23

56.5K 10K 1K
                                        

Aku gabut, makanya update.

BANTU SHARE DONG BIAR MAKIN RAME GITU 🥺
JANGAN SIDERS 🙄

HAPPY READING!

***

Arsalan berjalan mengendap-endap sambil sesekali menatap sekelilingnya dengan awas. Dia mengenakan topi hitam dan juga sarung tangan hitam. Misinya kali ini dalam menyelamatkan Aluna tidak boleh gagal. Syukurlah anak buah kakeknya yang sialan itu memasang GPS di mobil yang membawa Aluna jadi ia bisa dengan mudah menemukannya. Dia tahu Damon sinting tetapi melakukan hal ini berulang kali membuatnya geram. Kenapa dia selalu mengincar orang-orang disekelilingnya?

Bisa saja dia langsung menghabisi pemuda itu tapi jika dia melakukannya maka dia akan resmi menjadi seperti kakeknya. Seorang pembunuh. Tidak, dia tidak mau melakukannya. Dia sudah berjanji pada kedua orang tuanya yang telah tiada sekalipun dia sangat marah, dia tidak boleh sampai membunuh. Karena itulah sampai saat ini ketika dia bertarung bersama teman-temannya dia menahan diri agar tidak sampai membunuh korbannya.

Arsalan melewati gerbang yang penjaga yang sudah dia bius hingga tertidur dengan hati-hati. Ini lebih baik daripada membuang tenaga dan mungkin saja membuat mereka panik lalu melukai Aluna.

Namun nahas, seseorang tak sengaja melihatnya dan berteriak, "Hei!"

"Sial." Arsalan mengumpat pelan kemudian berlari ke depan dan melayangkan tinjunya. Dia membalas kemudian Arsalan pun menendangnya. Mereka bertarung cukup sengit. Untunglah pertarungan itu berlangsung hanya beberapa menit karena Arsalan jauh lebih unggul darinya. "Di mana gadis itu?" tanyanya dingin sembari menginjak tangan lawannya yang sudah tumbang itu.

Pemuda itu diam membuat Arsalan semakin menekan kakinya. "Akhh!" pekiknya kesakitan.

"Katakan, dimana dia?" ulang Arsalan dengan nada mengancam yang terlihat jelas.

"D-dia..."

"Wow, kau cepat sekali."

Arsalan mendongak dan melihat Damon yang sedang berdiri tak jauh darinya dengan tajam. "Di mana dia?"

"Astaga, kau tenang saja. Dia sedang tidur dengan nyaman diranjangku."

"DI MANA DIA?"

Damon terdiam sesaat kemudian tertawa terbahak-bahak. Dia bertepuk tangan dan menyeringai lebar. "Ternyata dia lebih berharga dari Erina, ya? Uh aku jadi semakin menyukainya."

Kepalan di tangannya semakin kuat. "Dia tidak ada hubungan apapun denganku. Sebaiknya kau lepaskan dia," ucapnya berusaha menenangkan debaran jantungnya yang semakin lama semakin menggila karena emosi. Membayangkan apa yang terjadi pada Aluna membuatnya seperti ingin meledak.

"Oh, itu justru semakin bagus. Aku bisa memilikinya kalau begitu." Damon menjilat bibir bawahnya. "Lagipula dia cukup cantik dan menggoda. Hanya sikapnya saja yang kurang ajar tapi setelah beberapa waktu dia juga akan menyukaiku."

Aku menyukainya.

Arsalan memejamkan matanya ketika kalimat itu kembali terlintas dibenaknya seperti sebuah peringatan. Itu bukan kebohongan tetapi rasa benci Aluna juga nyata. Sebenarnya dia juga bingung. Kenapa dia mau sepeduli ini pada Aluna? Gadis itu hanya orang asing menyebalkan yang suka sekali mengusiknya. Jika dia bersamanya itu pun tidak akan berakhir baik karena kakeknya yang gila itu tapi kenapa dia tidak bisa menahan dirinya sendiri seperti ini. Ini gila!

"Kau benar-benar menyebalkan!" Arsalan berlari ke arah Damon namun beberapa pria berbadan besar segera mencegahnya. Mereka bukan lastfox. Dari gaya bertarungnya yang profesional, Arsalan yakin mereka juga petarung handal sepertinya. Ada sekitar lima orang. Pemuda itu sedikit kewalahan dan bahkan tak sengaja membiarkan mereka melukai dirinya sendiri karena konsentrasinya terpecah memikirkan keadaan Aluna. Butuh waktu cukup lama untuk membuat mereka semua tumbang. Arsalan menunduk dan terengah-engah sembari memegangi bagian perutnya yang sakit akibat tendangan salah satu dari mereka berhasil mengenainya.

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang