38

42.5K 7.8K 844
                                        


Aku tulis apa yang aku suka 🙏🏻
Aku udpate sesuka yang aku suka 🙏🏻
Aku hidup seperti yang aku suka 🙏🏻
Aku marah sesuka yang aku suka 🙏🏻
Intinya ya aku suka aja gitu🙏🏻

BTW di sini ujan, cuma ngasih tau aja sih.

BANTU SHARE KE TIKTOK, TWITTER, IG, DAN SOSMED LAIN YUK 🙏🏻

MAKASIH ❤️

HAPPY READING

***

"Aku tidak tahu jika kau berani menginjakkan kakimu di sini, Arsalan."

Aluna dan Arsalan menoleh, menatap Damon yang sedang melihatnya dengan sinis. Celaka. Dia tidak mengharapkan ini. Aluna hanya datang untuk mengamati Nesta. Kenapa setan itu juga ada di sini? Aluna tidak mendengar kabar jika Damon sudah bersama Nesta.

"Aluna?"

Aluna menatap Nesta di sisi Damon yang kini juga balas melihatnya. "Halo!" sapa Aluna berusaha seriang mungkin.

"Astaga. Kupikir kau sudah melupakan kami setelah pindah." Nesta melirik Arsalan yang ada di samping Aluna dan menatapnya dengan pandangan bertanya. "Dia?"

"Milikku. Ah, sial. Bukan, maksudku dia kekasihku. Em, semacam itulah," sahut Aluna dengan cepat. Ia mengabaikan tatapan Arsalan yang melihatnya dengan pandangan meledek.

"Oh astaga. Pantas saja kau menemuinya sebelum pertandingan hari itu, ya?"

Tubuh Aluna menegang. "Kau melihatnya?"

"Tentu saja. Kami juga sempat berpapasan."

Aluna melirik Arsalan yang kini tersenyum manis ke arahnya. Apa ini? Dia tidak tahu apapun tentang ini. Bukankah itu berarti dia sudah pernah bertemu dengannya. Mereka sudah pernah bertemu! Itu berarti alur novelnya sudah berjalan dan dia, siapa dia? Apa posisinya di sini? Dia tetap figuran tapi apa perannya? Di mana dia harus berada? Jantung Aluna bertalu keras hingga membuatnya sedikit sesak. Wajah pucat Aluna membuat Nesta dan Arsalan cemas.

"Kau baik-baik saja?" tanya Arsalan sambil menyentuh lengan Aluna namun gadis itu dengan cepat menepisnya dan membuat Arsalan terkejut.

"Aku baik-baik saja." Gadis itu beranjak dengan panik. "Maafkan aku, kurasa aku harus segera pergi."

"Tunggu, urusan kita belum selesai." Damon menyeringai dan menyentuh lengan Aluna. "Kau mau ke mana?"

"Minggir!"

"Apa?"

"Kubilang minggir kau, setan sialan!" maki Aluna sambil menghantam hidung Damon dengan tangannya. Dia cemas dan juga panik. Dia tidak tahu. Kepalanya terasa kosong. Sementara Nesta yang melihat itu segera menghampiri Damon. Tak menyangka jika Aluna ternyata seberani itu memukul Damon. Padahal Damon terkenal sangat ditakuti di sekolah. Jujur, dia semakin takjub padanya.

Arsalan juga menyusulnya. Dia meraih tangan Aluna dan menahannya. "Aluna."

"Aku terlambat. Aku benar-benar sudah terlambat," ujarnya dengan suara bergetar. "Arsalan, bagaimana ini, apa yang harus kulakukan? Kau, kau, apa, apa yang harus kulakukan padamu?"

Arsalan memeluk Aluna. Dia tidak mengerti. Dia tidak tahu kenapa Aluna menangis. Apa dia melakukan kesalahan? Apa yang terjadi?

Aluna menepuk pundak Arsalan dan membersihkan jejak air mata di bawah bulu matanya. "Ayo pergi. Kita sudah aman," ujarnya sambil menaikkan kacamatanya yang tadi dia lepas.

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang