HAPPY READING 🥴
****
Digoda pemuda setampan Arsalan tentu saja membuat Aluna lemah. Tapi, dia tidak semudah itu jatuh. Ada banyak hal yang belum ia selesaikan.
Pertama bagaimana alur novel ini akan berlanjut. Walaupun ia telah merubah jalan cerita ini tetapi masih ada kemungkinan novel ini akan terus berlanjut. Karena roh penjaga itu saja tidak tahu apa yang direncanakan Dewa Takdir.
Yang kedua, permasalahan Arsalan dan Damon belum mencapai titik terang.
Dia belum menemukan alasannya dan itu membuatnya was-was dengan semua adegan kematian yang terjadi nantinya.
Ketiga, jika dia boleh jujur sebenarnya Aluna sudah sedikit lupa tentang cerita favoritnya ini. Ada beberapa plot hole yang dia lupakan. Iya, memang aneh. Katanya favorit tapi lupa. Tapi hei, dia ini manusia yang suka memilih memori. Otaknya seolah bekerja untuk menyimpan apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak, harus dibuang.
Lagipula Aluna benci kisah yang berakhir tragis. Dia membaca novel untuk menghilangkan kesedihannya di kenyataan kenapa dia juga harus menangis saat ingin menyenangkan hatinya? Jadi jika dia menemukan kisah yang menarik lalu berakhir menyedihkan maka dia hanya akan menyimpannya rapat-rapat tanpa mau membukanya kembali. Karena itu sama saja seperti membuka luka lama.
Aluna tiduran dengan tenang sambil bersedekap dada walaupun masih memakai kacamata hitam dan seragam. Ya, terserah saja jika dia melakukannya di kamarnya sendiri karena tidak akan ada yang melihat. Tapi, Aluna melakukannya di tengah lapangan futsal. Anak-anak yang sedang berolahraga jadi bingung harus menginjaknya atau tidak. Mereka juga jadi susah karena takut mengenai gadis itu. Sementara tidak ada guru yang menegur karena memang sedang cuti. Aluna sendiri melakukannya karena merasa akan ada ilham yang turun jika dia lakukan di tempat terbuka.
Allen ditemani Maggie di pinggir lapangan sedang menatap kakaknya yang gila sambil mengunyah makanan ringan. "Menurutmu, dia kenapa lagi?" tanya Maggie memulai obrolan.
"Entahlah. Dia kan memang sinting."
"Apa karena Arsalan?"
"Hei! Jangan bawa-bawa nama bajingan itu di depan ku! Aku membencinya!" tukas Allen dengan galak. Maggie menatapnya dengan aneh namun dia juga tidak mau mempermasalahkannya.
"Tapi Allen, aku perempuan. Aku juga tahu bagaimana seseorang yang sedang suka dan tidak. Kakakmu sepertinya sedikit menyukai Arsalan atau mungkin malah banyak."
Allen menyeringai dingin. "Kakakku tidak akan bersamanya. Dia sudah dijodohkan hahaha," ujarnya sambil tertawa lebar.
"Kubilang jangan mengarang cerita tentangku lagi, Allen."
Allen nyaris terjungkal ketika melihat sang kakak sudah berdiri di hadapannya. "Ah, kakak. Halo!" sapanya dengan hangat kemudian lari terbirit-birit saat Aluna ingin memberinya toyoran manis di keningnya yang lapang ini.
Aluna menghela napas panjang. "Sepertinya aku benar-benar sudah gila, Mag."
Aluna memeluk pinggang sahabatnya itu dan berhasil membuat Maggie bingung. Tidak biasanya si sinting ini tampak galau.
"Kenapa aku memilih di sini ya? Itu kan spontan karena terkejut tapi apa benar begitu? Bukankah aku memilih di sini karena aku lebih menyukai dunia ini ketimbang dunia nyataku yang berantakan itu. Aku bingung. Kepalaku sangat sakit."
Maggie mengelus rambut Aluna. "Apa kau mau bersenang-senang di club bersamaku?" ajaknya dengan prihatin.
"Si tolol ini," maki Aluna yang sontak mengundang tawa Maggie.
"Apa ini ada kaitannya dengan Arsalan? Kau menyukainya tapi dia masih terikat dengan masa lalu? Apa itu yang kau pikirkan?"
"Aku tidak menyukainya. Mungkin, sedikit?" sahut Aluna tak yakin. "Lagipula Maggie, aku bukan orang bodoh yang mau menerima seseorang sepertinya begitu saja. Dia itu terlalu misterius. Sekalipun kami sedikit dekat tapi Arsalan sama sekali tidak pernah membahas dirinya. Dia hanya mengatakan banyak omong kosong. Itu menakutkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Beware of The Villain
Teen FictionFOLLOW AKUN SAYA SEBELUM BACA ❤️ BACA AJA DULU SAMPE 10 CHAPTER! NOTE : DIALOG DAN NARASI PAKAI BAHASA BAKU. ---- Sena lebih suka bercengkerama dengan karakter fiktif penuh akan drama dalam buku novel dibandingkan bersitatap dengan manusia nyata...
