Tiba-tiba pria itu mendekati Dinda dan mencoba untuk membalikkan badannya.
"Lo ngapain di sini?" tanya pria itu.
"Dinda lagi beli minum," jawab Dinda dengan raut wajah sedikit ketakutan.
"Ervan ngapain tiba-tiba ada di sini?"
Ternyata pria yang ada di hadapannya saat ini adalah Ervan si es batu, pria yang disukai Dinda. Raut wajah Dinda terlihat ketakutan, ia sangat khawatir, apa yang akan terjadi jika Ervan mengetahui dirinya jalan bersama pria lain? Entahlah, Dinda hanya bisa pasrah dengan keadaan saat ini.
"Ada yang mau gue beli, di supermarket kota kosong," jawab Ervan dengan tatapan dingin.
"Oh gitu," Dinda menundukkan kepalanya.
"Lo sama siapa di sini?" tiba-tiba pertanyaan Ervan membuat Dinda terkejut bukan main.
"Dinda kesini sama-"
"Nih minumnya Din," ucap Daffa yang tiba-tiba datang dari dalam supermarket membawa 2 botol air mineral.
"Ini pacar lo?" tanya Ervan dengan bibir yang sedikit dinaikkan membentuk senyuman sinis.
"B-bukan Ervan, dia cuman teman Dinda," jawab Dinda terbata-bata.
"Oh,"
Ervan langsung berjalan menuju ke dalam mobilnya, moodnya belanja seketika menghilang, ia memutuskan untuk tidak jadi berbelanja.
"Ervan marah ya sama Dinda?" tanya Dinda sambil meraih tangan Ervan dan menghentikan langkah Ervan menuju ke dalam mobilnya.
Ervan pun refleks menghempas kasar genggaman tangan Dinda dan menatapnya dengan tatapan dingin.
"Gue nggak marah, gue cuman nggak nyangka aja, lo yang kelihatannya polos dan ngejar-ngejar gue ternyata kelakuan lo di belakang gue kayak sampah!" bentak Ervan dengan nada yang cukup tinggi.
"Hehh manusia berhati batu! Lo jangan asal ngomong kayak gitu ke Dinda, gue murni cuman teman dia dan lo nggak pantas ngomong kayak gitu ke dia!" bentak Daffa sampai hampir menampar Ervan.
"Cukup Daffa, cukup! Di sini Dinda yang salah, seharusnya dari awal Dinda nggak-"
"Udahlah Din, lo nggak salah," ucap Daffa dengan nada tinggi. "Dan lo Van, lo nggak pantas ngomong kayak gini ke Dinda!"
"Lanjut aja saling salahinnya,"
"Lagian lo ngapain ngomong kayak gitu ke Dinda, sedangkan lo aja nggak perduli sama apa yang Dinda lakuin ke lo dan lo juga sedikit pun nggak menghargai perasaan Dinda terhadap lo," ucap Daffa dengan nada tinggi.
"Terserah," Ervan langsung membalikkan badannya dan berjalan masuk ke mobilnya meninggalkan mereka berdua.
"Din, harusnya lo marah sama dia, tampar kek atau apa, ucapan dia terhadap lo sudah kelewatan," kesal Daffa.
"Dinda nggak bisa marahin Ervan," jawab Dinda dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan berusaha untuk menahan agar air matanya tidak menetes.
"Lo nangis Din?" tanya Daffa sambil berjalan mendekati Dinda.
Air mata Dinda tiba-tiba mengalir dengan deras, Dinda sudah tidak tahan dengan sikap Ervan tadi yang tega menyebutnya seperti itu.
"Sini Din," ucap Daffa sambil memeluk Dinda yang sedang menangis.
"Udah nangisnya, nanti wajah cantiknya berubah jadi buruk rupa," Daffa berhasil membuat bibir Dinda sedikit terangkat dan membentuk senyuman simpul.
"Lap air mata lo pakai tissue ini," Daffa memberikan tissue kepada Dinda.
"Makasih Daffa,"
"Gimana, ke tamannya jadi, nggak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Man [END]
Fiksi Remaja"Kulkas 5 pintu? Emangnya ada? Tentu saja ada! Dia hampir membuatku gila akan ketampanannya yang paripurna. Namanya Ervan, Ya! Ervan Gunawan! Aku harap, aku bisa kenal dekat dengannya, tidak hanya dekat, aku lebih ingin... hmm, sepertinya tidak perl...
![My Cold Man [END]](https://img.wattpad.com/cover/282264442-64-k67220.jpg)