Abizar membuka pintu kamar Nadine dan mengejutkan beberapa orang yang sedang merias gadis itu, begitu pula dengan Nadine sendiri.
"Udah selesai? Ada yang perlu gue omongin sama dia." Ujar Abizar
Dua orang perias tersebut mengangguk dan meninggalkan keduanya. Abizar berjalan kearah pintu dan menguncinya.
"Apa penting banget sampe harus dikunci segala?" Tanya Nadine
"Gue takut papa denger." Lelaki dengan balutan kemeja putih dan jas hitam tersebut duduk diatas ranjang Nadine.
"Ada apa?" Nadine memutar duduknya menjadi menghadap Abizar
"Nadine Chandra Pradana."
"Udah lama gak denger kamu panggil nama aku." Nadine tersenyum
"Gue gak mau basa basi. Gue mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Berapa lama kita ada di situasi yang menjijikan ini?"
"Kenapa kamu fikir pertunangan kita sesuatu yang menjijikan?"
"Haruskah gue jawab? Pertanyaan bodoh lo?" Abizar berdecih
"1 tahun?"
"Wah, lama juga si tua bangka itu siksa gue." Abizar berdecak "Lo... Taukan, gue tipe seseorang yang gak cukup satu?" Lelaki itu tersenyum samar
Nadine menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk "Iya."
"Dan selama acara pertunangan kita digelar dibali, gue lagi-lagi jatuh cinta sama seseorang. Kita ketemu disituasi gak terduga, dan itu beberapa hari sebelum gue terbang ke bali. Kita ketemu lagi di pets shop dan sejak saat itu gue suka sama dia." Cerita Abizar dengan tenang
Nadine meremas ujung dres yang dikenakannya, namun senyum manis yang penuh kepalsuan terus tersungging dibibirnya.
"Perasaan gue ke dia semakin dalam, dan gue selalu marah sama lo karena selalu ngerusak imajinasi gue." Lanjut Abizar
"Siapa?"
"Apa lo peduli sekarang? Dia bukan yang pertama." Lelaki kriting tersebut menggeleng "Tapi, dia jadi alesan terkuat gue buat batalin pertunangan kita."
"Kenapa kamu kasih tau semua ini ke aku?"
"Udah gue bilangkan kalo dia alesan terkuat gue batalin pertunangan sialan ini."
"Diluar banyak orang yang dateng ke acara kita. Gimana bisa kamu ceritain semuanya dengan tenang?" Nadine jengkel "Gimana bisa kamu ngomong sekejam itu sama aku?"
"Gue tau betul sama posisi kita." Abizar berdiri menjulang dihadapan Nadine, membingkai wajah gadis itu dengan kedua tangannya dan mengelus pipi Nadine yang terasa halus dikulit tangannya "Lo itu cantik. Cantik banget. Jadi jangan sampe kita bergerak terlalu jauh, dan ayo selesein semuanya sekarang."
"Aku hamil."
"Gue tau."
"Anak kamu"
"Gue tau itu. Tapi, itu bukan alesan buat gue terus bertahan sama lo." Abizar melepaskan tangannya cukup kasar "Kalo lo mau pacaran dan nikah sama siapapun terserah, toh ayah biologis bayi itu tetep gue. Dan masalah kita, Kalo lo yang ngomong ke papa semuanya bakal selesai."
"Kamu mau kemana?" Pertanyaan Nadine menghentikan langkah Abizar didepan pintu "Jangan bilang kamu mau keluar cari cewek itu?"
"Gak ada alesan buat gue gak ngelakuin itu."
"Papa bisa marah kalo tau Zar!" Nadine berdiri marah
Abizar berbalik "Selama 26 tahun gue selalu patuh sama dia kayak kerbau yang dicocok idungnya. Gue jadi penasaran sama apa yang bakal dia lakuin ke gue kalo tau." Acuh Abizar dan melangkah keluar kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
[BUKAN] Couple Goals 2
Novela JuvenilSequel [Bukan] Couple Goals "Lo kenapa sih marah-marah mulu?" "Hormon" "Hello, lo tiap hari marah-marah, itu haid apa pendarahan?" Seru Geri pelan Gea nyengir "Lo kan tau, gue sambil berak aja bisa kerja" "Bukan berak, tapi pup" koreksi Geri "Apa be...
![[BUKAN] Couple Goals 2](https://img.wattpad.com/cover/222020813-64-k495505.jpg)