40 - Still On The Same Night

1K 156 8
                                        

.
.
.

Two Side

by varadea

.
.
.
.

chapter forty

still on the same night

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jisung mendorong pintu berbahan dasar kayu di hadapannya cukup keras. Benda yang digunakan sebagai penanda ruangan itu terbuka lebih cepat. Hyungseol, yang tengah menyentuh gagang pintu otomatis terkejut. Belum sempat memahami situasi, selepas pintu tertutup kembali, tubuhnya telah didorong keras.

"Berengsek, seharusnya kau memberiku aba-!"

Ucapan Hyungseol terpotong saat Jisung mencengkeram erat kerah bajunya. Lelaki jangkung itu mendorong tubuhnya kembali hingga punggung dan kepalanya menyentuh permukaan tembok.

"Aku tidak punya waktu untuk beramah-tamah dengan orang sepertimu." Jisung memberikan tatapan datarnya yang terlihat lebih menusuk. "Aku memberimu dua pilihan. Berikan ponselmu padaku atau kau sendiri yang hapus videonya tepat di hadapanku. Sekarang."

Hyungseol mengeluarkan tawa mengejek, ia paham ke mana arah pembicaraan mereka.

"Wah, wah, ada apa? Kenapa jadi kau yang ribut?"

Biadab.

Jisung semakin mencengkeram tangannya erat.

Jika bukan karena video yang Hyungseol kirim pada nomor Chenle, Jisung tidak akan sudi menginjakkan kaki ke dalam ruangan milik manusia biadab ini dan berurusan dengan sang pemilik.

Beberapa menit lalu, tepatnya setelah ia dan Chenle memutuskan untuk kembali, Jisung sempat mengantar lelaki bersurai oranye itu mengunjungi minimarket yang terbuka selama dua puluh empat jam.

Chenle menitipkan ponsel selagi masuk. Awalnya, ponsel itu hanya memberikan getar sebagai petanda notifikasi. Jisung tidak menaruh atensi pada pesan yang timbul pada tampilan layar. Namun, begitu manik hitamnya tak sengaja membaca nama yang dikenal muncul, jarinya seketika membuka percakapan tersebut dengan lancang.

+62 ...

halo, chenle.

ini seniormu, park hyungseol.

sudah lama semenjak terakhir aku memperkenalkan diri. tetapi bagaimana kalau kita tidak perlu berbasa-basi? aku akan memberikan sebuah video padamu. bisakah kau memberiku tanggapan dan alasan setelah melihatnya?

"Santai, kenapa wajahmu dihiasi memar begini? Siapa yang memukulmu? Bukankah aku belum sempat melakukannya lagi?"

Hyungseol mendengus meskipun Jisung semakin mengeluarkan tenaga untuk menekan tubuhnya pada tembok.

"Heh, jangan bilang pesan tadi tidak sampai pada Chenle, kau menghapusnya?"

"Bukan urusanmu. Sekarang hapus."

Hyungseol tertawa, "Bukan urusanku? Justru ini yang bukan urusanmu, anjing! Aku berurusan dengan Chenle, bukan Jisung!"

Jisung menarik kerah baju orang di hadapannya mendekat sebelum menekan tubuh itu kembali jauh lebih keras. Hyungseol meringis kecil. Dari jarak yang lebih dekat, ia dapat merasakan kekesalan tengah melingkupi netra hitam si lelaki jangkung.

two side | chensungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang