Part 19. Awal dari Perubahan

573 435 1K
                                        

"Harapanku sederhana, aku menyukainya dan dia menyukaiku." -Dinda Maharani.

Dinda seketika dibuat membeku di tempat, ia tak menjawab perkataan yang keluar dari mulut Ervan barusan. Dinda mengalihkan pandangannya ke arah samping menatap bunga-bungaan yang ada di taman belakang sekolahnya sambil memikirkan bagaimana caranya ia menanggapi ajakan dari Ervan barusan.

Dinda merasa sangat canggung duduk berduaan di taman belakang sekolahnya tanpa ada satu orang pun di sekitarnya. Dinda merasa canggung dikarenakan ini adalah kali pertamanya ia duduk berduaan dengan orang yang ia sukai.

Dinda menatap ke arah Ervan yang sedang memainkan ponselnya. Dinda kemudian membuka suaranya. "Ervan pulang duluan aja," ulang Dinda seraya mengalihkan kembali pandangannya dari Ervan dan menatap ke arah depan.

Ervan mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam sakunya. "Gue anterin lo pulang." jawab Ervan ngotot.

"Hah, serius? Gimana-gimana? Ulangin lagi dong!" seru Dinda yang langsung menatap kembali ke arah Ervan.

Ervan menghela napas panjang seraya memutar bola matanya, malas. "Gue anterin lo pulang." ulang Ervan.

"Ervan yakin mau anterin Dinda pulang?"

"Lo mau gue anterin atau nggak sih? Pakai banyak tanya lagi!" jawab Ervan kesal.

"Ervan keberatan ya?" tanya Dinda bertele-tele.

Ervan tak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulutnya Dinda. Ervan langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Dinda menuju ke parkiran sekolahnya. Dinda menatap kepergian pria itu dari hadapannya dengan tatapan heran. Tak perlu banyak pikir, Dinda pun segera menyusul Ervan ke parkiran dan masuk ke dalam mobilnya.

Sepanjang perjalanannya pulang, hanya terdapat keheningan diantara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama merasa canggung, tak ada satu pun dari mereka berdua yang membuka suaranya. Ervan fokus menyetir mobilnya, sedangkan Dinda sibuk dengan ponselnya untuk mengurangi rasa canggungnya terhadap Ervan.

"Turun," ucap Ervan.

"Cepat amat sampainya," jawab Dinda seraya melepaskan sabuk pengamannya.

Dinda menatap ke arah Ervan sekejap. "Makasih banyak ya Ervan sudah mau anterin Dinda pulang,"

"Hm," jawab Ervan singkat.

"Ervan nggak mau mampir dulu ke dalam?" tanya Dinda bertele-tele.

"Nggak,"

"Kok nggak?"

"Ya nggak aja,"

"Ya udah, Dinda turun ya. Sekali lagi makasih Ervan." ucap Dinda sambil memberikan senyum termanisnya dengan tulus.

Jantung Ervan tiba-tiba berdetak kencang melihat senyuman manis yang di perlihatkan oleh Dinda kepadanya. Ervan secepatnya mengalihkan pandangannya ke depan. Setelah Dinda keluar dari mobilnya, Ervan langsung melajukan mobilnya dan pergi dari hadapan Dinda.

"Din, kamu pulangnya sama siapa?" tanya Kenan yang tiba-tiba menghampiri Dinda di teras rumahnya.

"Dinda pulang sama Ervan Ma, pria yang pernah Dinda ceritain sama Mama,"

Kenan kemudian duduk di kursi terasnya. "Ervan? Orang yang kamu suka itu? Kok bisa kamu pulang sama dia?"

"Tadi Dinda lama nungguin Pak Bambang jemput Dinda. Jadi Dinda nunggu di taman belakang sekolah. Kata Pak Bambang dia masih di bengkel Ma ban mobilnya kempes,"

"Oh gitu. Eh, tapi kok bisa sama dia pulangnya? Kok nggak sama Divya aja?" tanya Kenan, Mamanya Dinda yang terus-menerus mewawancarai putrinya itu.

My Cold Man [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang