Keesokan harinya, Minggu pagi, hari pertamaku berusia tujuh belas tahun, aku bangun dengan suasana hati yang sangat baik. Lebih bahagia dari rasa bahagia yang pernah kurasakan sebelumnya. Tentu saja, ini karena aku menghabiskan malam ulang tahunku bersama Atlas! Ya, kami berbincang berdua saja di atas perbukitan tidak jauh dari kota kami, pulang mendengarkan musik-musik The Beatles sambil bernyanyi keras-keras, dan jadilah hari di mana aku berulang tahun ketujuh belas menjadi salah satu hari terbaikku. Bisakah kau bayangkan? Menghabiskan waktu ulang tahunmu bersama seseorang yang sejak lama diam-diam kau suka? Hingga saat ini, ada perasaan meletup-letup, perpaduan rasa suka cita yang saling berbenturan tidak karu-karuan bercampur setiap kali menyadari bahwa kemarin—semalam—sungguhan terjadi. Bagaimana mungkin? Aku sendiri mempertanyakannya berkali-kali dan berpikir betapa lucunya, sering kali dunia bekerja dengan cara yang tidak pernah bisa diduga-duga.
Aku masih ingat benar bagaimana mata Atlas menyala ketika ia bercerita tentang perjalanan backpacker-nya dari pantai ke pantai, bagaimana caranya tersenyum setiap kali mengingat-ingat kenangan baik yang bisa dia gali, sementara rambut hitam tebalnya tertiup angin. Dia menganggumkan, selalu. Mana mungkin aku bisa melupakan hari kemarin? Itu adalah salah satu hari terbaik yang pernah kupunya dengan perpaduan yang sangat baik; toko musik, vintage store, bukit tempat memandangi seluruh penjuru kota, cerita-cerita yang kami bagikan, dan Atlas. Ingin rasanya kuucapkan terima kasih berkali-kali karena kehadirannya membuat ulang tahun ketujuh belasku begitu berkesan. Menjadi salah satu ulang tahun terbaik setelah bertahun-tahun lamanya mengalami ulang tahun yang kosong tanpa kehadiran Nenek, seseorang yang selalu menyiapkan hal-hal istimewa di hari ulang tahun cucu-cucunya.
Walaupun begitu, ucapan selamat dari Ayah belum juga kuterima hingga detik ini. Benar, hari ini—keesokan harinya—Minggu pagi yang cerah, di mana burung-burung yang berkicau sibuk beterbangan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya dan matahari mulai menggantung tinggi bersama gumpalan awan-awan. Ketika kusibakkan tirai dan kubuka jendela kamar, kudapati langit biru membentang, menaungi kepala-kepala balita yang duduk di atas kereta bayi dan sepeda roda tiga yang didorong entah oleh orang tua atau babysitter mereka, dan loper koran melemparkan gulungan-gulungan koran dari satu rumah ke rumah lainnya. Di salah satu rumah deretan depan rumahku, seorang tetangga kami, bapak-bapak yang tidak kukenal, sibuk mencuci mobil SUV hitamnya di garasi. Ini adalah Minggu cerah yang sepertinya menyenangkan bagi kebanyakan orang.
Tapi, tidak terlalu bagiku.
Entah mengapa, saat membuka mata tadi, moodku baik sekali karena langsung teringat kejadian kemarin dan semalam. Namun, setelah kurapikan tempat tidur, melipat selimut, menarik sprei hingga tampak rapi tanpa kerutan di sana-sini, menggosok gigi, mencuci muka, turun ke bawah untuk membuka kulkas sembari berpikir apa yang kira-kira bisa kumasak untuk santapan sarapan, moodku berubah. Tidak sebaik sebelumnya. Mendadak aku teringat lagi pada Ayah yang belum menyempatkan diri mengucapkan selamat ulang tahun, sementara di kulkas kudapati sekotak kue cokelat bundar berukuran sedang yang sama sekali belum diapa-apakan, belum disentuh sama sekali.
Lucu, bagaimana tidak biasanya, dia membelikan kue ulang tahun. Padahal, dia juga belum mengucapkan selamat sama sekali.
Sekarang ayahku bahkan belum bangun. Sofa di depan TV kosong, hanya tersisa bantal-bantal persegi yang tersusun tidak beraturan, dan koran yang dilipat secara asal tergeletak di atas meja kaca di depan sofa. Itu artinya, Ayah sudah pindah ke kamarnya semalam. Dari ventilasi udara di atas pintu kamarnya, kulihat lampu kamarnya masih dimatikan dan bagian bawah pintu kamarnya terasa dingin, pertanda pendingin ruangan masih dinyalakan. Sepertinya, Ayah masih terlelap di kasurnya.
Akhirnya, kuputuskan untuk membuat nasi goreng sosis. Dua porsi, satu untukku dan satu lagi untuknya. Barangkali dia mau.
Nasi goreng berwarna kecokelatan dengan irisan sosis, telur acak, dan sayur sawi itu akhirnya jadi. Kusantap sendirian di atas meja makan, sementara sinar matahari masuk dari sela-sela jendela yang terbuka di seberangku, dari ujung meja makan, menerangi hanya sebagian ruangan. Tidak lama kemudian, pintu kamar Ayah terbuka. Dia keluar dengan kacamata sudah menggantung di ujung hidungnya, rambutnya yang mulai kelabu tampak acak-acakan, kaosnya kebesaran di tubuhnya yang entah mengapa, semakin kurus. Satu hal pertama yang dia lakukan adalah membuka pintu rumah, merenggangkan tubuh, mengambil koran yang diselipkan loper ke sela-sela pagar rumah kami, masuk kembali ke dalam rumah, membuat kopi hitam panas, dan membacanya di meja makan. Dia duduk di hadapanku sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Atlas
Fiksi RemajaUntuk Atlas: Sekeras apapun usahamu, perempuan bernama Venus itu akan selalu tampak penuh misteri di matamu. Dunianya tak lain satu planet berisi koleksi kontradiksi dan kumpulan paradoks yang saling terikat, bertumpang tindih, bercampur aduk memben...
