44

35.1K 6.5K 451
                                        

Update cuma minta disemangatin. Cepat semangatin aku !😼

BANTU VOTE, KOMEN, TERUS SHARE KE TIKTOK, TWITTER, IG, DAN SOSMED LAIN YUK 🙏🏻

MAKASIH ❤️

HAPPY READING

****

"KAU MELECEHKANNYA, SIALAN! KAU MENYENTUH NESTA!"

Arsalan yang baru saja tiba terkesiap ketika mendapat serangan dari Damon. Pemuda itu menghindar namun Damon menendangnya dari arah lain dan berakhir membuatnya tersungkur. Damon meraih kerah leher Arsalan dan menariknya. "Kubilang, jangan sentuh Nesta! Tapi beraninya kau memperkosanya!" sentaknya murka dan melayangkan pukulan bertubi-tubi diwajah Arsalan.

Arsalan tentu saja mengelak dan membalas. Perseteruan itu berakhir ketika Arsalan menekuk satu tangan Damon ke belakang dan menindih punggungnya dengan lututnya. "Jangan menuduhku. Aku tidak tahu apapun!"

"Berengsek. Jangan pura-pura tidak tahu! Kau memperkosa Nesta! Kau melecehkannya!"

Dunia Aluna seolah runtuh saat tudingan itu dilayangkan pada Arsalan. Awalnya dia memang menurut tidak keluar namun entah mengapa perasaannya tidak enak dan menyuruhnya untuk menemui Arsalan. Benar saja, sesuatu terjadi. Tatapannya bertemu pandangan dengan Arsalan yang kini melihatnya dengan tajam. Arsalan menekan Damon semakin ke bawah. "Aku tidak melakukannya!" ujarnya yakin.

"Lalu, katakan padaku saat rabu malam kemarin kau di mana? Katakan! Katakan padaku, berengsek!" sembur Damon histeris.

Arsalan mengerjapkan matanya. Dia tidak tahu. Yang ia tahu saat ia bangun di pagi hari dirinya sudah ada di pinggir rumah Aluna. Untuk hal yang selain itu, dia tidak mengingatnya namun Arsalan yakin, dia tidak melakukan hal picik itu. "Aku tidak melakukannya!" elaknya tajam. "Jika kau mau menuduhku seharusnya kau bawa buktinya padaku!" Arsalan melepaskan Damon dan beranjak mendekati Aluna yang masih bergeming dengan pikiran melayang jauh.

"Aluna, aku tidak melakukan itu. Percayalah!"

Damon menatapnya garang. "Kau lihat saja, Arsa! Aku akan membalasmu! Aku akan menghancurkanmu sama seperti yang kau lakukan padaku dan Nesta!" Tatapan Damon beralih pada Aluna. "Kau akan merasakan apa yang kurasakan!" Damon meludah sinis kemudian melenggang pergi usai memberikan tatapan tajamnya pada keduanya.

Tubuh Aluna lemas. Kakinya yang sudah gemetar dari tadi tak bisa lagi menahan bobot tubuhnya. Arsalan segera menyangga Aluna dengan tangannya namun gadis itu reflek menepisnya. Hati Arsalan tercubit. Sesuatu terasa menghantam dadanya dan membuatnya merasa sedih. Sementara Aluna segera sadar ketika melihat raut wajah Arsalan menarik tangan pemuda itu. "Arsa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu."

Arsalan menggeleng. "Tidak apa. Aku mengerti," lirihnya sambil menunduk.

Aluna mengigit bibir bawahnya. Ini terjadi. Ini benar-benar terjadi. Maksudnya, ia sudah menduga jika tidak mungkin alurnya akan terus berjalan seperti yang ia inginkan tetapi rasanya sangat sakit. Sungguh. Dia tidak bisa menerima itu.

"Apa kau bisa menjelaskan apa yang dia katakan?" tanya Edgar yang sedari tadi diam. Tangannya terkepal dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. "Katakan jika itu tidak benar!"

"Kubilang aku tidak melakukannya!" balas Arsalan kesal.

"Arsalan, selama beberapa hari ini kau selalu mabuk dan menghilang. Apa kau yakin itu bukan kau?" tanya Edgar lagi.

"HEI!" Arsalan mendekati Edgar dan mencengkeram kerah kaosnya. "Kubilang bukan aku!"

"Kalau begitu katakan di mana kau malam itu?" Eros memisahkan keduanya. "Axylo. Apa kau yakin dia pergi dengan taksi sendiri?"

Axylo mengangguk. "Dia lari sendiri karena itu aku kembali pada kalian. Malam itu, aku bersama kalian sampai pagi bukan?" jelasnya.

Delon mengangguk. "Dia bersama kita," timpalnya lebih lanjut.

Keempat temannya menatap Arsalan. "Kau tidak bersama dengan kami. Jadi, kau di mana?" tanya Edgar lagi.

Arsalan diam. Dia tidak tahu. Dia tidak ingat apapun. Kebiasaan minumnya yang buruk benar-benar menyusahkan. Arsalan mengacak rambutnya dan menoleh ke sekelilingnya. Berusaha menemukan orang yang diminta kakek untuk menjaganya dan mendengus kasar ketika menyadari orang itu sudah ditarik kembali oleh kakeknya karena permintaannya sendiri dengan mengatakan jika dia butuh privasi. Bodoh, dia merasa sangat bodoh. Ia menatap Aluna yang kini masih termenung dan menggenggam tangannya. "Aluna, percayalah. Itu bukan aku! Sungguh!"

"Arsa, bisa antarkan aku pulang? Aku tahu aku datang sendiri tapi sepertinya kakiku tidak bisa bergerak hehe," seloroh Aluna berusaha memaksakan tawanya.

Tidak seorang pun merespon candaan Aluna kecuali Arsalan yang segera menggendong gadis itu dan membawanya pergi.

Edgar mengusap wajahnya dan duduk di sofa dan menggeram pelan. "Menurut kalian apa Arsalan sanggup melakukan itu?"

Eros membasahi bibir bawahnya dan mengangguk. "Maafkan aku tapi Arsalan mungkin bisa melakukannya."

Axylo ikut mengangguk. "Dia bukan orang yang mudah." Dia tersenyum miris. "Dia terlalu angkuh."

Ketiganya menghela napas panjang berbanding terbalik dengan Delon yang justru mengernyit aneh. "Apa kalian benar-benar temannya? Kenapa kalian tidak mempercayainya?"

Ketiganya merasa tersentil namun mereka tidak bisa mengelak juga jika mungkin Arsalan benar-benar bisa melakukan hal yang Damon tuduhkan. Arsalan terlalu misterius untuk mereka.

Edgar mendongak menatap langit-langit kamar dan kembali mengingat pertemuannya dengan Arsalan saat masih di sekolah dasar.

"Astaga, lihat itu. Ada pengemis di sini!"

Edgar yang saat itu masih lugu dan juga penakut hanya diam ketika salah satu dari mereka mendorong tubuhnya hingga terjatuh di lantai. Edgar meringis namun dia juga tidak melawan.

"Wah, lihat tampangnya. Menyedihkan!"

Tiga orang anak itu tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka mengambil tas Edgar dan menumpahkan seluruh isinya ke lantai kemudian menginjak-injaknya.

Edgar hanya bisa menatap nanar buku-buku sekolahnya yang tergeletak mengenaskan di bawah sana.

"Apa yang kalian lakukan padanya?"

Mereka semua menoleh ketika tiba-tiba saja seorang anak muncul dibelakang.

"Wah! Ada anak pembawa sial datang! Ayo cepat pergi jika kau tidak mau celaka!" Salah satu dari mereka menendang Edgar. "Hih, ternyata pengemis ini temannya si sial. Menjijikkan!"

Edgar menatap Arsalan yang juga melihatnya. Arsalan mendengus kasar kemudian melenggang pergi begitu saja. Edgar memandang kepergian Arsalan dalam diam. Dia mendengar rumor soal Arsalan yang katanya pembawa sial. Semenjak itu Edgar tidak pernah diganggu. Arsalan tidak melakukan apapun namun Edgar merasa Arsalan sangat berjasa untuknya karena itulah dia mulai memperhatikan Arsalan.

Edgar merasa aneh ketika Arsalan dekat dengan bocah perempuan yang selalu mengolok-oloknya tetapi Edgar tidak bisa mengatakan apapun karena dia bukan siapa-siapa Arsalan. Mereka bertemu lagi saat menengah pertama dan Edgar bersyukur karena Arsalan sudah tidak dekat dengan bocah munafik itu namun, bocah itu kembali lagi saat menengah atas. Erina, perempuan menyebalkan yang tak disukainya.

"Dia teman pertamaku," ucap Edgar sendu. "Sekalipun kami tidak pernah berbagi rahasia dan dia selalu menjaga jarak seolah aku adalah orang asing. Dia tetap temanku yang berharga. Kuharap dia tidak melakukan hal keji itu."

Eros menatapnya dan Edgar balas melihatnya. Mereka saling memandang selama beberapa saat. "Kau tahu, kau ini cukup menjijikkan," kata Eros datar.

Edgar mengangguk. "Aku tahu," balas pemuda itu singkat. "Jangan katakan apapun!" semburnya pada Delon yang sudah siap mengutarakan pendapatnya.

Axylo menatap ketiga temannya dengan aneh namun dia juga menyetujui apa yang Edgar katakan. Arsalan teman yang berharga.

***

Terima kasih udah baca ❤️

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang