23. KERINDUAN YANG MENDALAM

3.6K 147 0
                                    

~melukis bayangmu~

Ku melintas pada satu masa
Ketika 'ku menemukan cinta
Saat itu kehadiranmu
Memberi arti bagi hidupku
Meskipun bila saat ini
Kita sudah tak bersama lagi
Ada satu yang kurindu
Kehangatan cinta dalam pelukanmu
Ho-o ...
Biarkan aku melukiskan bayangmu
Karena semua mungkin akan sirna
Bagai rembulan sebelum fajar tiba
Kau selalu ada
Walau tersimpan
Di relung hati terdalam
Ho-o-o ...
Biarkan aku melukiskan bayangmu
Karena semua mungkin akan sirna
Bagai rembulan sebelum fajar tiba
Kau selalu ada
Walau tersimpan
Di relung hati terdalam
Karena semua mungkin akan sirna
Bagai rembulan sebelum fajar tiba
Kau selalu ada
Walau tersimpan
Selalu kusimpan
Di relung hati terdalam

23. KERINDUAN YANG MENDALAM

Rara membuka jendela kamarnya dengan perlahan, kemudian dia menikmati sejuknya udara di pagi hari. Pemandangan di luar jendela membuat Rara betah berlama-lama di sana, pepohonan yang membuat mata enak memandang. 

Rara menghirup nafasnya dalam, kemudian dia membuangnya perlahan. Kilauan matahari yang menerpa Indra penglihatan nya membuat Rara merasa sedikit silau, dia reflek memundurkan diri hingga badannya menerpa sesuatu yang empuk di belakang sana.

"Eh," kata Rara kala tangan seseorang memegang lengannya kemudian dia berbalik ke belakang.

"Hati-hati Ra," ujar dokter Reska, dialah yang berada di belakang Rara dan kini berada di depan gadis itu.

"Eh dokter Reska, maaf dok," kata Rara tidak enakan, dia jadi merasa agak canggung.

"Enggak apa Ra, kamu kan enggak sengaja," balas dokter Reska pengertian, dia tersenyum pada Rara.

"Iya dok hehe."

"Dokter Reska sejak kapan ya disini?" Tanya Rara.

"Barusan kok Ra," jawab dokter Reska. "Pas sekali saat kamu mundur tadi sayanya datang," sambungnya.

Rara manggut-manggut.

"Btw, Dokter mau kemana? Kok rapi banget," Kata Rara pada dokter Reska setelah menelaah penampilan lelaki itu. Berkemeja, celana jeans panjang, tatanan rambutnya tersusun rapi meskipun basah, maskulin, pokoknya penampilam dokter Reska saat ini sungguh berbeda dari yang biasanya, tidak seperti seorang dokter yang biasanya menggunakan jas dokter karena harus siaga merawat pasien selama dua puluh empat jam.

Rara maju selangkah, "wangi lagi," katanya setelah mencium aroma dokter Reska.

"Saya mau kebalai desa Ra. Hari ini kan acara perpisahan nya, masa kamu tidak ingat," ujar dokter Reska pada Rara. Mengingat masa tugas dokter Reska sebagai relawan di desa mekar indah sudah habis, dokter Reska beserta warga pun akan mengadakan acara perpisahan.

"Oh iya ya dok," kata Rara sembari menabok jidatnya pelan. "Kok aku malah lupa ya?" Tanya nya entah pada siapa.

"Kamu kesenangan kali Ra. Mentang-mentang mau pulang ke Jakarta juga yang lainnya malah di lupain."

"Gak gitu tau dok," bantah Rara walaupun sebenarnya apa yang diucapkan dokter Reska itu benar adanya.

"Masa?"

"Iya dokter...,"

"Emangnya kamu gak senang  Ra? Sebentar lagi kan kita bakal ke Jakarta. Saya pulang dan sekalian cari keluarga kamu di sana, yakin nih gak senang?"

"Ya senang sih," kata Rara akhirnya mengaku.

"Udah siap belum kembali ke asalmu?" Tanya dokter Reska pada Rara.

Memory While Sleeping (end)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang