"Dinda itu lagi jatuh cinta Pa," jawab Kenan cepat.
Teddy kemudian menatap ke arah putrinya. "Jatuh cinta? Sama siapa Din? Coba deh kamu ceritain sedikit ke Papa, apa sih uniknya si dia sampai-sampai bisa membuat kamu jatuh cinta, Papa penasaran nih,"
Dinda tersenyum kecil. "Nggak ada Pa, Mama bohong terus tuh dari tadi," ucap Dinda seraya menggelengkan kepalanya.
"Ada tuh Pa, dia jatuh cinta sama teman satu sekolahnya. Siapa namanya Din? Ervan, kan ya?" ucap Kenan nyerocos, mencoba mempermalukan Dinda di depan Papanya.
Dinda tak bisa menjawab perkataan Mamanya barusan. Dinda kebingungan dengan tingkah aneh kedua orang tuanya. Dinda mencoba mengalihkan pandangannya seraya mengambil satu buah apel di atas meja makannya dan kemudian mengupasnya.
"Mama sama Papa mau Dinda kupaskan apel juga nggak?"
Kedua orang tuanya tak menjawab, mereka berdua hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang menggemaskan sekaligus cantik itu.
"Mama sama Papa kenapa sih," tanya Dinda kesal sambil memakan buah apel yang sudah di kupasnya.
"Kamu nggak lihat Din Mama sama Papa kamu senyum?" tanya Kenan.
"Nah iya, malah ditanya kenapa lagi," jawab Teddy seraya menertawakan putrinya yang menggemaskan.
Dinda menghela napas panjang, berusaha mengabaikan perkataan kedua orang tuanya yang terus menggodanya. Dinda kemudian mengambil sepiring nasi dan lauknya.
"Dinda makan di kamar aja," ucap Dinda sambil membawa sepiring nasi dan segelas air di tangannya.
"Dinda," panggil Kenan.
Dinda menghentikan langkahnya. "Kenapa lagi sih, Ma?" tanya Dinda seraya memutar bola matanya, malas.
"Kamu mau makan sambil video call sama Ervan ya?" tanya Kenan seraya menahan tawanya.
"Iya!" jawab Dinda kesal sambil melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi. Ia buru-buru berjalan menaiki tangga seraya menahan rasa malunya.
"Hati-hati Din, nanti jatuh. Rasanya jatuh di tangga tak seindah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama!" seru Teddy yang masih saja menggoda putrinya.
Dinda tak memperdulikan perkataan Papanya barusan. Dinda berjalan menaiki tangga secepat mungkin dengan hentakan kaki yang cukup keras.
Sesampainya di kamarnya, Dinda duduk di meja belajarnya dan langsung memakan makanannya dengan cepat. Dinda melampiaskan seluruh kekesalannya dan rasa malunya dengan menghabiskan makanannya tanpa jeda sedikit pun.
"Mama sama Papa sama aja!" ucap Dinda seraya meminum airnya.
"Sama-sama bikin gue kesal. Mereka berdua seolah-olah nggak pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta!"
Dinda mengomel di dalam kamarnya sendirian. Setelah selesai makan, Dinda langsung berjalan ke atas kasurnya dan membaringkan tubuhnya.
Dinda tiba-tiba teringat dengan ucapan Ervan sewaktu teleponan tadi. Dinda segera meraih ponselnya dan melihat notifikasi WhatsApp-nya.
"Gue kirim pesan lagi nggak ya? Gue kangen banget sama Ervan."
Tangan Dinda mulai menuliskan pesan yang akan ia kirimkan kepada Ervan. Dinda melihat ponselnya sembari tersenyum bahagia. Dinda kemudian meletakkan ponselnya di sampingnya.
"Semoga secepatnya Ervan bisa jatuh cinta sama gue!" ucap Dinda seraya menatap langit-langit kamarnya.
Malam itu Dinda memilih untuk menonton televisi di kamarnya. Dinda tidak mungkin berkumpul kembali dengan Mama dan Papanya setelah kejadian tadi yang begitu memalukan bagi Dinda di meja makannya. Hal itu membuat Dinda merasa malas berbincang-bincang bersama kedua orang tuanya. Malam itu juga, Papanya Dinda langsung berangkat lagi ke luar kota untuk urusan bisnisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Man [END]
Teen Fiction"Kulkas 5 pintu? Emangnya ada? Tentu saja ada! Dia hampir membuatku gila akan ketampanannya yang paripurna. Namanya Ervan, Ya! Ervan Gunawan! Aku harap, aku bisa kenal dekat dengannya, tidak hanya dekat, aku lebih ingin... hmm, sepertinya tidak perl...
![My Cold Man [END]](https://img.wattpad.com/cover/282264442-64-k67220.jpg)