48- Mencari Bukti

2.3K 568 144
                                        

Makasih buat ucapan ulang tahun sama doanya. Gak terlambat buat bilang makasih kan?

Gak nyangka sih lumayan banyak yang ngasih doa, kirain bakal di skip.

***

Suara tangisan yang terasa sangat dekat ditelinganya membangunkan Geri dari tidurnya. Rasa pusing dikepalanya adalah hal yang ia rasakan begitu membuka mata.

"Dek, lo kenapa nangis?" Teriak Geri setengah sadar "Cila? Pricilla Nugraha? Si sarden apain lo? Dek!"

Mata Geri terbuka sempurna saat otaknya mengatakan jika itu bukan Cila. Suara tangisan itu bukan suara adiknya. Dan saat itulah Geri sadar jika temapatnya kini juga bukan kamarnya.

Kemana perginya gambar meja billiard dilangit-langit kamarnya? Kemana perginya aroma buah yang selalu ia pakai untuk pengharum ruangan?

Geri menoleh dan terkejut melihat Sella disampingnya, sedang menangis. Ternyata gadis itu penyebabnya.

"Sell?"

Geri berusaha untuk bangun, namun lagi-lagi dirinya dikejutkan dengan tubuh bagian atasnya yang tidak terbalut apapun. Reflek Geri menatap kakinya, lalu bernapas lega ia masih memakai celana yang ia ingat jika ia memakainya semalam

"Lo kenapa nangis?" Tanya Geri. Lelaki itu memakai kaos miliknya dan duduk tegak disamping Sella "Kasih tau gue lo kenapa nangis?"

Tangisan Sella malah bertambah kencang saat Geri berusaha menyentuhnya, dan itu membuat Geri frustasi karenanya.

"Kita gak ngapa-ngapain kan? Ini gak sama kaya apa yang otak gue bilangkan, Sell?" Desak Geri "Lo kenapa nangis? Jangan cuma nangis, ngomong!"

"Hiks" Sella semakin memeluk lututnya sendiri dan menangis semakin keras. Bahkan tubuh gadis itu bergetar kuat, seolah sesuatu yang buruk sudah gadis itu lewati.

Geri memegang kedua pundak Sella membuat tubuh gadis itu bergetar dan tangisannya semakin kencang. Geri tak memperdulikan itu, ia gerakkan kedua tangannya membuat tubuh Sella ikut bergerak

"Kenapa lo disini? Ini kerjaan lo kan? Apa lagi yang lo rencanain Sell? Kenapa lo terobsesi banget hancurin hidup gue! Tanpa lo ikut campur tangan hidup gue udah berantakan!" Teriak Geri "Gea bisa bunuh gue kalo tau ini!"

"Hikh" Sella tak mengatakan apapun selain isakan yang keluar dari bibirnya.

Geri melepaskan pundak Sella yang kian bergetar dan memilih memijat pangkal hidungnya karena tiba-tiba saja kepalanya diserang migrain.

"Gibran"

Saat satu nama itu terlintas dikepalanya, Geri langsung meraih ponselnya yang kebetulan berbunyi beruntun saat itu. Namun sebelum mencari tau siapa yang mengiriminya pesan, Geri sempat saling melempar tatapan dengan Sella, dan kini gadis itu kembali menunduk

"Lo liat gue waktu gue nyebut nama Gibran. Tapi kalo gue tanya lo gak bakal jawab kan?" Tanya Geri yang hanya dibalas isakan.

Mengacuhkan Sella, Geri akhirnya membuka ponselnya, dan sebuah pesan berhasil merenggut akal sehatnya.

Gibran mengirimkan sebuah foto.

Foto dirinya dan Sella yang tertidur diatas ranjang yang sama dan tanpa busana bagian atas.

Keriting
Gue bakal hapus foto ini kalo lo bilang 'Iya' sama apa yang gue mau

Keriting
Simple kok.

Keriting
Tinggalin Gea.

Geri mendial nomor itu dan tidak aktif. Lelaki itu terus mencobanya yang selalu berakhir sama, tidak aktif. Geri menjambak rambutnya kuat karena frustasi. Jangan sampai foto itu sampai ke Gea atau semuanya akan berantakan. Namun jika syaratnya harus meninggalkan Gea, Geri tidak akan melakukan itu. Meninggalkan Gea bukan jawabannya.

[BUKAN] Couple Goals 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang