Sorry telat, ketiduran.
***
"Gamophobia"
"Cowoknya selalu panik kalo bahas pernikahan, dan biasanya selalu disusul sama kejadian fisik setelahnya, kayak gemeteran, pusing, nangis, jantungnya detak kenceng, terus sesak napas, bahkan gak jarang dia pingsan."
"Gejala yang tadi gue bilang itu namanya gamophobia. Phobia takut nikah"
Demi tuhan Gea tidak bermaksud memikirkan obrolannya dengan Zidni dan Refi tadi siang, namun entah kenapa penjelasan Zidni saat itu justru terngiang-ngiang dikepala Gea, yang akhirnya membuat gadis itu tak bisa tidur sekarang.
"Emang ada yah phobia kayak gitu?" Heran Gea "Gue baru denger"
Gea menatap Anna yang sudah tertidur disampingnya "Udah terlalu larut buat nanya Rian."
Bermodalkan rasa penasarannya yang tinggi, Gea meraih laptop diatas keyboardnya
Gamophobia
Beberapa artikel muncul setelahnya, tepat setelah Gea menekan tombol enter.
Memilih artikel paling atas, Gea lantas membukanya.
Setiap deretan kalimat yang tersaji Gea baca dengan perlahan dan teliti. Jika ditanya kenapa gadis itu melakukannya, Gea tidak tahu kenapa. Namun sejak mendengar apa yang Zidni obrolkan dengan Refi tadi siang, Gea mengingat satu nama. Sampai sekarang.
Geri.
Dan setelah membaca satu artikel, rasanya Gea mengerti arti dari ucapan Rian saat dirinya dan Geri hendak pulang dari rumah lelaki itu.
"Jangan tambah fikiran Geri dengan sikap lo yang kayak gini. Kasian dia."
Gea menutup wajahnya saat mengetahui satu fakta yang mengejutkan untuknya. Tubuh Gea tremor, gadis itu pusing dan tiba-tiba saja matanya berair.
"Gue harus ketemu sama Rian malam ini."
Diraihnya sweeter oversize miliknya dibalik pintu, Gea juga memasukkan ponsel beserta dompetnya kedalam kantong sweeter dan berpamitan pada Anna yang sedang tertidur.
"Anak baik, jangan cari Gema kalo kamu bangun tengah malem yah. Kalo cari air udah Gema siapin diatas nakas. Gema pergi dulu" diciumnya kening Anna sebelum Gea keluar, dan dengan langkah tergesa namun hati-hati agar mamanya tidak terbangun.
***
Rian sedang bermain game diruang tamu saat pintu rumahnya diketuk dengan bruntal.
Lelaki itu hanya menatap sekilas pintu bercat kayu tak jauh dari tempatnya bersemayam itu, dan kembali bermain game.
"Manusia gak ada otak mana yang bertamu malem-malem gini" acuhnya dan tetap berfokus pada layar didepannya.
Toktoktoktoktok
Rian masih mengabaikan itu.
"Jangan Rian. Kalo lo bagun, lo kalah." Ujarnya pada diri sendiri
Toktoktoktok
Rian menghela napas pelan
"RIAAAAAAAAAN!"
Rian melempar konsol game ditangannya sembarang arah mendengar teriakan itu. Dibukanya dengan tergesa pintu yang sudah ia kunci itu, dan dibuka dengan lebar
"Apaan sih?" Kesalnya
"Lo harus tanggung jawab Rian!"
Rian panik setengah mati mendengar teriakan Gea yang tak kalah keras dari sebelumnyaa. Lelaki itu menatap sekeliling lingkungannya yang beruntungnya sepi itu. Namun jika Rian membiarkan Ge a diluar terus tidak menutup kemungkinan jika lingkungannya akan ramai.
KAMU SEDANG MEMBACA
[BUKAN] Couple Goals 2
Teen FictionSequel [Bukan] Couple Goals "Lo kenapa sih marah-marah mulu?" "Hormon" "Hello, lo tiap hari marah-marah, itu haid apa pendarahan?" Seru Geri pelan Gea nyengir "Lo kan tau, gue sambil berak aja bisa kerja" "Bukan berak, tapi pup" koreksi Geri "Apa be...
![[BUKAN] Couple Goals 2](https://img.wattpad.com/cover/222020813-64-k495505.jpg)