Hari minggu telah tiba, cuaca siang ini sangat panas, terik matahari masuk ke celah jendela kamarnya Dinda. Gadis itu tengah duduk bersantai seraya membaca sebuah novel di kamarnya. Dinda kemudian mengalihkan pandangannya dari novel yang ia baca dan menatap ke arah jendela dengan gorden berwarna biru yang terbuka itu membuat mata gadis itu terasa sedikit silau.
Dinda kemudian meletakkan novelnya di atas mejanya dan kemudian berjalan menuju ke arah jendela kamarnya. Dinda menatap keluar dan kemudian menatap ke bawah. Dinda menatap jalanan di depan rumahnya yang banyak dilewati oleh kendaraan.
Dinda menghela napas berat, sangat bosan berada di kamarnya sendirian karena Mamanya belum pulang dari butiknya. Di rumahnya hanya ada Bik Arum, pembantunya dan Pak Bambang, sopirnya.
Dinda kemudian berjalan kembali ke kasurnya dan meraih ponselnya. Dinda kemudian mencari satu nama yang sering ia hubungi di kontak panggilannya.
Tanpa basa-basi, Dinda langsung memencet tombol panggilan.
Tuttt tutt tut...
Setelah beberapa detik Dinda menunggu, akhirnya panggilannya terhubung.
"Halo Ervan?" sapa Dinda hangat.
"Iya, kenapa?"
"Dinda bosan banget di kamar terus, dari pagi sampai siang ini baca novel aja,"
"Terus?"
"Ih, kok Ervan nggak peka peka sih!" decak Dinda.
"Iya-iya, mau keluar, kan? Ke mana?"
Senyum Dinda langsung melebar, akhirnya cowok itu mengerti dengan maksudnya.
"Dinda belum makan siang Ervan, kita ke cafe aja. Habis makan kita jalan-jalan ke Taman Soekasada Bali, ya?" pinta Dinda.
"Iya, sekarang?" tanya Ervan bertele-tele.
"Tahun depan!"
"Oke, kalau gitu gue mau tidur dulu. Kan masih lama kalau tahun depan," jawab Ervan yang mencoba menggoda sang pacar.
"Terserah." rajuk Dinda.
Tanpa basa-basi lagi, saat itu juga Dinda langsung mengakhiri teleponnya dengan Ervan. Gadis itu langsung melempar halus ponselnya ke atas kasurnya dan membaca kembali novelnya.
*****
Ervan yang sedari tadi sibuk mondar-mandir di dalam kamarnya dan mencoba menghubungi gadisnya, namun tidak ada jawaban dari Dinda.
Ervan mulai khawatir, ia tidak berniat untuk membuat gadisnya marah, ia hanya bercanda dan hanya ingin menggodanya.
Saat itu juga Ervan memutuskan untuk langsung pergi ke rumahnya Dinda. Ervan meraih jaket hitamnya dan mengambil kunci mobilnya. Ervan langsung berjalan keluar menuju ke garasi mobilnya.
Ervan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Di sepanjang perjalanannya menuju ke rumahnya Dinda, Ervan masih sempat-sempatnya memeriksa ponselnya, mengecek apakah ada notifikasi dari sang pacar.
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, akhirnya Ervan sampai di depan rumahnya Dinda. Gerbang rumahnya Dinda terbuka lebar, langsung saja masuk ke dalam.
Ervan mencoba menghubungi gadisnya lagi. Dan ya! Lagi dan lagi gadis itu tidak mau menjawab teleponnya. Ervan memilih untuk memencet tombol bel di pintu depan rumahnya Dinda.
Setelah tiga kali memencet bel, akhirnya pintu rumahnya Dinda mulai terbuka.
"Selamat siang? Ada perlu apa ya?" tanya Bik Arum.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Man [END]
Teen Fiction"Kulkas 5 pintu? Emangnya ada? Tentu saja ada! Dia hampir membuatku gila akan ketampanannya yang paripurna. Namanya Ervan, Ya! Ervan Gunawan! Aku harap, aku bisa kenal dekat dengannya, tidak hanya dekat, aku lebih ingin... hmm, sepertinya tidak perl...
![My Cold Man [END]](https://img.wattpad.com/cover/282264442-64-k67220.jpg)