49 - After Solved

753 72 5
                                        

.
.
.

Two Side

by varadea

.
.
.

chapter forty nine

after solved

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sore ini tampak indah, langit lembayung yang menghias ruang luas terbentang di sana tampak cantik. Merah dan jingga yang berpadu dari turunnya sang mentari amatlah elok. Bangunan-bangunan kota di bawah sana yang mulai terlihat gelap tidak merusak pandangan itu sama sekali, kehadirannya justru menambah kesan hidup terhadap kedua manik hitamnya. Tidak heran banyak orang mengagumi pemandangan ini. Chenle yang sekarang mendudukkan diri di tempat yang terbilang tinggi merasa beruntung karena bisa menangkap perspektif ini tanpa perlu mengangkat wajah ke atas.

Akhir-akhir ini, hari berjalan dengan tenang.

Berbeda dengan situasi lalu.

Chenle tanpa sadar memejamkan mata, mengingat kilas balik di setiap langkah yang ia ambil sampai di titik ini. Rasanya luar biasa, perjalanan yang telah ia lewati sampai saat ini nyata. Walaupun banyak kejutan, masalah-masalah yang tak sesuai dengan apa yang telah ia persiapkan untuk hadapi, tetapi sekarang ia berada di sini. Berada di titik di mana ia ingin berdiri dan berjalan, menjadi dirinya sendiri dengan pribadi yang lebih baik dan nyata, tak lagi sebatas dibuat-buat dan terpaksa. Chenle selalu menginginkan itu untuk yang terbaik setelah banyak merasakan tekanan dan berat yang sangat mempengaruhi kehidupannya; tujuannya di masa mendatang.

Masih membekas dalam ingat, bagaimana dirinya yang berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, bahkan dengan rasa yang seolah mati, terombang-ambing mengikuti tekanan dari segala arah tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Di saat mencoba untuk bangkit kembali, untuk pertama kalinya Chenle mendapat tekanan keras, ia disuguhkan kenyataan yang amat pahit, di mana ia berada di antara keluarganya yang sama-sama memilih untuk bersikap egois. Di sanalah, ia berhadapan putus asa yang berat. Rasa kalut, takut, lelah, dan kekosongan menggerogoti akal sehatnya hingga ia hanya terpikirkan satu hal: menyerah.

Ah.

Itu ... benar-benar masa yang paling berat.

Tetapi seperti apa yang ia yakini dan pernah ia ucapkan pada sang ayah, Chenle tidak pernah menyesal dengan hari itu. Meskipun perilakunya amatlah salah dan tak akan pernah menyelesaikan masalah, ia mendapatkan pelajaran besar selepas sadar. Membuka kedua kelopak mata, menghirup udara dengan benar sebelum kembali menghadap realita, bersama dengan arahan yang datang dari pelajaran tersebut, keputusan selaku penggerak dirinya mulai saat itu juga. Dan Chenle amat sangat bersyukur, karena penggerak tersebut berjalan sebagaimana mestinya meski sempat melewati berbagai jatuh bangun lain dari perputaran roda. Berhasil, upayanya telah terlaksana, ia hanya perlu mengeksekusinya lebih luas lagi nanti: saat ia menghadapi orang-orang banyak.

Awalnya, ia memang khawatir.

Selama melakukan segala upaya dalam usaha, Chenle sering kali merasa lelah. Ia juga selalu berpikir apapun hasilnya nanti setidaknya ia telah berusaha. Namun, di sinilah ia sekarang. Berdiri menghadap dunia dengan kondisi yang jelas jauh lebih baik dari sebelumnya. Menapak di atas jalur yang mengarah pada roda penggeraknya yang dipersiapkan dengan amat sangat baik sesuai gambaran. Bahkan, tanpa perlu benar-benar berlaku egois sebagaimana bentuk respon yang ingin Chenle saksikan.

Karena ... perubahan datang.

Bukan hanya Chenle, tetapi Renjun, sang kakak beserta Tuan Zhong, sang ayah pun turut merubah presentasi diri.

two side | chensungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang