Danau itu mulai tampak di depan mata.
Sesuai dengan ingatanku, danaunya memang tidak terlalu besar. Dari tempat kami masuk dan Atlas memarkirkan mobilnya, yaitu di bawah pepohonan rimbun, kami berjalan lamban menuju rerumputan yang mengelilingi danau. Rerumputan hijau yang kini menghampar tidak sehijau seperti yang terekam dalam ingatanku maupun seperti yang tercetak dalam foto. Rumputnya juga jadi sedikit lebih berantakan.
Sementara itu, langit biru menaungi, gumpalan awan putih menggantung, matahari pukul setengah empat sore memantulkan cahaya keemasan pada air danau yang berwarna hijau gelap, dan beberapa orang mulai berdatangan. Sedikit lebih ramai jika dibandingkan dulu, tapi suasananya tidak banyak berubah; anak-anak berlari-larian, pengunjung lainnya yang berfoto-foto, dan beberapanya yang menggelar alas kain tipis untuk piknik. Suasana yang sangat kukenali.
Melihat-lihat keadaan sekeliling membuatku kembali terbawa ke beberapa tahun silam, sibuk dalam pikiran, menyusuri berbagai kenangan. Aku ingat benar tempat Nenek biasanya menggelar alas piknik kami dan membuka bekal, di tengah-tengah sana, tidak terlalu dekat dengan danau, tepatnya dekat gundukan tanah berumput yang datarannya lebih tinggi. Di sebelah sana, sekarang ditempati oleh tiga laki-laki yang sedang duduk mengobrol. Aku juga ingat lokasi Ayah memotret aku dan Mas Kekar yang berlumuran es krim pada baju dan dagu kami. Ya, dekat batu berukuran sangat besar, ada di sisi lain danau.
Berjalan menyusuri tempat ini membuatku mulai menyelami berbagai kenangan.
Akhirnya aku dan Atlas memilih tempat untuk duduk yang masih mendapat terpaan sinar matahari, namun tidak terlalu banyak. Cahaya keemasan pada air danau tampak semakin jelas di depan kami, hanya beberapa langkah jaraknya dari spot yang kami pilih. Kami menggelar alas kain kotak-kotak dan meletakkan perbekalan. Kubuka kotak bekal berisi buah yang sudah dipotong-potong, puding cokelat, dan kue donat. Sementara itu, Atlas membuka roti sandwich isi tuna dan sosis, dua minuman jus dalam kemasan, dan snack yang dibelinya dari minimarket sebelum menjemputku. Kami duduk bersebelahan, sementara sinar matahari mulai bergerak menyinari kaki kami yang diselonjorkan.
Atlas tiba-tiba bertanya. "Suasananya selalu begini?"
"Kurang lebih, iya," aku mengangguk, memandangi sekeliling, dan mendadak saja rasanya bayangan Nenek ada di mana-mana. Juga Ayah dan Mas Kekar. Kami bertahun-tahun yang lalu. Aku mendadak teringat suara tawa kami, suara Nenek yang memanggil-manggil nama kami, dan Ayah yang memencet tombol kamera. Suara klik dan cahaya blitz menyilaukan mata untuk sepersekian detik. Kini momen semacam itu tidak akan pernah terjadi dan tenggorokanku rasanya seperti mendadak tercekik. Aku melihat sekeliling lagi dan yang keluar dari mulutku hanyalah, "Nggak banyak berubah."
"Tempat ini bagus juga," Atlas spontan berkomentar santai, memandangi danau sekilas, dan menoleh ke arahku. Matanya berbinar, lalu dia mengeluarkan kamera dan memotret pemandangan danau di depan kami beberapa kali. Setelahnya, dia menoleh lagi ke arahku, "Jadi, apa yang bikin danau ini sangat istimewa? Sering main ke sini, kan, dulu?"
Pertanyaan itu akhirnya tiba. Haruskah aku cerita? Ke Damita saja aku belum pernah cerita banyak tentang ini. Aku menekuk lutut di depan dada dan memeluknya, merebahkan kepala di atas kedua lutut dan menoleh lagi pada Atlas untuk memandangnya. "Iya, dulu sering ke sini sama keluarga. Piknik juga. Tapi, udah lama banget nggak ke sini." aku menggaruk-garuk siku yang sebenarnya tidak gatal, hanya karena gelisah.
"Oh, kapan terakhir?"
"Bertahun-tahun yang lalu."
Atlas mengangguk, ikut memeluk lututnya di dada, sedangkan matanya menyipit melihat sekelompok burung yang beterbangan melintasi semburat cahaya matahari. "Kenapa nggak ke sini lagi? Tempat ini bagus."
KAMU SEDANG MEMBACA
Atlas
JugendliteraturUntuk Atlas: Sekeras apapun usahamu, perempuan bernama Venus itu akan selalu tampak penuh misteri di matamu. Dunianya tak lain satu planet berisi koleksi kontradiksi dan kumpulan paradoks yang saling terikat, bertumpang tindih, bercampur aduk memben...
