Setelah Ervan puas menikmati angin sepoi-sepoi di teras rumahnya, Ervan kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan masuk menuju kamar tengahnya seraya mengacak-acak rambutnya, bingung dengan perasaannya.
Setelah Ervan sampai di kamar tengahnya, ia sudah mendapati ada sang kakak yang sedang bersantai seraya menonton televisi.
Qanita menatap ke arah Ervan dengan tatapan bingung. "Eh, lo kenapa?" tanya Qanita dengan alis yang dinaikkan sebelah.
"Nggak kenapa-kenapa,"
"Kelihatannya lo sedang kebingungan tuh," tebak Qanita seraya memakan cemilannya.
"Sok tau lo, Kak!"
"Ayo ngaku! Lo kenapa? Habis diputusin sama pacar lo?" tanya Qanita yang mencoba menggoda Ervan.
Ervan memutar bola matanya, malas. "Gue nggak punya pacar!"
"Iya iyalah lo nggak punya pacar, cewek mana sih yang mau sama cowok es batu yang nggak layak hidup kayak lo. Suka aja enggak apalagi mau!" ucap Qanita menertawakan Ervan seraya melemparkan kulit kacang ke arah Ervan.
Ervan menatap Qanita dengan tatapan tajam. "Diam lo! Emangnya lo punya pacar, hah?"
Perkataan Ervan barusan berhasil membuat tawa Qanita seketika itu juga menghilang.
"Punya!" jawab Qanita berbohong.
Qanita menatap Ervan dengan sorot mata yang tajam, tak mau kalah.
"Apa? Nggak suka? Nggak perduli gue!" ucap Ervan dengan santainya.
Ervan langsung berjalan ke atas menuju kamarnya sebelum Qanita melemparkan kulit kacang lagi ke arahnya.
"Dasar es batu!"
"Dasar nenek lampir!" balas Ervan tak mau kalah.
Ervan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. Ervan kemudian berjalan menuju kasurnya. Ervan langsung merebahkan badannya sebentar sambil memikirkan perkataan kakaknya barusan.
"Apa benar ya nggak akan ada cewek yang suka sama gue karena sikap dingin gue ini?"
"Tapi, kok Dinda bisa jatuh cinta banget sama gue?"
"Gue harus gimana sekarang, gue bingung sama perasaan gue sendiri."
*****
Setelah Dinda puas menonton film dengan Divya, Dinda langsung pamit pulang karena hari sudah mulai sore. Pak Bambang sudah menjemputnya dan menunggunya di depan rumahnya Divya. Dinda berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Hati-hati ya, Din," ucap Divya sembari melambai-lambaikan tangannya ke arah Dinda.
"Siap komandan." jawab Dinda seraya memberikan dua jempolnya ke arah Divya.
Sepanjang perjalanannya pulang, Dinda melihat-lihat pepohonan di sepanjang jalan seraya memikirkan Ervan. Dinda khawatir dengan kejadian tadi siang di sekolahnya sewaktu Ervan melihatnya berduaan dengan Daffa.
Ervan marah nggak ya sama gue? batinnya.
Drttt drtt
Tiba-tiba ponsel Dinda bergetar, Dinda langsung meraih ponsel di dalam tasnya dan membuka WhatsApp-nya.
1 pesan baru
"Gue nggak marah kok, gue nggak ada hak buat marah sama lo. Lo bukan siapa-siapa gue. Jadi, lo bebas buat dekat sama siapa aja."
~Ervan Gunawan
Dinda berhasil dibuat semakin bingung dengan isi pesan yang dikirimkan oleh Ervan Gunawan. Dinda berpikir keras memikirkan apa maksud dari pesan yang dikirimkan oleh Ervan kepadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Man [END]
Teen Fiction"Kulkas 5 pintu? Emangnya ada? Tentu saja ada! Dia hampir membuatku gila akan ketampanannya yang paripurna. Namanya Ervan, Ya! Ervan Gunawan! Aku harap, aku bisa kenal dekat dengannya, tidak hanya dekat, aku lebih ingin... hmm, sepertinya tidak perl...
![My Cold Man [END]](https://img.wattpad.com/cover/282264442-64-k67220.jpg)