32

51.9K 9.6K 2.2K
                                        

Jadi kangen wattpad lama, pengen ada fitur privat lagi 🤣

Jangan lupa tekan bintang 🤗

Bantu share cerita ini ke tiktok, ig, fb, twitter, dll yuk! Makasih 😍

***

"Masuklah!"

"Kau pulang dulu!"

"Aku akan pulang setelah melihatmu masuk!"

"Tidak-tidak, aku akan masuk setelah melihatmu pulang."

"Menjijikkan," umpat Allen yang baru saja pulang dari minimarket di dekat rumahnya. Dia menatap kakaknya dan Arsalan yang berpelukan dengan mual. "Kalian benar-benar menjijikkan."

"Masuklah."

"Aku akan masuk setelah melihatmu pulang!"

"Ah sial. Bisakah kalian hentikan itu!" ujar Allen yang belum sepenuhnya masuk.

Arsalan dan Aluna saling menatap. Pemuda itu mengusap bibir Aluna dengan jempolnya. "Apa aku menculikmu saja ya?" Arsalan memeluk Aluna. "Aku tidak mau pulang."

"Apa aku akan diberi makanan yang enak?" tanya Aluna dengan kekehan di bibirnya.

"Tentu saja. Aku akan menggemukkanmu sampai kau mirip babi!"

"Lepas! Lepaskan aku sial! Dasar gila! Cepat pulang sana!" maki Aluna jengkel. Dia benar-benar sensitif jika Arsalan menyinggung perihal berat badan dengannya.

"Tidak mau." Arsalan menghirup bau lemon di tubuh Aluna dengan rakus. Aluna memiliki aroma yang menenangkan. Hidungnya yang sensitif menyukainya. "Aku ingin memakanmu."

Aluna memutar bola matanya malas. Dia mendorong dada Arsalan hingga pemuda itu terpaksa mundur dengan tidak rela. "Jika kau tidak mau pulang, ya sudah, aku yang akan pulang."

Aluna melangkah pergi namun setelah beberapa langkah, dia kembali dan mencium pipi Arsalan. "See you, tampan," bisiknya lalu bergegas lari masuk ke dalam rumah. Sementara Arsalan yang tadi membeku seketika terjatuh ke bawah sambil berpegangan di pintu mobil dengan ekspresi wajah merah sempurna. "Astaga, jantungku. Dia imut sekali," ujarnya sambil tersenyum lebar.

Aluna tersenyum bodoh sambil sesekali tertawa kecil. Dia nyaris terjungkal ke belakang ketika melihat Allen berdiri di ujung tangga dengan warna putih yang memenuhi seluruh permukaan wajahnya. "Kenapa kau lagi-lagi memakai maskerku tanpa izin? Kau tidak membuatnya berantakan bukan?" tudingnya kesal karena Allen memang suka membuat barangnya yang sudah dia tata rapi menjadi berantakan.

"Arsalan berbahaya."

"Aku tahu," sahut Aluna santai.

"Kak, dengarkan aku! Dia bahkan menempatkan beberapa orang untuk mengawasimu! Kau tidak akan tahu kapan rasa sukanya menjadi obsesi. Dia tampaknya seperti itu. Lagipula bukankah masih ada Erina? Gadis itu?"

Aluna diam. Jujur, dia terkejut akan apa yang baru saja adiknya sampaikan. Apa Arsalan sampai seperti itu? Dia mengawasinya? Tetapi sepertinya tidak. Jika itu kakeknya, dia akan lebih percaya. "Arsalan sudah selesai dengan gadis itu."

"Tidak mungkin. Kudengar dia cinta pertamanya. Dia sangat menyukainya!"

"Allen, Arsalan tidak memiliki siapapun." Allen terkesiap. "Kehidupan masa kecilnya rumit. Orang tuanya meninggal cepat. Dia hidup tanpa ada seorang pun yang membantunya mengusap air matanya. Aku sangat berterima kasih karena Erina sempat hadir tapi gadis itu tidak lebih dari sekedar itu. Aku percaya padanya."

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang