"Ervan, dia siapa?"
Seketika itu juga perbincangan mereka terhenti. Ervan langsung menatap ke arah sang pacar yang sudah ada di depannya saat ini dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Paper bag yang ada di tangan Dinda pun refleks terjatuh ke lantai.
Ervan langsung berdiri mendekati Dinda, tetapi Dinda malah menghindari Ervan dan meninggalkan Ervan keluar dari ruang kelasnya. Dinda berlarian kecil entah menuju ke mana.
Jantung Ervan saat itu juga berdetak kencang, khawatir. Ervan khawatir bahwa sang pacar salah paham dengannya. Ervan langsung keluar dari kelasnya untuk menyusuli Dinda. Tetapi langkahnya malah dihentikan oleh gadis yang diajaknya mengobrol tadi.
"Kenapa lagi sih?" tanya Ervan dengan sorot mata tajam.
"Lo nggak usah kejar dia, biarin aja dia keluar. Lagian sudah ada gue di sini," seraya menarik lengan Ervan.
Gila ya ni orang, pas baru kenal aja ngomongnya aku-kamu, batin Ervan.
"Ini semua gara-gara lo, ya!" bentak Ervan. Ia langsung menepis kasar tangan gadis itu dan beranjak keluar dari kelasnya.
"Ervan, berhenti!"
Ervan langsung menghentikan langkahnya.
"Gue suka sama lo, dan gue nggak akan membiarkan lo jadi milik orang lain!" ucap gadis itu.
Ervan tak menjawab, Ervan langsung berjalan keluar untuk menyusul sang pacar.
Ervan berjalan tergesa-gesa menuju kelas 11 IPA 1–kelas Dinda. Sesampainya Ervan di kelas Dinda, ia tidak melihat Dinda ada di sana. Ervan berpikir sejenak, ke mana gadis itu pergi? Ke kantin? Ke perpustakaan? Ke taman? Atau ke toilet? Eh, kok toilet, nggak mungkinlah ke toilet, emangnya dia mau berak?
Ervan menatap ke sekeliling ruang kelas, ternyata Divya juga tidak ada. Ervan kemudian beranjak keluar menuju taman belakang sekolah.
Sesampainya di taman, Ervan sudah mendapati dua gadis yang sedang duduk di kursi taman. Ervan kemudian berjalan mendekati kedua gadis itu.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Divya dengan sorot mata tajam.
"Gue ke sini mau–"
Divya langsung berdiri. "Dasar buaya darat! Belum juga sebulan lo pacaran sudah selingkuh!" bentak Divya.
"Diem lo! Gue ke sini nggak ada urusan, ya, sama lo!" bentak Ervan balik. Ervan ingin mendekati Dinda, namun langkahnya dihentikan oleh Divya.
"Lo nggak usah dekat-dekat lagi sama sahabat gue kalu lo cuman mau nyakitin perasaan dia!"
"Terserah lo!" bantah Ervan.
Dinda pun ikut berdiri tanpa menatap pria yang ada di depannya saat ini.
"Din, dengerin gue dulu," bujuk Ervan seraya meraih tangan Dinda.
Dinda langsung menepis kasar tangan Ervan.
"Ervan tega banget, ya, Dinda nggak nyangka kalau Ervan sel–"
"Gue nggak selingkuh Din, dengerin penjelasan gue dulu!" pinta Ervan.
"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, semuanya udah jelas," ucap Dinda seraya mengelap air matanya.
"Ayo Din kita ke kelas." ajak Divya seraya menarik lengan Dinda dan mengajaknya pergi menuju kelasnya.
Ervan tak mengejar, ia memilih untuk kembali ke kelasnya. Ervan memilih untuk membiarkan gadisnya menenangkan diri dulu, karena percuma juga jika Ervan menjelaskan kesalah pahaman ini terhadap Dinda, tetap saja Dinda akan menyalahkan Ervan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Man [END]
Novela Juvenil"Kulkas 5 pintu? Emangnya ada? Tentu saja ada! Dia hampir membuatku gila akan ketampanannya yang paripurna. Namanya Ervan, Ya! Ervan Gunawan! Aku harap, aku bisa kenal dekat dengannya, tidak hanya dekat, aku lebih ingin... hmm, sepertinya tidak perl...
![My Cold Man [END]](https://img.wattpad.com/cover/282264442-64-k67220.jpg)