39 - Low Point, In The Same Time

1.1K 186 9
                                        


cw // mention wound, fight and violence behavior.

.
.
.

Two Side

by varadea

.
.
.
.

chapter thirty nine

low point, in the same time

.
.
.
.
.
.
.

"Kau tidak ingin mengatakan apa-apa pada Ayah?"

Chenle menghentikan sejenak pergerakannya yang tengah memberi piring kosong beserta peralatan makan pada telapak tangan pelayan. Saat ia mengarahkan tatapan pada sang ayah, pelayan tersebut mengambil sendiri barang-barang itu kemudian undur diri.

Menyadari maksud dari perilaku pelayan tadi, helaan napas seketika keluar dari belah bibir Chenle. Ini tidak biasa, mereka bahkan baru saja menyelesaikan makan malam. Selama ini dalam kediaman mereka, tata krama di atas meja makan merupakan perihal penting.

"Apa maksud Ayah?"

"Kau benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?"

"Tidak mengerti, Ayah."

Tuan Zhong terkekeh tipis, ia tidak percaya mendengar sang putra mengatakan jawaban tersebut dengan raut tenang yang tak terlihat bersalah sama sekali.

"Kau benar-benar." Secara tiba-tiba, pria itu menggebrak meja makan dengan keras. Menimbulkan suara yang turut mengundang keterkejutan pelayan rumah. "Kau telah membohongi Ayah, Chenle!"

Manik hitam lelaki bersurai oranye itu membelalak. Degupan jantungnya tak teratur, Chenle mulai merasa tak tenang sekarang.

"Soal apa?"

"Masih bertanya?!" Sang ayah berdiri dari duduk, obsidian hitamnya memandang sang putra dengan tajam dan kesal. "Sudah berapa hari kau meninggalkan klub milik kerabat jauh kita?!"

Berengsek.

Chenle memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan kembali degupan jantungnya selepas jawaban tersebut keluar.

Setidaknya, ia harus merasa bersyukur karena masalah tersebut bukan mengenai perihal kebohongannya mengunjungi bar.

Sejujurnya, Chenle tidak pernah membayangkan bahwa kegiatan klub tersebut akan menjadi alasan kemurkaan sang ayah. Maksudnya, ia yang bodoh karena tidak memikirkan ini. Sudah jelas cukup lama meninggalkan kegiatan klub tanpa keterangan sama sekali akan menjadi tanda tanya besar bagi pembina.

Belum lagi, fakta bahwa pembina tersebut merupakan kerabat jauh mereka serta kehadirannya dalam klub tersebut disebabkan oleh permintaan sang ayah sendiri, tentu saja itu akan menjadi masalah.

"Aku bisa menjelaskannya, aku memiliki alasan."

"Alasan lagi?" sang ayah mendengus malas. "Kalau begini kenyataannya, beberapa pengakuanmu sebelumnya dengan berbagai macam alasan itu patut dipertanyakan."

"Tidak." Chenle menolak dengan tegas. "Bisakah Ayah menaruh fokus pada apa yang menjadi permasalahan kita sekarang?"

"Justru kau sendiri yang seharusnya mempertanggung jawabkan itu! Memangnya kenapa? Ayah jadi semakin yakin, kau pasti menutupi sesuatu."

"Aku punya alasan!" Tanpa menunggu pria itu mengeluarkan suara lagi, Chenle segera mengambil alih pembicaraan. "Aku mengaku, aku memang salah karena tidak selalu memberikan keterangan pada pembina klub di setiap ketidakhadiranku. Aku tahu itu salah."

two side | chensungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang