"Geri blokir gue"
Abizar mengusap sebelah telinganya yang panas karena ocehan Sella sejak 10 menit yang lalu mengeluhkan nomornya yang diblokir Geri. Jika boleh jujur Abizar juga tengah kalut karena Gea melakukan hal yang sama, memblokir kontaknya. Hal lain yang membuat Abizar semakin kalut adalah itu satu-satunya kontak Gea yang ia miliki. Jadi saat gadis itu memblokir akun instagramnya, Abizar melamun sejak tadi.
"Lo denger gue gak?" Suara kesal Sella kembali masuk pendengaran Abizar
Lelaki itu menoleh kearah ponselnya yang ia setting mode loaspeaker diatas nakas "Suara lo nyaring gitu. Mustahil gue gak denger"
"Lo katanya ngajak gue kerja sama, kapan?"
"Nanti"
"Gue udah menggila ini."
"Gue juga, cuma lo sabar. Kalo masih banyak stok ide diotak lo buat goda Geri, lakuin aja. Gue butuh waktu yang pas buat jalanin rencana gue."
"Tapi bakal sukses kan?"
Abizar tersenyum samar "Tenang aja. Semuanya bakal lancar. Dan tugas lo cuma harus percaya sama gue dan serahin semuanya sama gue."
"Awas aja kalo sampe lo bohongin gue" ancam Sella
"Iya"
"Gue tutup" setelah mengatakan itu Sella mematikan sambungan telpon mereka. Abizar membiarkan ponselnya diatas nakas sedangkan dirinya berbaring diatas ranjang.
Helaan napas berat ia hembuskan saat otaknya secara otomatis memikirkan kontaknya yang Gea blokir.
"Gue bener-bener menggila cuma karena satu nama" Abizar mengacak rambutnya kesal. Kembali bangkit untuk meraih ponselnya, Abizar membuka galeri dan menatap lama foto Gea yang ia ambil secara diam-diam saat ada kesempatan berdua dengannya.
"Gue bahkan sampe suka sama lagu Believer karena dia suka sama lagu itu. Banyak judul film sampah yang juga gue hapal karena gue tau dia suka film menye-menye kayak gitu. Apa sedalem ini perasaan gue buat dia?" Abizar bergumam pelan
"Ternyata suka sama orang yang gak suka balik sama kita tuh lebih seru dan menantang. Sakitnya juga gak ngotak"
***
Andine menatap putrinya yang baru saja turun dari lantai dua dan berjalan lurus kearah pintu utama, tanpa menatapnya dan melewatkan waktu sarapan. Gea masih marah padanya karena kejadian semalam.
Lama Andine bertahan dalam posisi memeluk Gea yang histeris, berusaha menenangkan gadis itu namun tidak membantu meredakan tangisan putrinya. Hingga Gea dengan sendirinya menarik diri dari pelukan Andine
"Pesawat terbang yang udah siap landas dalam kecepatan tinggi gak mungkin tiba-tiba puter balik, karena bisa aja bahayain penumpang sama yang ada disekitar. Sama kayak nikah" ujar Gea ditengah tangisnya "Aku lagi nunggu Ma. Jadi mohon buat gak desak aku selama aku nunggu waktu itu. Kalo mama lakuin hal kayak tadi, Geri bisa aja sakit atau gila. Mama mau liat Geri frustasi? Atau liat anak mama yang terus menerus ngerasa bersalah?"
"Mama gak ngerti dimana kesalahan mama"
"Meskipun Geri anak sahabat mama, tetep aja Geri anak orang. Gimana perasaan mama kalo ada yang ngajuin pertanyaan yang mama ajuin ke Geri tadi?" Tanya Gea "Geri itu normal. Dia mati-matian nahan nafsunya meskipun dia pengen banget luapin semuanya ke aku. Tapi dia tahan itu karena itu gak bener."
"Mama gatau masalah itu. Emang ada apa sama kalian?" Bingung Andine. Ditanya seperti itu Gea kembali menangis
"Geri kesakitan. Dan akar dari masalahnya itu aku, dia nahan rasa sakit itu sendirian selama ini. Dan setelah aku tau masalahnya, aku gak akan diem aja. Dan dengan gak ngajak dia nikah itu solusinya"
KAMU SEDANG MEMBACA
[BUKAN] Couple Goals 2
Teen FictionSequel [Bukan] Couple Goals "Lo kenapa sih marah-marah mulu?" "Hormon" "Hello, lo tiap hari marah-marah, itu haid apa pendarahan?" Seru Geri pelan Gea nyengir "Lo kan tau, gue sambil berak aja bisa kerja" "Bukan berak, tapi pup" koreksi Geri "Apa be...
![[BUKAN] Couple Goals 2](https://img.wattpad.com/cover/222020813-64-k495505.jpg)