46. PERKARA
Geisha menangis di dalam kamarnya, kejadian tadi masih sangat membekas di hatinya. Geisha tidak bisa lupa, apalagi tentang perkataan mantan suaminya yang nauzubillah. Geisha tidak menyangka Regan akan kembali menyakitinya, pasalnya mereka sudah tidak terikat. Namun dugaan Geisha salah, mantan suaminya itu tidak pernah berubah.
"Tuh cowok kenapa jahat banget sih sama gue? Pake ngatain murahan lagi. Emang gue murahan apa? Dasar gak punya hati," kata Geisha di sela isakannya sembari memilih seprai kasur, dia terlampau kesal pada Regan. "Dari dulu enggak pernah berubah, emang ya kalau sekali nya brengsek bakal tetep brengsek," Geisha mengoceh lagi, tentu saja di tujukkan pada Regan.
Geisha duduk tegak sembari menatap ke depan, "Sebenarnya salah gue itu apa sih? Kenapa gue enggak pernah bahagia? Di sakitin, di selingkuhin, di hina bahkan di rendahin pun udah pernah gue lalui. Gue ini tercipta buat apa? Buat Menderita?"
Geisha tertunduk dalam, pikirannya kacau. Dia tidak mengerti dengan takdir hidupnya, rasanya sangat pahit dan tidak tertata. Bila sudah di tata, mungkin Tuhan sengaja memberinya takdir yang tidak indah. Geisha mendadak lupa dengan kehidupan nya yang sudah-sudah, dia juga pernah merasakan kebahagiaan. Tetapi yang Geisha rasakan saat ini adalah rasa pahit, sakitnya yang melebihi kebahagiaan di waktu lampau.
Tok...to..tok...
"Gei," Ujar seseorang dari luar kamar Geisha membuat litensi Geisha beralih. "Kamu di dalam Gei? Mama masuk ya," katanya lagi, dari suaranya Geisha dapat mengetahui kalau orang itu adalah ibunya alias Luna.
Geisha cepat-cepat menghapus bekas air matanya, dia menatap kerah pintu. "Iya mah."
Ceklek.
Pintu kamar Geisha terbuka dan menunjukkan Luna, wanita itu menghampiri Geisha. Geisha tersenyum kearah ibunya, setidaknya dia harus menutupi kesedihannya dari orang lain meski itu Keluarga nya.
"Gei... Ternyata kamu di sini sayang?" Luna duduk di samping Geisha dan menghadap anaknya. "Kamu pulang duluan ya? kita sempat cari-cari kamu loh tadi," katanya.
"Em, iya mah. Maaf ya mah Geisha enggak bilang dulu, soalnya tadi Geisha buru-buru pulang karena mau ngerjain tugas dari kampus," kata Geisha, jelas sekali bahwa dia sedang berbohong. Geisha meminta maaf kepada Luna di dalam hatinya, tidak mungkin dia memberitahukan yang sebenarnya.
"Iya sayang, enggak apa-apa kok."
"Tapi, kamu pulang sama siapa Gei? Dokter Reska?" Tebak Luna tepat.
"Iya mah, tadi aku dianterin dokter Reska," jawab Geisha. Tadi Dokter Reska memang mengantarnya pulang, tepatnya setelah kejadian menyakitkan itu.
Luna manggut-manggut kemudian menatap Geisha. "Oh iya Gei, mama boleh nanya sesuatu sama kamu?"
"Boleh mah. Mau nanya apa?" Tanya Geisha dengan suara agak serak, untung saja Luna tidak curiga.
"Kamu sama dokter Reska gimana?"
"Maksud mamah?" Jujur Geisha tidak mengerti.
"Maksud mamah hubungan kalian Gei," beritahu Luna. "Apa kalian... Punya hubungan khusus? Atau lebih dari teman?" Tanyanya.
"Uhuk...," Geisha reflek terbatuk. Pertanyaan Tamara sangat menyentuh hatinya, dia merasa tergiur.
"Kok malah batuk Gei, jawab dong," pinta Luna.
Geisha menatap ibunya, "mama kok nanyain Geisha tentang ini? Enggak ada pertanyaan yang lain gitu mah?"
"Enggak Gei. Mama cuma pengen tahu aja, mama liat-liat kan kalian dekat tuh. Jadi mama mau dengar langsung dari kamu, kelihatannya kalian punya hubungan spesial."

KAMU SEDANG MEMBACA
Memory While Sleeping (end)
Dla nastolatków"Kamu berubah Gan, kamu bukan Regan yang aku kenal," Kata Geisha kepada suaminya. "Gue gak berubah Gei. Kalau pun gue berubah, Lo orang yang udah ngerubah gue," Balas Regan menohok hati istrinya. Cerita ini mengisahkan sepasang suami istri yang sed...