Kayaknya Dinda marah banget sama gue karena perkataan gue kemarin, batin Ervan sambil menyandarkan tubuhnya di kursinya.
Apa gue minta maaf aja kali ya sama dia?
Ervan kelihatan seperti orang yang sedang frustasi berat. Ervan mencoba untuk menenangkan dirinya dan melupakan masalahnya dengan Dinda.
Ervan benar-benar merasa sangat terbebani oleh pikirannya sekarang yang bercampur aduk dengan perasaan ragunya terhadap Dinda.
"Arghhh, kepala gue berasa mau pecah," teriak Ervan sambil mengacak-acak rambutnya.
"Lo kenapa, Van?" tanya Budi yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Gue nggak apa-apa," Ervan mencoba menyembunyikan kekesalannya.
"Sebenarnya lo apain sih si Dinda, sampai-sampai sikap dia tiba-tiba berubah kayak gitu? Kelihatannya dia berusaha buat ngejauhin lo," Budi langsung duduk di sebelah kanan Ervan.
"Gue melakukan kesalahan, gue seharusnya nggak ngomong kayak gitu ke Dinda kemarin," tak segan Ervan menggebrak mejanya.
"Tenang Van, semua masalah pasti ada jalan keluarnya," ucap Artha yang sedang menatap Ervan dari pintu masuk ruang kelasnya.
Artha pun langsung berjalan mendekati kedua sahabatnya itu dan duduk di bangku depan menghadap Ervan dan Budi.
"Lo minta maaf aja sama si Dinda, gitu aja kok susah," saran Budi.
"Kalian berdua nggak ngerti, kalau gue minta maaf sama dia dan dia nggak mau maafin gue, terus di mana taruh wajah malu gue yang tampan ini?" Ervan mulai emosi dengan ocehan kedua sahabatnya.
"Makanya, sebelum bertindak lo mikir dulu, jangan asal nyerocos!" ujar Budi sambil geleng-geleng.
"Lo pikir-pikir aja dulu Van, seberapa besar salah lo ke dia, kalau cuman masalah sepele, ya si Dindanya aja tuh yang terlalu membesar-besarkan masalah ini," ucap Artha mencoba memberikan solusi.
"Di sini gue yang salah, jadi kemarin itu gue nggak sengaja bilang kalau kelakuan dia itu kayak sampah," ucap Ervan mencoba menceritakan permasalahan yang dihadapinya.
"Astagfirullah, kok bisa lo sampai ngomong kayak gitu ke dia?" Artha langsung terkejut mendengar cerita Ervan.
"Jadi, kemarin itu dia jalan sama cowok,"
"Terus lo nggak terima kalau si Dinda di embat sama cowok lain? Wah wah, bodoh banget lo Ervan Gunawan yang pintar," ucap Budi sambil geleng-geleng.
"Benar banget tuh, lo bodoh banget. Lagian lo punya hak apa ngelarang larang Dinda, terserah dia dong mau jalan sama siapa, 'kan lo bukan siapa-siapanya Dinda," sambung Artha.
"Jadi di sini gue pintar apa bodoh sih?" Ervan mulai frustasi.
"Eh, apa jangan-jangan lo sudah mulai suka ya sama Dinda? Atau lo takut kehilangan Dinda?" Budi langsung menertawakan Ervan.
"Najis lo berdua, gue cuman nggak suka aja gitu lihat kelakuan dia yang kayak murahan, di sekolah dia ngejar-ngejar gue dan di luar sana saat nggak ada gue dia malah jalan sama cowok lain," ucap Ervan dengan wajah sinis.
"Iya juga ya. Eh, tapi dia wajar dong kayak gini, 'kan waktu dia ngejar-ngejar lo, lo sama sekali nggak perduli sama dia," Budi mencoba menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah.
Mata Artha malah refleks menatap jam tangan yang dikenakan oleh Ervan saat ini. Artha penasaran dengan jam tangan yang dikenakan oleh Ervan. Kira-kira Ervan beli jam itu di mana? Di mall mana? Entahlah, Artha tidak perlu berpikir panjang lagi, ia langsung saja menanyakan kepada yang bersangkutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Man [END]
Teenfikce"Kulkas 5 pintu? Emangnya ada? Tentu saja ada! Dia hampir membuatku gila akan ketampanannya yang paripurna. Namanya Ervan, Ya! Ervan Gunawan! Aku harap, aku bisa kenal dekat dengannya, tidak hanya dekat, aku lebih ingin... hmm, sepertinya tidak perl...
![My Cold Man [END]](https://img.wattpad.com/cover/282264442-64-k67220.jpg)