"Ternyata usahaku untuk mendapatkan hatimu sepenuhnya tidak serumit yang aku bayangkan."
—Dinda Maharani.
Dinda menatap lekat pria yang ada di hadapannya saat ini. Pria yang menyapanya tadi adalah Ervan Gunawan. Senyum Dinda masih tetap mengembang, tetapi ada sedikit pertanyaan yang mengganjal di pikirannya saat ini, kenapa pria itu ke sini? Mau apa dia? Tak perlu banyak pikir lagi, langsung saja Dinda menanyakannya.
"Kenapa, Ervan?"
"Nggak,"
"Ih, Ervan kok ngeselin banget sih!"
Ucapan Dinda barusan berhasil membuat semua pasang mata yang ada di kantin sekolah langsung menoleh dan menatap di mana Ervan dan Dinda berdiri saat ini.
Ervan berdecak pelan. "Ayo ke kelas, nggak enak dilihatin sama mereka," seraya menarik tangan Dinda.
Dinda hanya menurut dan mengikuti langkah Ervan. Namun, di tengah-tengah koridor sekolah, Dinda menghentikan langkahnya.
"Divya ketinggalan, Ervan," ucap Dinda seraya menoleh ke belakang, berharap Divya sudah selesai membeli makanan dan menyusulnya.
"Biarin, dia 'kan udah gede, bisa jalan sendiri kali," Ervan krmbali menarik tangan Dinda.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Dinda kebingungan.
"Ikut aja."
Bukannya Ervan mengajak Dinda ke kelasnya, ternyata Ervan malah mengajak Dinda pergi ke taman belakang sekolah. Sesampainya di taman, Ervan menatap ke sekeliling taman, tak ada siapa pun di sana. Ervan langsung berjalan menuju kursi yang ada di taman dan duduk di sana.
Ervan menoleh dan menatap Dinda yang masih tetap berdiri. "Lo nggak duduk?" tanyanya.
Dinda pun langsung duduk di sebelah Ervan. "Ngapain kita ke sini?" tanya Dinda.
"Nyari angin,"
"Panas, Ervan, nanti Dinda bisa pingsan!" rengek Dinda.
"Masak sih gini aja bisa pingsan? Eh, atau jangan-jangan lo takut kalau kulit lo yang putih, bersih, halus dan mulus ini berubah jadi hitam?" tanya Ervan yang mencoba menggoda Dinda sambil mengusap lembut tangannya.
Dinda langsung menepis halus tangan Ervan. "Nggak, Dinda nggak takut kalau kulit Dinda ini jadi hitam,"
"Masak sih?"
"Hm,"
"Nanti pulangnya dijemput sama Pak Supir?" tanya Ervan yang mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.
"Namanya Pak Bambang, bukan Pak Supir,"
"Iya-iya. Dijemput, nggak?"
"Nggak, Pak Bambang 'kan lagi pulang kampung,"
"Jadi pulangnya dijemput sama Mama lo?"
"Nggak juga, Mama kayaknya hari ini ke butik,"
Ervan mengerutkan keningnya. "Butik di mana?"
"Dihatimu!"
Ervan berdecak pelan. "Serius dong!"
"Lagian, kenapa sih Ervan kepo banget?"
"Emangnya nggak boleh, ya, kepo sama calon mertua sendiri?"
Dinda tertegun, ia tidak menyangka, Ervan Gunawan barusan menyebut Mamanya sebagai calon mertua. Sedikit terdengar menyenangkan, bukan? Atau malahan terdengar aneh? Sepertinya aneh, tapi tidak apa-apa.
"Ervan bisa aja," jawab Dinda malu-malu.
"Putri malu mulai bereaksi." ucap Ervan seraya mengacak gemas puncak kepala Dinda.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Cold Man [END]
Fiksi Remaja"Kulkas 5 pintu? Emangnya ada? Tentu saja ada! Dia hampir membuatku gila akan ketampanannya yang paripurna. Namanya Ervan, Ya! Ervan Gunawan! Aku harap, aku bisa kenal dekat dengannya, tidak hanya dekat, aku lebih ingin... hmm, sepertinya tidak perl...
![My Cold Man [END]](https://img.wattpad.com/cover/282264442-64-k67220.jpg)