Part 36. Dinner

301 189 1.1K
                                        

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Lebih dari 3 minggu Ervan dan Dinda berpacaran. Ervan dan Dinda semakin hari semakin dekat. Dinda dapat melihat banyak perubahan dari sikap Ervan. Sikap Ervan semakin hari semakin manis, lebih perhatian apalagi cemburuan. Ervan yang sekarang benar-benar sudah dibuat banyak berubah.

Ervan yang sekarang selalu berusaha membagi waktunya dan membagi prioritasnya untuk kesibukannya dan untuk Dinda.

Hari ini Dinda diundang untuk makan malam di rumah Ervan.

Malam ini Dinda langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ervan. Dinda mengenakan baju lengan pendek berwarna biru dengan kombinasi kotak-kotak. Sedangkan bawahannya, Dinda mengenakan celana panjang berwarna hitam.

Dinda menggerai rambutnya, tak lupa ia mengenakan satu jepitan rambut bunga matahari yang sering ia pakai.

Dinda kemudian berjalan menuju meja riasnya. Dinda langsung duduk dan memoleskan sedikit make up natural pada wajahnya. Setelah dirasa cukup, Dinda langsung berdiri dan meraih jaket jeans crop yang tergantung di dinding kamarnya. Setelah itu, Dinda meraih tasnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.

Dinda berjalan keluar dari kamarnya dan langsung turun ke bawah. Dinda menuruni tangga satu persatu. Dinda melihat dari atas, sudah ada sang Mama yang sedang duduk di sofa ruang tengahnya seraya menonton televisi. Dinda kemudian berjalan mendekati Kenan dan duduk di sebelahnya.

Kenan menoleh dan menatap ke arah putrinya. "Cantik banget," puji Kenan.

"Biasa aja kok, Ma."

"Ceritanya jadi nih makan malam di rumah Ervan?" tanya Kenan.

Dinda mengangguk kecil. "Jadi, Ma,"

"Ada siapa aja di rumahnya?"

"Ervan bilang hari ini Papa sama Mamanya pulang Ma, mungkin seluruh anggota keluarganya ada di rumahnya,"

"Gimana?" tanya Kenan.

"Gimana apanya, Ma?"

Kenan terkekeh geli. "Jantung kamu, aman?"

"Sedikit," jawab Dinda jujur.

Jujur, ini adalah kali pertamanya Dinda akan dinner di rumah sang pacar. Dinda sangat gugup akan berhadapan secara langsung dengan kedua orang tua Ervan. Meskipun Ervan sudah memberitahu Dinda bahwa kedua orang tuanya sangat baik dan ramah, tetapi tetap saja Dinda merasa gugup.

Dinda kemudian berjalan keluar dari kamar tengah menuju teras rumahnya. Dinda memilih menunggu Ervan di teras rumahnya.

Ervan sudah berangkat dari 15 menit yang lalu untuk menjemputnya.

Tidak lama kemudian, mobil BMW berwarna merah muncul. Dinda langsung berjalan keluar ke depan pagar rumahnya. Ervan turun dari mobilnya dan berjalan mendekati Dinda.

Ervan tersenyum hangat setelah menatap gadis yang ada di hadapannya saat ini.

"Natapnya kok kayak gitu, emangnya kenapa, Ervan?"

"Cantik," puji Ervan.

Pipi Dinda yang chubby langsung memerah, tersipu.

"Jangan lihatin Dinda terus! Ayo kita berangkat," ajak Dinda.

"Sudah siap?"

"Hm. Jujur, Dinda takut, Ervan," lirih Dinda.

"Jangan takut, 'kan ada gue," ucap Ervan yang langsung menarik tangan Dinda.

Saat ini wajah mereka berdua sangat dekat, hanya tinggal beberapa centi lagi, Dinda dapat merasakan hangatnya hembusan napas Ervan pada wajahnya. Saat itu juga jantung Dinda berdetak kencang. Ervan semakin mendekatkan wajahnya.

My Cold Man [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang