Jumat Terbaik dan Terburuk

786 37 7
                                        

Hari Jumat minggu ini ditutup dengan berita resmi mengenai pencabutan status aktif Fathur sebagai murid sekolah kami yang diumumkan wali kelasku. Pelanggarannya yang terakhir memang sudah kelewat batas, tidak ada alasan bagi pihak sekolah untuk memberinya kesempatan lagi. Aku duduk di mejaku sambil mendengarkan lagu ketika Damita tiba-tiba membalikkan badannya dan memicingkan mata. Dia meninggalkan cemilan cokelatnya begitu saja di atas meja, padahal sejak tadi dia asyik mengunyah sembari menunggu bel pulang berbunyi. Bel pulang akan berbunyi sekitar dua puluh menit lagi, tapi guru Geografi yang merupakan wali kelas kami sudah selesai memberikan materi.

Damita melipat tangannya di atas dada dan aku makin tidak paham dibuatnya. Kulepas sebelah earphone-ku dan tergelak, "Mau protes apa, Ta?"

"Kok lo kelihatan santai, Nus? Anggota kelompok Bahasa Indonesia lo berkurang satu, lho. Mana Aya, kan, lagi sakit." Damita masih memandangku dengan tatapan heran.

Aku mengangkat bahu. "Memangnya kalau ada Fathur, apa bedanya?" kemudian, aku tertawa dan menyadari sesuatu yang membuatku langsung terdiam. "Dengan atau tanpa dia, yang bakal kerja pasti cuma gue."

Aku mengagumi Atlas dan sangat gembira begitu tahu sekelompok dengannya, tapi satu sisi aku cukup tidak yakin orang seperti dia akan bersedia bekerja banyak dalam suatu tugas kelompok. Mengingat rupa kelompokku yang kurang indah, aku tahu tugas ini akan memakan banyak sekali tenaga. Dan, tingkat kesabaran batin yang amat sangat dalam. Aku menghela napas, ingin rasanya meringis dan mengganti kelompok, tapi itu lebih terdengar seperti lari dari kenyataan. Cupu. Tugas ini akan menjadi salah satu hal yang berat, menuntut beberapa kali observasi, laporan berisi ribuan kata-kata, belum lagi soal dokumentasi, kemudian presentasi kelompok di akhir... oke, rasanya aku ingin menangis saja.

Damita seolah bisa membaca diamku, lamunanku, dan isi pikiranku. Wajahnya menunjukkan ekspresi malas yang tidak setuju. "Mikir yang aneh-aneh lo, ah. Di kelompok lo ada Atlas."

Aku agak sensitif setiap kali mendengar namanya, seolah daun telingaku langsung membesar dua kali lipat dari ukuran normal. Aku menahan senyum kecil yang hampir saja muncul walau hanya setengah detik. "Memang dia mau kerja?" lalu, berusaha sekeras mungkin untuk terlihat dan terdengar wajar.

Damita mengangkat bahu sambil menyeringai. "Siapa tahu?" kemudian, dia mengambil lagi camilan cokelat dan menggigitnya, setelah menawarkan padaku dan kutolak. "Bisa jadi dia banyak bantu. Bisa jadi, lho, yaaa. Tapi, Karinta, Adon, dan kawan-kawannya itu nggak ada sejarahnya rajin bantu-bantu kerja kelompok, sih. Ya, nggak usah berharap muluk, deh."

Dua kalimat terakhirnya membuatku semakin ingin menangis, tapi hanya kubalas dengan sebuah senyum kecil. Dalam hati aku sampai tak bisa habis pikir mengapa bisa-bisanya ditempatkan pada kelompok tidak hoki di saat-saat krusial seperti ini, di mana aku harus mati-matian mengerjakan semuanya demi menyelamatkan nilai dan meluluskan nyawa anak orang.

Damita lagi-lagi seolah mampu membaca pikiranku, kemudian menahan tawa. "Good luck, ya." Kemudian, sebuah tinju kecil dariku melayang ke lengannya.

Aku melirik jam di layar ponselku, sepuluh menit lagi bel pulang akan berbunyi. Sambil menunggu, kupasang kembali kedua earphone­-ku dan lagu Second Chance oleh Peter Bjorn and John berputar. 

You can't, can't, count on a second chance

The second chance will never be found

You can't, can't, count on a second try

The second try will never come home

Memang, aku sempat berpikir untuk membujuk ketua kelasku dan Bu Tanti supaya bisa pindah kelompok, tapi masa iya? Lagipula, aku masih punya keuntungan berada di dalam kelompok ini. Kapan lagi kesempatan mengobrol dengan Atlas terbuka lebar? Sementara, tahun depan segala sesuatunya pasti akan jadi jauh berbeda. Baiklah, Venus, jadikan tahun terakhir di SMA ini jadi tahun yang tidak akan kau sesali.

AtlasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang