Saya gak pernah paksa kalian buat mampir dan baca cerita saya kan, entah itu yang pertama ataupun yang kedua, yakan?
Kalian ada disini karena kemauan kalian sendiri, kan? Entah itu ketemu di work atau kalian emang cari, gak ada paksaan dari siapapun kan?
Jadi kalo menurut kalian alurnya terlalu bertele-tele atau jalan ceritanya gak jelas, ya tinggalin udah, jangan dibaca lagi. Saya nulis emang karena hobi, kalo kalian suka berarti bonus.
Gak terlalu kasar kan?
***
Setelah melihat hasil rekaman yang Bams dapatkan secara rinci, akhirnya Geri menyimpulkan jika Sella sekarang bersama Gibran. Jadi untuk memastikan, Geri akan menghubungi Sella karena selama ini tak ada satupun panggilan darinya yang gadis itu lewatkan.
"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau—"
Geri mencoba lagi.
"Nomor yang and—"
"Gak aktif nomornya" Geri mendesah pelan
"Lo tau rumah mereka? Siapa tau mereka ada dirumah" usul Bams
"Apa mungkin dirumah sakit?" Geri menoleh "Bisa jadi mereka kerja."
Bams mengangguk dan mulai menyalakan mesin mobil Geri, ia yang akan mengemudikannya sekarang. "Kita kerumah sakit kalo gitu."
Geri memasang seltbelt pada tubuhnya saat Bams mulai menjalankan mobilnya. Suasana hening selama perjalanan, sampai sebuah dering ponsel mengejutkan keduanya.
Geri meraih ponselnya diatas dashboard dan menerima panggilan masuk dari sang Ayah "Kenapa Yah?"
"Abizar sama Arsella temen-temen kamu kan?"
"Iya, kenapa?" Geri bertanya karena bingung maksud sang Ayah bertanya seperti itu.
"Mereka kamu rekrut kerja di klinik?"
Geri menggeleng, merasa bodoh dengan perbuatannya lelaki itu menjawab "Nggak"
"Terus kenapa ngundurin diri?"
Geri terkejut "Siapa? Sella, atau Gibran?"
"Keduanya. Tapi disini namanya Abizar, bukan Gibran."
"Iya, Abiz—"
Geri menghentikan ucapannya saat akan menyebutkan nama yang selama ini tidak pernah ia sebutkan.
"Abizar?" Gumamnya "Abizar itu..."
"Ger, dirumah sakit lo ada yang namanya Abizar?"
Geri mengingat-ingat sebentar lalu menggeleng "Gak ada"
"Katanya dia kerja dirumah sakit bokap lo"
"Gak ada yang namanya Abizar yangg dirumah sakit."
"Dokter anak?"
"Dokter anak cuma Gibran. Bebel banget lo dikasih taunya"
Dan pembahasan mereka sebelumnya. Geri ingat jika Gea sempat menyebut nama Abizar padanya. Bagaimana bisa Geri melupakan nama asli Gibran yang sebenarnya adalah Abizar?
Geri membenturkan kepalanya pada dashboard mobil dan ponsel yang terjatuh dari tangannya. Ia bodoh. Bodoh sekali.
"Kenapa? Bokap lo bilang apa?" Bams melirik Geri sekilas dan kembali fokus mengemudi
"Bodoh gak sih gue, ternyata selama ini Abizar itu Gibran" gumam Geri
"Gimana?"
"Abizar itu Gibran dan Gibran itu Abizar" Geri menoleh
KAMU SEDANG MEMBACA
[BUKAN] Couple Goals 2
Ficção AdolescenteSequel [Bukan] Couple Goals "Lo kenapa sih marah-marah mulu?" "Hormon" "Hello, lo tiap hari marah-marah, itu haid apa pendarahan?" Seru Geri pelan Gea nyengir "Lo kan tau, gue sambil berak aja bisa kerja" "Bukan berak, tapi pup" koreksi Geri "Apa be...
![[BUKAN] Couple Goals 2](https://img.wattpad.com/cover/222020813-64-k495505.jpg)