.
.
.
Two Side
by varadea
.
.
.
.
chapter forty two
not now, still need time
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Olimpiade dilaksanakan dua minggu lagi.
Pihak pembina serta pembimbing semakin gencar mengisi pertemuan dengan bahasan soal mendalam. Mereka juga memberikan beberapa lembar pembantu berupa soal-soal yang tergolong sulit serta ringkasan kecil yang pernah dibahas. Salah satu pembimbing turut berpesan pada mereka untuk terus mempelajari latihan-latihan soal serta mencoba menganalisisnya dengan baik.
Chenle tengah melakukannya sekarang. Dengan laptop menyala, pensil dan kertas kosong sebagai media coret-coret selagi mengerjakan latihan soal. Lelaki bersurai oranye itu mulai mencicil beberapa sebelum diteruskan di lain waktu. Mungkin bila cukup waktu, ia akan melanjutkannya nanti malam selesai mempelajari berkas perusahaan.
Lelaki bersurai oranye itu melakukan kegiatannya di luar. Ditemani segelas minuman hangat yang ia pesan serta Jeongin yang turut menemani bersama makanan kering dalam kunyahan.
Iya, ini adalah pertama kalinya bagi mereka untuk menghabiskan waktu bersama di luar. Selepas kegiatan belajar mengajar dan bimbingan olimpiade di sekolah selesai, mereka mendatangi sebuah tempat makan yang letaknya tak begitu jauh.
"Oh, kau sudah selesai?"
"Iya." Chenle menutup laptopnya kemudian meneguk gelas berisi minuman hangat yang ia pesan.
Tidak buruk.
Rasanya tidak jauh berbeda dengan minuman hangat berasa sama yang disajikan tempat makan lain.
"Tadinya aku baru mau menegurmu."
Chenle terkekeh, ia mulai menyuap makanannya yang belum tersentuh sama sekali.
"Kau mau memesan lagi kapan?"
"Sepertinya nanti, aku akan meminta mereka untuk membungkusnya."
Sebelum ini, Jeongin memang berniat memesan menu lain karena masih merasa kurang. Namun, setelah menghabiskan makanannya, ia malah merasa lebih baik untuk menyimpan makanan tersebut sebagai makan malam rumah.
"Ternyata perutku sudah kenyang." ujarnya sembari menepuk halus permukaan perut. "Ngomong-ngomong, apa Jiyon lulus seleksi?"
"Tidak."
Jeongin seketika membulatkan mulut, "Kau tahu? Sebelum memasuki ruangan klub jurnalistik, aku pernah sempat terkejut karena menemukan gadis itu sedang menangis di dalam sana dengan lampu mati! Aku berteriak keras karena mengira itu adalah hantu!"
Lelaki itu mulai terbawa suasana dalam ceritanya sendiri, "Anak jurnalistik lain juga terkejut. Kami tidak berani menyalakan lampu hingga akhirnya Daehwi selaku ketua terpaksa melakukannya."
"Dan kau tahu? Yang membuat kami lebih terkejut adalah posisi Jiyon yang tengah berjalan ke arah kita saat lampu baru saja menyala! Itu sungguh mengejutkan!"
"Setelah berdamai dengan situasi dan hendak mengajak gadis itu bicara, Jiyon sudah meminta maaf terlebih dahulu karena menggunakan ruangan tanpa izin kemudian meninggalkan kami secara terburu."
"Itu sewaktu masa seleksi selesai?"
"Iya." Jeongin mengangguk, nada bicaranya terdengar biasa sekarang. "Setelah tahu dia tidak lulus seleksi, mungkin itu yang menjadi alasannya menangis."
KAMU SEDANG MEMBACA
two side | chensung
Fiksi Penggemarchenle and jisung. different person but have a same situation. warn-! slow groove, some sensitive and triggering content as background and plot such as: bullying, toxic parents, violence, suicide thought and attempting to do it. ────────────────────...
