Bukan hanya pakai baju bergaya sporty termodis, lari-lari kecil, lalu mengobrol, dan foto-foto, update ke Instagram. Benar, bukan seperti yang dilakukan Karinta, Ghea, dan Cindy seperti sekarang.

Aku mengembalikan ponsel Karinta, lalu menoleh sesaat ke arah Gavin dan Adon yang sedang duduk di bangku taman, meneguk air mineral masing-masing. Kubuka layar ponsel, waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit dan saat itu juga, satu pesan dari Stefina masuk. Dia bilang, dia dan keluarganya juga akan jogging di Taman Kota dan sedang dalam perjalanan dari rumahnya menuju kemari. Membaca itu, senyumku merekah dan langsung kubalas, OK, berkabar saja kalau sudah sampai. Ada Karinta juga di sini.

Satu jam kemudian, setelah akhirnya kami sungguhan lari satu putaran tanpa disela selfie dan photoshoot dadakan lainnya oleh Karinta dan yang lain, kami bubar dan berpencar dengan rencana masing-masing. Karinta, Ghea, dan Adon mau lanjut makan bubur ayam, Cindy pulang duluan karena harus siap-siap bimbel, Gavin pamit karena harus mengantar ibunya ke dokter gigi dan aku, menemui Stefina di sisi lain jogging track.

Stefina sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman dekat area playground . Rambutnya dikuncir satu, dia mengenakan celana jogging hitam ketat, kaos putih polos, dan sepatu lari berwarna abu-abu muda. Aku tersenyum dan menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya. Wajahnya yang berkulit cerah itu kini memerah, pipinya juga memerah, karena habis terkena sinar matahari. Pelipis dan lehernya bercucuran keringat. Nah, aku percaya dia olahraga sungguhan.

"Duh, maaf ya. Pasti kelihatan gembel banget, deh," Stefina membuka kamera depan pada ponselnya, lalu menyibakkan rambut lurusnya dan menggumam pelan tentang betapa dirinya sedang tidak kelihatan bagus.

Bagiku, dia tampak oke-oke saja. Selalu cantik. Aku mengerutkan dahi. "Di mana sisi gembelnya? Aku nggak melihat," aku memiringkan kepala, mencoba melihatnya dari sisi bawah, samping, dan pura-pura memasang tampang bodoh. Lalu, berdiri tegak, melakukan gaya hormat, dan berkata dengan suara yang sengaja dibuat lebih berat, "Flawless, sir. All perfect."

Stefina tertawa, tawa khasnya yang renyah. Kemudian, dia menjelaskan kalau keluarganya sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu dan dia sengaja memisahkan diri. Akhirnya, kami sarapan di salah satu kedai soto tak jauh dari Taman Kota. 

"Jadi, tadi jogging sama siapa aja? Sama Karinta juga?" tanya Stefina sambil menuangkan bubuk koya ke atas sotonya.

"Ya, ada Karinta, ada Gavin juga, Adon, Cindy, Ghea," jawabku, sebelum menggigit kerupuk udang. Mendengar nama Ghea, wajah Stefina berubah. Meskipun hanya beberapa detik, aku bisa menangkap perubahan ekspresinya yang sangat cepat itu.

Kemudian, kami mengobrol soal banyak hal, tentang rencana masing-masing jurusan kuliah yang mau kami pilih, bayangan kami tentang persaingan untuk masuknya hingga prospek kerja, dan betapa berubah serta berkembangnya kota kami.

Kami sedang asyik mendiskusikan film superhero yang baru tayang di bioskop tiga hari yang lalu, yang ramainya bukan main sampai habis tiketnya di mana-mana, ketika aku membuka layar ponsel dan melihat jam digital yang terpampang di sana menunjukkan pukul 8.40 AM, Saturday. Sabtu. Aku mengernyitkan dahi, berpikir apa yang sedang kulupakan atau telah kulewatkan hari ini, sementara Stefina terus membicarakan tokoh superhero favoritnya.­­

AtlasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang