Happy Reading
***
"Sekarang, apalagi yang bocah itu lakukan?" tanya Maggie dengan gelengan kepala heran. "Apa dia tidak malu?"
"Ck, kau ini seperti tidak tahu saja. Kakakku sejak lama kan memang tidak waras. Urat malunya sudah putus!" jelas Allen tanpa beban. "Kupikir Arsalan akan menjauh karena tahu dia itu gila, tapi kenapa dia juga ikutan gila?" rintihnya bingung. Padahal dia berniat membuat Arsalan ilfeel pada Aluna tapi jika melihat keduanya bersatu seperti itu membuatnya ragu. Bisa saja dirinya yang kena geprek dan berakhir sial.
Eros merangkul Maggie. "Kau tidak tahu ya? Orang yang sedang jatuh cinta itu buta. Bahkan tai kucing bisa dia kira sebagai roti!" cibirnya tak habis pikir.
"Tapi kelakuan mereka berdua mengkhawatirkan, bodoh! Rumor mereka sudah beredar luas! Aku takut mereka melakukan sesuatu yang tidak seharusnya," sembur Maggie was-was.
"Apa maksudmu, babe?" tanya Eros bingung.
"Arsalan mudah emosi. Walaupun dia menahannya tapi pemuda itu pasti diam-diam melakukan sesuatu. Sementara Aluna. Dia terlalu tidak peduli dengan akhirnya selama dirinya sendiri aman. Kau tahu? Dia egois sekali dan sialnya mereka terlalu cocok."
"Jadi?"
Maggie memijit pelipisnya. "Jadi, tolong katakan pada mereka untuk tidak mempermalukan diri sendiri seperti ini."
"Tapi mereka tidak akan peduli. Kau sudah dengar cerita soal Erina bukan? Gadis itu pasti sangat terluka karena mereka berdua."
Maggie menghela napas panjang dia menatap jauh ke lapangan di mana ada Arsalan dan juga Aluna sedang duduk. Bukan hanya duduk, tapi melakukan ritual aneh lain. Arsalan memegangi payung hitam dan juga kipas angin portabel mini warna pink agar Aluna tidak kepanasan sementara gadis itu sibuk berbincang dengan boneka babi yang lagi-lagi dikelilingi mawar. Untung saja tidak ada yang mau repot-repot melaporkannya ke guru karena, ya, mereka takut disantet. Keduanya sudah mirip anggota sekte sesat.
"Hei, menurutmu, apa roh babi benar-benar bisa marah?" tanya Aluna pada Arsalan.
"Aku tidak tahu, sayang. Aku tidak pernah bertemu dengannya," sahutnya sambil memberikan keripik kentang pada Aluna.
Aluna membuka mulutnya dan mengunyahnya. "Jangan panggil aku sayang! Itu menggelikan," sewot Aluna kesal.
"Oke, beb."
"Sialan kau! Tidak bisakah kau normal sedikit? Kenapa kau ikutan gila sepertiku?" rengek Aluna frustrasi. Dia juga bingung. Kenapa Arsalan mau-mau saja menemaninya melakukan ritual aneh yang belum tentu berhasil ini. Dia bahkan tidak bertanya dan malah memberikan pelayanan terbaik untuknya. Dia seperti idiot.
"Kau mau aku normal? Itu mungkin berbahaya, sayang." Arsalan meniup telinga Aluna. "Aku akan menggila. Kau mau melihatnya?"
Aluna bergidik. "Tidak, terima kasih." Aluna menatap boneka babi di depannya dan meringis. "Bagaimana caraku mengetahui perasaan orang itu ya?"
"Tentu saja bertanya."
Aluna menoleh menatap Arsalan yang balas melihatnya. "Bertanya? Apa dia akan menjawabnya?"
"Jika kau menanyakannya dengan perlahan dan suasana hatinya juga baik, tidak ada yang tidak akan dijawab oleh orang yang ingin kau ketahui perasaannya."
Aluna diam. Dia menepuk-nepuk lengan Arsalan dan tersenyum lebar. "Astaga, kenapa aku tidak kepikiran soal itu?"
"Kau 'kan bodoh!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Beware of The Villain
Fiksi RemajaFOLLOW AKUN SAYA SEBELUM BACA ❤️ BACA AJA DULU SAMPE 10 CHAPTER! NOTE : DIALOG DAN NARASI PAKAI BAHASA BAKU. ---- Sena lebih suka bercengkerama dengan karakter fiktif penuh akan drama dalam buku novel dibandingkan bersitatap dengan manusia nyata...
