Part 21

33.3K 1.9K 8
                                        

Setelah kepergian Daffa dan Sella, kini hanya ada Dina, Galen, Fahri, Justin dan Vio. Mereka memakan makanan mereka masing-masing, kecuali Vio yang memang tidak bisa makan pakai tangan kanan, karena masih sakit, alhasil ia berbohong kepada Dina bahwa ia tidak ingin makan.

"Hai Galen," sapa seorang gadis yang akhir-akhir ini baru saja kelihatan.

"Pacar lo mana? Atau udah putus?" tanya Risa.

"Bukan urusan lo!" ketus Galen.

"Lo kan habis diskors tiga hari, kenapa seneng amat tuh muka?" tanya Justin.

"Iya dong, gue kan abis liburan. Orang kaya mah bebas," ucap Risa menyombongkan dirinya.

"Kok muka lo makin kusam?" tanya Justin mengejek.

"Iya betul tuh, wajah lo juga kayaknya jerawatan deh," timpal Dina.

"Kulit lo juga iteman Ris," celetuk Fahri.

"Lo habis liburan kok muka lo nambah jelek si?" ejek Justin.

"Apaan sih? Gue masih cantik kok," sahut Risa.

"Lebih cantikan gue kali daripada Sella," sambung Risa.

Dina, Fahri dan Justin masih terus mengejek Risa, sementara Galen dan Vio hanya diam memperhatikan perdebatan mereka.

"Eh, hallo Vio," sapa Risa sok ramah yang baru saja menyadari ada keberadaan Vio, yang tentu saja ada maksud tersembunyi dibalik sapaannya.

"Lama gak ketemu ya, sekalinya gue ketemu lo, eh kondisi lo mengenaskan. Ini tuh pasti karma karena lo berani nentang gue waktu itu. Coba aja kalo lo gak nggak sok-sokan ngebelain sahabat lo yang sok polos itu," ucap Risa panjang lebar yang hanya dibalas tatapan datar oleh Vio.

"Gak usah nyari masalah disini!" bentak Galen pada Risa.

"Kok kamu jadi marah ke aku Gal?" lirih Risa.

"Gue yakin kalo lo itu cuma pura-pura sakit kan? Pasti lo sengaja perban kaki sama tangan lo biar dapet perhatian sana sini? Ya kali cewek kayak lo bisa luka," ejek Risa.

"Dia juga manusia kali, sama kayak gue, emangnya lo, nenek lampir!" sahut Dina.

"Halah, pasti pura-pura kan? Ngaku lo Vi!" ucap Risa lagi.

"Lo bener, gue cuma pura-pura. Kenapa? Masalah buat lo?" tanya Vio penuh penekanan.

Vio berdiri berhadapan dengan Risa, ia menahan rasa sakit pada kaki kanan yang memang lukanya belum kering.

"Sudah gue duka, lo itu cuma pura-pura," ejek Risa.

Vio tersenyum miring menatap Risa, sedangkan Risa yang sudah kesal dengan sikap Vio, ia langsung mendorong tubuh Vio hingga Vio terjatuh dengan kedua tangannya sebagai tumpuan.

Hal itupun membuat tangan Vio mengeluarkan darah segar karena luka pada tangannya memang sedikit lebar, sehingga perban yang semula putih itu kini sudah berubah warna menjadi merah.

"Shit!" umpat Vio.

Semua yang berada disana seketika menatap Vio intens. Bahkan kini Dina dan Galen sudah berada disampingnya Vio untuk membantu gadis tersebut.

"Vi, tangan lo," lirih Dina.

"Gue nggak papa," sahut Vio santai.

"Gue bantu ke UKS ya, buat ganti perban lo," tawar Dina.

"Biar gue aja yang bawa dia ke UKS," ucap Galen yang tanpa aba-aba langsung menggendong Vio menuju ke UKS.

"Sialan, gue kira dia pura-pura," umpat Risa.

VIOLETTA (Triangle Love)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang