Geri membuka pintu kamar Bams lalu Gea mendorong kursi roda lelaki itu masuk kedalamnya, dan melempar senyum pada beberapa orang disana
"Gue denger dari Rain." Ujar Bams "Kalo lo kena tembak."
"Bukan apa-apa" Geri menggeleng "Gimana keadaan lo?"
"Lukanya gak cukup dalem"
"Gue cek tensi darah lo."
Pernyataan Geri membuat Bams mengernyit "Lo kesini bukan buat jenguk gue?"
"Meskipun kita pake baju yang sama, gue tetep dokter."
"Tapi lo juga butuh diperiksa."
"Sekali lagi, gue dokter." Jawab Geri "Gue bisa tanganin diri gue sendiri."
Geri menatap Gea "Yangg"
Gea mengangguk dan berjalan keluar, memanggil seseorang dan tak lama ia kembali dengan seorang suster dengan peralatan yang tadi Geri minta
Lelaki itu mengeluarkan stetoskop dari saku baju pasiennya, dan diletakkan dikedua telinganya
Suster yang bertugas memasangkan manset, dengan memperhatikan selang sejajar dengan jari tengah lengan kanan. Setelah manset itu terpasang, suster tersebut merekatkannya dengan posisi sedang, tidak terlalu kencang, juga tidak longgar
Geri memposisikan alat pengukur tekanan darah sejajar dengan jantung, tepatnya dibagian dada kiri. Lalu menekan tombol “START” untuk mengaktifkan alat itu. Saat manset tersebut mengembang, Geri letakkan stetoskop tepat di dalam lipatan siku, di bawah manset.
"Untung lipetan siku lo gak ada dakinya" ujar Geri
"Belom aja lo garuk"
Geri mengempeskan balon ditangannya dan mulai mendengarkan detak jantung Bams melalui stetoskop. Ketika ketukan pertama kali terdengar, fokusnya terpusat pada nomor di monitor aneroid disampingnya
"Tekanan darah lo tinggi banget, nanti gue bakal kesini dan cek lagi." Geri melepaskan stetoskopnya dan ia gantungkan dileher
Suster yang bertugas melepaskan manset ditangan Bams dan berbenar.
"Kenceng banget mansetnya, lo masih marah sama gue?" Tanya Bams
Cica menoleh "Marah?"
"Cica Natasha" Bams mengulurkan tangannya "Seneng ketemu lo disini. Gue Bams, mantan pacar lo waktu SMA."
Rain yang ada disana terkejut, namun Alisha yang menyaksikan berpikir jika itu bukan hal baru lagi, begitu juga Fiza yang menyikapinya dengan santai
"Ini kak Bams?" Cica menatap Geri minta penjelasan, lelaki itu hanya mengendikkan bahunya
"Pura-pura lupa sama gue? Usaha yang bagus buat terlihat seolah lo udah lupa sama gue." Ujar Bams
"Aku beneran gatau" Cica menggeleng "Kakak polisi sekarang?"
"Mulia kan gue?" Bama nyengir "Gue juga jomblo dan lagi cari istri."
Gea berdecak sedangkan Alisha hanya mendengus. Rain semakin dibuat heran dan Fiza menggelengkan kepalanya
"Kalo gitu nanti aku cari kakak, dan kita nikah dikehidupan selanjutnya" Cica tersenyum
"Gue carinya sekarang, kenapa harus nunggu kehidupan selanjutnya?"
"Karena dikehidupan sekarang aku udah nikah." Cica menunjukkan cincin nikahnya dan pamit dari sana
"Lo tuh yah, heran gue usaha lo gak abis-abis." Geri menyingkap baju Bams untuk melihat bekas jahitan disana
KAMU SEDANG MEMBACA
[BUKAN] Couple Goals 2
Teen FictionSequel [Bukan] Couple Goals "Lo kenapa sih marah-marah mulu?" "Hormon" "Hello, lo tiap hari marah-marah, itu haid apa pendarahan?" Seru Geri pelan Gea nyengir "Lo kan tau, gue sambil berak aja bisa kerja" "Bukan berak, tapi pup" koreksi Geri "Apa be...
![[BUKAN] Couple Goals 2](https://img.wattpad.com/cover/222020813-64-k495505.jpg)