Firasat Sean

8.5K 586 36
                                        

Part 39

"Ngapa lo senyum-senyum?" tanya Rigel pada Sean yang saat ini sedang mengikat tali sepatunya setelah baru saja mengganti seragam abu-abunya menjadi seragam olahraga.

Sean menoleh pada Rigel yang masih menatapnya. "Ternyata nikah gak seburuk itu ya," ucap Sean yang mampu membuat Rigel menaikan kedua alisnya.

"Kenapa tiba-tiba bilang gitu?" tanya Rigel.

Sean ikutan menyandarkan diri pada tembok di belakangnya. Keduanya kini memang tengah duduk di kursi permanen di depan kelas mereka.

"Gue ngerasa bahagia aja. Apalagi bentar lagi gue bakal punya anak," ungkap Sean dengan mata menerawang.

Rigel dapat melihat pancaran binar bahagia dari mata Sean. Senyum kecil terbit dari bibir Rigel. "Lha? Itu anak lo?"

Sean mendelik. "Terus itu anak lo gitu? Enak aja!"

Rigel mengedikan bahunya acuh. "Tapi dulu lo nyuruh buat gugurin?"

Sean menghembuskan napasnya kasar. "Gila sih. Itu adalah momen terkalut dalam hidup gue saat ngebayangin kalo sampe iya Zea lakuin itu."

Rigel terkekeh. "Tapi kan lo jadi tahu kalo Zea emang bener-bener sayang anak itu, bukan cuma karena mau balas dendam sama orangtuanya."

"Iya, dan gue bersyukur atas itu."

"Lo udah cinta dia?" tanya Rigel.

Baru Sean akan menjawab Rigel terlebih dulu menyela. "Eh salah pertanyaan. Harusnya gini, lo udah bilang ke Zea kalo dari awal pernikahan kalian lo udah cinta sama dia?"

Sean mendengus kemudian terkekeh kecil. "Dia bakal percaya gak ya kalo gue bilang begitu?"

"Muka lo emang bukan muka orang jujur sih," jawab Rigel sedikit mencemooh. Sean berdecak saja.

"Ayok buru ke lapang malah ghibah lo berdua," ucap Geo yang baru saja keluar dari dalam kelas di ikuti Arthur di belakangnya. Kedua orang itu lalu berlari meninggalkan Sean dan Rigel menuju lapangan.

"Di tungguin malah ninggalin," ucap Sean yang memang diam di depan kelas karena menunggu Geo dan Arthur yang masih berganti baju di dalam.

"Gak tahu diri emang si duo kampret itu," timpal Rigel. Lalu keduanya kemudian berdiri dan menyusul kepergian Geo dan arthur.

***

Prittt

Peluit panjang sudah terdengar, dua tim yang kini sedang beradu di lapangan saling berlarian berniat memperebutkan satu bola yang kini sedang di kuasai oleh Sean.

"Se oper Se!" teriak Geo yang berada dekat dengan gawang. Sean yang melihat itu langsung saja menendang bola yang di giringnya menuju tempat Geo berdiri. Namun, bola yang baru saja Sean ingin berikan pada Geo melenceng dan langsung di rebut oleh pemain lawan.

Geo di tempatnya berdecak dengan tangan yang sudah berkacak pinggang. "Ah Sean payah," ucapnya lalu mulai kembali berlari ingin merebut bola dari lawan.

Sedangkan Sean hanya menggelengkan kepalanya pelan. Entahlah Sean sedang merasa kurang fokus saat ini. Perasaannya entah mengapa terasa sedikit mengganjal dan resah.

Rigel datang menghampiri Sean yang masih berdiri mematung di tengah pertandingan futsal satu kelas itu. "Gantian Se," tepuk Rigel pada Sean.

(Not) Bad Marriage [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang