Bantu share dengan rekomendasiin cerita ini di sosmed kalian ya, kaya tiktok, ig, Twitter, fb, dll. Makasih ❤️
****
Ia ingin sedikit merasakan apa yang orang-orang itu. Istilah gaulnya itu galau. Dia ingin seperti orang lain yang mendengar lagu-lagu sedih dan membuat raut murung sepanjang hari walaupun tidak tahu apa yang ingin dia pikirkan. Tetapi Aluna harus mengurungkan niatnya itu. Bukan karena dia sadar dia tidak memiliki seseorang untuk diratapi tapi karena ada bocah setan yang terus saja membuatnya geram. Sejak bel istirahat berbunyi, Allen sudah datang. Pemuda itu menghampirinya dan mengekor padanya yang tentu saja diikuti kedua temannya. Ini menyebalkan! Sungguh.
Dia juga tidak bisa leluasa karena ada lima orang lagi yang mengikutinya seperti anak itik baru belajar berenang.
Ctak!
Sumpit yang tadi dia apit, ia letakkan ke meja dengan cukup kasar dan menimbulkan suara keras. "Apa kau bisa berhenti?" semburnya pada Allen. "Berhenti bertingkah aneh dan menyingkirlah dari hadapanku!"
Allen yang sedang berusaha menyuapi Aluna tak mengindahkan ucapan gadis itu dan semakin semangat mendekatkan pentol bakso bulat yang sudah ditusuk dengan sumpit. "Aaaa, buka mulutmu kak. Ayo, ayo, buka, aaa. Cepat!"
"Pergi."
"Kak, kenapa? Kau malu? Astaga, tidak perlu malu. Cepat buka mulutmu biar adik kesayanganmu ini yang menyuapimu," Allen tersenyum lebar. "Jadi aaaa, ayo, buka mulutmu!"
"YAK SIALAN! CEPAT PERGI SEKARANG JUGA!" bentak Aluna sambil berdiri dan mengacungkan satu sumpit pada Allen seolah menunjukkan jika ia siap menusuknya kapan saja.
Allen terkesiap kaget dan menelan bulat bakso itu ke dalam mulutnya sendiri kemudian berlari pergi sambil membawa mangkuknya yang tentu saja diikuti oleh temannya. Aluna duduk dan memijit kepalanya. "Astaga, kenapa hidupku seperti ini?" rintihnya putus asa.
Maggie terkikik geli. "Hidupmu sangat ramai, Aluna. Aku iri padamu. Lagipula Allen itu cukup manis walaupun kelakuannya sedikit gila," ujarnya sambil tertawa.
"Tentu saja dia gila bukan cuma sedikit gila. Dia itu mirip sekali dengan kakaknya!" sahut Edgar tanpa beban.
Aluna menatapnya dengan tajam membuat pemuda itu terpaksa menutup mulutnya. "Kenapa kalian di sini lagi sih?" sungutnya sambil menatap keempat teman Arsalan yang sedang duduk mengelilinginya sampai-sampai meminjam kursi tetangga sebelah. Kantin sangat luas kenapa mereka lagi-lagi mengikutinya, kenapa?
"Aku tidak nyaman jika bersama Erina," sahut Eros terang-terangan.
Axylo menunduk. "Aku juga," ujarnya pelan.
"Aku hanya ikut mereka. Aku tidak tahu harus kemana," jelas Delon dengan tidak tahu malunya.
Edgar tak menjawab. Pemuda itu hanya diam dan memakan makanannya. Aluna menatap satu persatu teman Arsalan dan mengusap kasar wajahnya. Dia bisa gila. Dia kira terbebas dari Arsalan akan membuatnya tenang namun dia salah besar. Tidak ada kedamaian yang bisa dia rasakan setelah menetap di wescanta. "Apa aku keluar negeri saja, ya?" ujarnya pelan namun didengar oleh kelima orang itu.
"Aluna, kau tidak perlu putus asa seperti itu. Sebentar lagi Arsalan juga tidak akan mengurus Erina lagi."
Aluna menatapnya dengan aneh. Apa sih?
"Dia itu hanya melakukan tanggung jawabnya. Setelah dia selesaikan, dia akan kembali pada kita," tambah Axylo dengan wajah kalem.
"Memang Arsalan mau ke mana? Dia menghamili siapa?" celetuk Delon polos yang sontak saja membuat Eros menepuk mulutnya dengan tangannya. "Hei!"
Eros menatap Aluna. "Jangan dengarkan Delon. Dia itu sinting. Kami serius, Aluna. Arsalan akan kembali setelah dia membuang rasa ragunya itu."
Aluna tersenyum malas. Sungguh, dia tidak tahu harus apa lagi menghadapi orang-orang bodoh ini. Gadis itu mengalihkan pandangannya dan tak sengaja bertemu tatap dengan Arsalan. Mereka bersitatap selama beberapa saat namun Aluna segera memalingkan wajahnya ketika menyadari Erina juga melihatnya. Tanggung jawab? Apa maksudnya? Sejujurnya Aluna sedikit penasaran dengan pemuda itu. Dia tidak tahu dengan jelas ikatan Erina dan Arsalan karena hal itu tidak dikatakan oleh si pengarang. Dia hanya mengatakan Erina adalah tanggung jawab Arsalan sebelum dia membunuhnya.
"Memang sebenarnya apa hubungan mereka berdua?" tanya Maggie seakan menyuarakan isi hati Aluna.
"Erina pernah menyelamatkan Arsalan yang terluka saat dikejar Damon. Kau tahulah. Kami suka berselisih." Eros menjeda kalimatnya untuk membasahi bibirnya. "Erina dulu juga di sekolah echostar. Damon marah saat tahu jika Erina menyelamatkannya karena itu dia membullynya. Erina yang tidak tahan memutuskan untuk pindah kemari dan itu juga dengan bantuan Arsalan. Sejak saat itu Arsalan merasa bertanggung jawab tentang keadaannya yang selalu terancam bahaya karena kelakuan Damon," Eros menyahut dengan perlahan sembari memilih kata yang tepat untuk menggambarkan rasa tanggung jawab menurut Arsalan.
Walaupun sebenarnya Eros juga tidak tahu apa yang Arsalan pikirkan. Saat di tanya dulu Arsalan hanya menyahut. Dia temanku saat kecil. Dia yang menyelamatkanku. Aku akan menjaganya sebentar.
"Tapi kenapa kalian mengatakan jika dia akan segera menyudahi rasa tanggung jawabnya itu?" Maggie menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya di udara saat kata 'tanggung jawab' dia ucapkan seolah untuk memberikan tanda petik. "Lagipula Arsalan sangat aneh. Dia memperlakukan Erina seperti kekasihnya. Kupikir itu bukan sekedar rasa tanggung jawab."
"Karena dia mulai merasa ia sudah cukup melakukannya," sahut Eros dengan yakin. "Dia selalu melamun beberapa hari terakhir dan bergumam tidak jelas. Seolah dia sedang memikirkan sesuatu dengan keras. Dia bertingkah aneh."
"Untuk masalah perlakuannya itu, sepertinya karena Erina teman masa kecilnya." Kali ini Axylo yang menyahut. "Erina selalu mengungkit kenangan mereka saat masih kecil jadi Arsalan bersikap baik padanya."
"Bukankah dia terlalu licik?" sahut Maggie yang sontak membuat Aluna menyenggolnya. "Apa? Aku benar. Jika dia benar-benar tulus menolongnya maka dia tidak akan mengungkitnya terus menerus. Dia akan melepaskannya. Menolong itu sifat lumrahnya manusia. Untuk masalah ia dibully, bukankah itu sudah lewat dengan dia pindah di sini? Dia sudah bahagia di sini untuk apa tetap memikirkan kejadian yang sudah tidak ada?"
"Pembullyan bukan masalah yang sepele, Maggie. Kau tidak pernah tahu rasanya menunggu setiap hari agar orang-orang terkutuk itu menghilang dari duniamu. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menahan semua rasa sakit dan bertingkah seolah baik-baik saja. Kau tidak tahu rasanya ingin membunuh dirimu setiap hari. Kau tidak tahu itu!" sentak Aluna tanpa sadar.
"Hei, tenang kawan. Aku hanya menyuarakan pendapatku, oke?"
Aluna menghela napas panjang dan mengusap kasar wajahnya. "Maaf, aku kehilangan kendali."
"Tidak. Kau benar. Aku memang salah. Aku tidak tahu apa yang dirasakan korban pembullyan karena aku tidak pernah merasakannya jadi aku tak sengaja menghakiminya tanpa berpikir panjang." Maggie menyentuh kening Aluna dan terkesiap kaget. "Kau sedikit panas. Apa kau demam? Apa kau masih merasa takut karena penculikan itu?"
Keempat teman Arslan sedikit was-was. Mereka memang sengaja tidak mengungkit apapun soal itu karena khawatir membuat Aluna takut. Damon benar-benar sangat bersih. Mereka tidak memiliki bukti jadi mustahil menuduhnya sembarang. Aluna juga diam saja saat polisi menanyakannya, itu yang mereka ketahui. Sepertinya dia sadar melawan Damon juga butuh bukti konkret yang tidak akan bisa dibantahnya. Jika Aluna menuduhnya sekarang mungkin saja dia dan keluarganya yang akan celaka.
"Aku baik-baik saja." Aluna bangkit. "Aku hanya butuh istirahat sebentar." Dia melangkah perlahan namun tiba-tiba saja kepalanya diserang pusing. Perutnya bergejolak mual dan pandangannya mulai kabur. Tubuhnya perlahan lemas dan dunianya berubah gelap. Aluna jatuh pingsan.
****
Terima kasih banyak udah baca
Jejak yok jejak 🥺
KAMU SEDANG MEMBACA
Beware of The Villain
Fiksi RemajaFOLLOW AKUN SAYA SEBELUM BACA ❤️ BACA AJA DULU SAMPE 10 CHAPTER! NOTE : DIALOG DAN NARASI PAKAI BAHASA BAKU. ---- Sena lebih suka bercengkerama dengan karakter fiktif penuh akan drama dalam buku novel dibandingkan bersitatap dengan manusia nyata...
