Part 44. Couple Sweet

104 72 8
                                        

Pagi hari yang cerah secerah hati seorang gadis berparas cantik yang sedang sibuk menata panggung. Gadis itu tidak lain adalah Dinda Maharani.

Hari ini adalah hari di mana akan digelarnya acara lomba bulan bahasa di SMA Global. Panggung sudah ditata seperfect dan seaestetic mungkin. Para peserta lomba beserta penonton sudah memenuhi area yang sudah disediakan.

Perlombaan kali ini lebih asik dibandingkan dengan yang tahun lalu, di mana pada saat itu Dinda tidak ikut dalam perlombaan ini karena sibuk dengan kesibukannya.

Kali ini Dinda mengikuti lomba kontes menyanyi. Dinda menyanyi, sedangkan Ervan bermain gitar.

Kali ini judul lagu yang diperlombakan ditentukan oleh dewan juri. Lagu yang diperlombakan adalah lagu yang berjudul Kisah Kasih di Sekolah. Mungkin akan aneh jika hanya diiringi dengan gitar. Tetapi itu tidak masalah, kreatif lebih menarik bukan? Mungkin saja.

Seluruh juri sudah hadir di tempat, tinggal menunggu acaranya dimulai.

Beberapa menit kemudian, acaranya pun dimulai, MC membacan susunan acaranya satu persatu. Hingga waktunya sesi perlombaan nyanyi pun dimulai.

Ervan dan Dinda mendapatkan nomor urut satu. Dan ini sudah waktunya mereka maju ke depan. Mereka pun berjalan menaiki tangga panggung beriringan. Dinda meraih microphone, sedangkan Ervan meraih gitarnya. Mereka berdua pun memulai perlombaannya.

"Keren Din," puji Divya seraya menepuk halus pundaknya Dinda.

"Masak sih?"

"Iya, lo keren banget tadi," puji Ervan juga yang sedang duduk di sampingnya.

"Ervan lebih keren,"

"Aduh, nggak di sekolah, nggak di rumah, nggak di katin, bucin teros...!" ucap Artha  sinis.

"Ayang Divya, kalau kita couple kayak mereka pasti sweet." ucap Budi seraya menatap Divya.

"Hadeh, nasib jadi jomblo. Jadi nyamuk terus gue," ucap Artha pasrah.

"Makanya bro, cari pacar sana!" saran Budi.

"Gue tembak siapa ya?"

"Haha, mati dong kalau ditembak," ucap Dinda seraya tertawa kecil.

"Diam lo putri malu!"

"Eh, lo nggak boleh panggil dia kayak gitu. Cuma gue yang boleh panggil dia gitu!" decak Ervan tak terima.

"Gini nih, semua mojokin gue. Dahlah, gue mau ke kantin aja, ngapelin Mbak Dea!" rajuk Artha.

"Mbak Dea si janda bolong itu?" tanya Budi seraya menatap kepergian Artha.

Mereka semua tertawa puas melihat kepergian Artha dengan wajah kesalnya.

*****

Setelah semua sesi perlombaan selesai, tinggal menunggu hasil dari perlombaannya. Seluruh siswa-siswi diperbolehkan kembali kelasnya masing-masing karena pengumuman akan disampaikan siang nanti sebelum jam pulang.

Sebagian siswa ada yang pergi ke kelasnya, dan sebagiannya lagi menuju ke kantin untuk mengisi perut lapar mereka. Di antaranya adalah Ervan, Dinda, Budi dan Divya yang sedang berjalan menuju ke kantin. Sedangkan Artha sudah mendahului sebelum acaranya selesai.

"Duduk dulu Din, gue pesan makanan dulu," ucap Ervan seraya berjalan menghampiri Mbak Dea si janda kembang.

Dinda, Divya dan Budi hanya mengiyakan, mereka duduk di bangku yang sama.

"Hai Mbak?" sapa Ervan.

"Halo ganteng,"

"Jangan genit genit sama pacar Dinda!" teriak Dinda tak terima.

My Cold Man [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang